Prosiding

International Conference

on Indonesia Culture

Connectivity and Sustainability : 
Forstering Cultural Commons in Indonesia

Penguatan Pengetahuan Lokal Masyarakat dalam Kebencanaan Melalui Pengarsipan Digital

Ainar Tri Asita, S.Sos

Komunitas Seni Lobo

Gempa bumi yang disusul tsunami dan likuifaksi pada 28 September 2018 lalu di Sulawesi Tengah menyebabkan korban jiwa hampir 2000 lebih, kerusakan bangunan dan infrastruktur. Bencana   yang terjadi di Sulawesi Tengah memperlihatkan sebuah kompleksitas bencana yang masih begitu jauh dari apa yang telah diupayakan oleh negara selama ini. Bukan hanya soal teknologi mitigasi yang sangat perlu ditingkatkan, namun juga budaya dan tradisi masyarakat turut berperan dalam meminimalkan resiko bencana. Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya dan pengetahuan lokal beragam. Pengetahuan lokal tersebut lahir sebagai wujud dari adaptasi masyarakat dengan perubahan lingkungannya. Saat ini tak banyak yang tahu tentang tradisi lisan di daerahnya masing- masing, terlebih lagi tradisi lisan tersebut ternyata menjadi salah satu bentuk pengetahuan lokal dalam kebencanaan. Saat ini tradisi lisan telah banyak ditinggalkan dalam mitigasi bencana padahal ini sebenarnya membantu masyarakat lokal dalam pertahanan diri yang ditimbulkan oleh bencana. Di Sulawesi Tengah, pengarsipan budaya belum menjadi prioritas sehingga banyak peristiwa sejarah budaya bahkan yang berkaitan dengan kebencanaan sekalipun tak terdengar kisahnya oleh masyarakat kebanyakan. Tak banyak yang peduli dengan tradisi lisan di daerah ini hingga ketika bencana gempa 28 September 2018 lalu, ada beberapa wilayah yang terselematkan dari ingatan-ingatan masyarakat lokal tentang tradisi lisan. permasalahan dari penelitian ini adalah bagaimana pengetahuan lokal khususnya berkaitan dengan kebencanaan dapat diarsipkan secara digital dan bagaimana pengarsipan digital menjadi salah satu strategi mitigasi bencana. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang mengambil lokasi di 3 wilayah Kabupaten Provinsi Sulawesi Tengah. Hasil akhir dari penelitian ini melahirkan pengarsipan digital kebencanaan berbasis kearifan lokal melalui sebuah Aplikasi yang memudahkan pengguna untuk mendapatkan sejarah, mitigasi dan literasi kebencanaan berbasis lokal, peta kebencanaan yang akan sangat bermanfaat bagi penyelamatan aset budaya serta tradisi tutur masyarakat lokal terhadap kebencanaan.

Kata Kunci : Tradisi Lisan; Kebencanaan; Pengarsipan; Arsip Digital; Mitigasi; Kearifan Lokal; Budaya; Aplikasi.

PENDAHULUAN 

Latar Belakang

Gempa dan tsunami merupakan dua dari banyaknya bencana alam yang sangat mengancam di Indonesia. Bencana alam seperti tsunami dan gempa besar merupakan fenomena dengan siklus berulang yang artinya ratusan tahun lalu pernah terjadi, beberapa tahun belakangan terjadi dan di masa depan pasti akan terjadi lagi. Para ahli kegempaan dan tsunami di Indonesia telah banyak mengkaji potensi bencana dengan skenario terburuk, dan hal tersebut harus membuat kita bersiap kapan saja. Indonesia merupakan negara maritim dengan sebagian besar penduduknya tinggal di daerah pesisir. Wajib bagi masyarakat mengetahui potensi besar dari ancaman tersebut. Indonesia dikelilingi oleh tiga lempeng tektonik yang terus bergerak yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik (Hall, 2002). Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke arah utara dan menyusup ke dalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatif ke arah barat. Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga jika terjadi gempabumi dengan kekuatan besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami. Ketiga lempeng tersebut saling bergerak dan tidak pernah berhenti selama bumi berputar. Selain diapit oleh tiga lempeng, Indonesia memiliki banyak patahan (sesar) yang berukuran besar kerak bumi merupakan hasil dari aksi gaya lempeng tektonik. Salah satu daerah atau wilayah yang beresiko terhadap bencana ini dan memiliki sesar aktif adalah Sulawesi Tengah (Supartoyo dan Surono, 2008).

Sesar Palu-Koro adalah patahan aktif yang membelah Sulawesi menjadi dua, dimulai dari batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar hingga ke Teluk Bone. Sesar ini sangat aktif, pergerakannya mencapai 35 – 44 milimeter per tahun, kedua terbesar setelah patahan Yapen di Kepulauan Yapen, Papua Barat.

Kota Palu berkembang di atas sesar Palu Koro. Di dunia, ada tiga ibukota yang dilalui sesar aktif, yakni Palu (Sulawesi Tengah), Wellington (New Zaeland) dan San Fransisco (Califronia). Jika gempa besar terjadi, maka akan berdampak pada kehidupan sosial, politik, budaya dan ekonomi.

Catatan tentang bencana di lembah Palu sudah dimulai oleh seorang geolog bernama Eduard Cornelis Abendanon, seorang intelektual yang ditugaskan oleh Belanda mencatat segala hal tentang alam di wilayah koloni, melalui buku yang ia tulis dan terbitkan pada tahun 1915 di Leiden, Belanda, yang berjudul “Midden-Celebes-Expeditie ; Geologische En Geographisce Doorkruisingen van Midden- Celebes” (1909 – 1910). Geolog yang juga peneliti Sesar Palu Koro, Mudrik Rahmawan Daryono menyebutkan dalam catatan dari buku Abendanon tersebut bahwa peristiwa bencana gempa tahun 1907 terulang dan menjadi lebih besar pada tahun 1909. Sementara peristiwa 28 September 2018 menurutnya adalah siklus dari dua gempabumi tersebut.

Jika ada yang kurang lebih sama dengan peristiwa 28 September 2018 adalah gempabumi dan tsunami yang terjadi 52 tahun yang lalu, berpusat di Tambu, Balaesang, Pantai Barat, Donggala tepatnya pada 14 Agustus 1968. Peristiwa yang sama dalam perihal skala 7,4 Magnitudo serta tsunami menjalar hingga ke Teluk Palu. Gempabumi dan tsunami juga pernah terjadi di pesisir pantai barat Donggala adalah pada 1 Januari 1996 di Simuntu-Pangalaseang dengan tinggi tsunami mencapai 4 meter dan terjadi penurunan di daratan pantai Desa siboang, Kecamatan Sojol.

Peristiwa demi peristiwa tersebut, menuntut kita agar bisa hidup harmonis dengan alam. Pola-pola mitigasi bencana sebenarnya sudah dipraktekkan oleh masyarakat Suku Kaili sejak lampau, melalui pengetahuan lokal yang mereka miliki. Pengetahuan lokal ini berkembang pada masyarakat melalui tradisi lisan atau dalam bahasa kaili disebut tutura (bertutur) yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan lokal tersebut meliputi : Sastra Lisan, seperti dadendate, kayori dan lain-lain; kemudian toponimi atau penamaan rupa bumi berdasarkan peristiwa alam, tipologi lahan, peristiwa sejarah, pengetahuan penanda dari alam serta nama tumbuhan atau hewan.

Dua tahun setelah bencana gempabumi 28 September 2018, baik Palu, Parigi Moutong, Sigi dan Donggala sebagai daerah berdampak, nampak telah mengalami pembenahan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah walaupun belum mencapai 100%, mulai dari perbaikan infrastruktur, pemberian layanan birokrasi hingga pelayanan terhadap masyarakat korban bencana berupa dana stimulan dan hunian tetap. Namun, yang masih menjadi perhatian besar hingga kini adalah kebutuhan pengetahuan masyarakat mengenai mitigasi bencana.

Pengetahuan mitigasi saat ini menjadi kebutuhan serius karena masyarakat mulai menyadari resiko- resiko yang ditimbulkan oleh bencana. Sudah menjadi suatu keharusan bahwa banyak kemungkinan resiko yang dialami pada saat bencana erat hubungannya dengan pengetahuan masyarakat mengenai mitigasi. Peningkatan kapasitas pengetahuan mitigasi bencana baik itu yang bersumber dari kearifan lokal maupun pengetahuan menjadi kebutuhan yang mendesak.

Warisan pengetahuan lokal dalam kondisi bencana mulai menjadi perhatian setelah gempabumi 28 September 2018, disusul tsunami dan likuifaksi di Desa Petobo, Jonooge, Balaroa dan Sibalaya. Likuifaksi ini mengakibatkan ratusan bahkan ribuan rumah tenggelam. Masyarakat lokal menyebutnya Nalodo (terkubur di bawah lumpur). Masyarakat lokal yang memiliki ingatan tentang Nalodo ini memilih untuk tidak menetap di Petobo ataupun Balaroa, karena sejarah bencana di dua lokasi tersebut sudah pernah terjadi puluhan silam.

Pengetahuan lokal tentang bencana sangat penting dikenalkan kepada masyarakat agar ada tindakan preventif yang maksimal dalam menghadapi bencana. Pengetahuan dan adaptasi masyarakat terhadap bencana berbasis pengetahuan lokal dapat dikatakan sebagai bagian dari proses komunikasi ritual. James W. Carey (2008) menekankan bahwa sebagai salah satu bentuk dan model komunikasi sosial (social communication), proses komunikasi yang terjadi dalam komunikasi ritual bukanlah berpusat pada transfer informasi. Sebaliknya, lebih mengutamakan dimensi berbagi (sharing) mengenai budaya bersama (common culture). Komunikasi ritual lebih menekankan pada upaya membangun kebersamaan dan pemeliharaan struktur masyarakat (Wijaya, Laturrakhmi dan Wahid, 2016). Jika dihubungkan dengan pengetahuan lokal dalam kajian bencana, maka komunikasi ritual bercirikan adanya penggunakan bahasa simbolik tentang pengalaman masa lalu masyarakat atas bencana itu sendiri. Bahasa simbolik ini tercermin dalam wujud permainan, tarian, kisah dan tutur lisan (Hadirman, 2016). Simbol komunikasi ini merupakan warisan turun temurun berdasarkan pada tradisi yang berlaku.

Di era 4.0 ini kekuatan digital dan menjamurnya media menjadi sebuah ruang pembelajaran baru. Saat ini tak banyak yang tahu tentang tradisi lisan di daerahnya masing-masing, terlebih lagi tradisi lisan tersebut ternyata menjadi salah satu bentuk kearifan lokal dalam kebencanaan. Kesadaran akan pengetahuan lokal sebenarnya bisa menjadi modal pemerintah guna mengidentifikasikan riwayat kebencanaan di Sulawesi Tengah. Pengetahuan seputar kampung-kampung tua (toponimi) yang aman di huni bisa menjadi basis tata ruang wilayah ataupun tradisi lisan yang menjadi penanda bencana. Jejak bencana di Sulawesi Tengah hanya termaktub lewat catatan kolonial Belanda pada awal abad

  1. Jejak bencana itu sama tuanya dengan usia Pulau Sulawesi. Sekarang akan menjadi tanggung jawab bersama untuk melakukan pencatatan dari rangkaian peristiwa bencana ini sebagai upaya mitigasi. Sebab bencana bisa terjadi dan berulang kapan saja, dimana saja dan akan melanda siapa saja. Hal ini membutuhkan proses dokumentasi dan penyebarluasan pengetahuan lokal karena masih terbatas pada sub etnik Kaili saja.

Persebaran ini bisa menjadi cepat dan tepat sasaran jika kita memanfaatkan teknologi digital dalam upaya mitigasi. Kurangnya pengelolaan kekayaan wawasan budaya tradisional untuk menjawab permasalahan kebencanaan, karena pasca gempabumi, tsunami dan likuifaksi yang melanda Palu juga beberapa Kabupaten terdekatnya di Sulawesi Tengah sangat disadari ternyata masyarakat tidak punya pengetahuan tentang mitigasi dan kebencanaan.

Perkembangan teknologi digital saat ini menumbuhkan beragam hal baru, diantaranya : koran digital, perpustakaan digital, sampai pada arsip digital yang juga sudah ditransformasikan ke perangkat lunak seperti software untuk komputer dan aplikasi untuk ponsel pintar (smartphone). Masyarakat saat ini menuntut untuk bisa mengakses informasi dengan cepat, praktis dan tentunya murah. Penyimpanan dan pemanfaatn arsip untuk sebagian orang mungkin dirasa kurang begitu penting, karena masih ada bahkan banyak orang-orang yang merasa puas dengan pengelolaan arsip secara konvensional.

Di era teknologi informasi saat ini, arsip digital menjadi begitu penting karena sangat menunjang untuk percepatan informasi. Hal ini bisa diterapkan pada strategi mitigasi dengan memanfaatkan pengetahuan lokal masyarakat didalamnya yang mudah diakses oleh beragam lapisan usia dengan memuat komunikasi-komunikasi ritual dan diintegrasikan dalam perangkat lunak digital.

Dengan demikian yang menjadi permasalahan dari penelitian ini adalah bagaimana pengetahuan lokal khususnya berkaitan dengan kebencanaan dapat diarsipkan secara digital dan bagaimana pengarsipan digital menjadi salah satu strategi mitigasi bencana.

Metode Penelitan

Bogdan dan Taylor dalam L.J. Maleong (2011 : 4) mengungkapkan, metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Sementara itu, Syaodih Nana (2007 : 60) metode penelitian kualitatif adalah cara untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Penelitian ini, diajukan untuk menganalisis dan mengungkapkan fenomena nilai-nilai pengetahuan lokal masyarakat tentang kebencanaan. Dalam mengumpulkan, mengungkapkan berbagai masalah dan tujuan yang hendak dicapai, maka penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analitis.

Sugiyono (2008 : 15) menyatakan bahwa penelitian kualitatif deskriptif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme yang biasanya digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif yang alamiah, dimana peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Sementara itu, Nawawi dan Martini (1994 : 73) mendefinikasan metode deskriptif sebagai metode yang melukiskan suatu keadaan objektif atau peristiwa tertentu berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana mestinya yang kemudian diiringi dengan upaya pengambilan kesimpulan umum berdasarkan fakta- fakta historis tersebut. Selain itu, studi deskriptif analitis menurut Winarno dalam Dadang Supardan (2000 : 13) adalah suatu penelitian yang tertuju pada penelaan masalah yang ada pada masa sekarang. Metode kualitatif dengan pendekatan studi deskriptif analitik yang dipakai dalam penelitian ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Sugiyono (2012 : 3), adalah metode kualitatif untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Metode kualitatif secara signifikan dapat mempengaruhi substansi penelitian. Hal ini menegaskan bahwa metode kualitatif menyajikan secara langsung hakikat hubungan antar peneliti dan informan, objek dan subjek penelitian.

Penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri atau karateristik yang hendaknya menjadi pedoman oleh peneliti, sebagaimana pernyataan Bogdan dan Biklen dalam Agustinus Ufie (2013 : 40) bahwa karateristik penelitian kualitatif diantaranya :

  1. Peneliti sendiri sebagai instrumen utama untuk mendatagi secara langsung sumber data,
  2. Mengimplementasikan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini lebih cenderung kata-kata daripada angka,
  3. Menjelaskan bahwa hasil penelitian lebih menekankan kepada proses tidak semata-mata kepada hasil,
  4. Melalui analisis induktif, peneliti mengungkapkan makna dari keadan yang terjadi,
  5. Mengungkapkan makna sebagai hal yang esensial dari pendekatan

 

Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa peneliti sebagai key instrument (peneliti utama) yang melakukan proses penelitian secara langsung dan aktif mewawancarai, mengumpulkan berbagai bahwan materi atau bahan yang berkaitan dengan penguatan pengetahuan lokal masyarakat dalam kebencanaan melalui pengarsipan digital.

Penelitian ini, peneliti melakukan langkah-langkah berikut : pengumpulan data, pengolahan data atau analisis data, penyusunan laporan penelitian serta menarik kesimpulan. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan hasil penelitian secara objektif, yang dilaksanakan dengan cara observasi, wawancara, pengumpulan data-data tertulis dan studio dokumentasi. Observasi dilakukan di tiga lokasi yaitu Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala, khususnya masyarakat yang berdampak langsung terhadap bencana baik pada peristiwa gempabumi 28 September 2018 ataupun bencana alam pada tahun-tahun sebelumnya. Hasil dari proses observasi dan wawancara ini ditambahkan dengan analisis awal oleh peneliti sebelum turun lapangan, sehingga dibuat kesmpulan yang berkenaan dengan pengetahuan lokal masyarakat dalam kebencanaan.

Dalam penelitian ini, subjek penelitian sebagai sumber data dipilih secara purpossive dan bersifat snowball sampling. Adapun subjek-subjek yang dimaksud adalah : Penyintas bencana gempabumi, likuifaksi dan tsunami (tahun 2018), Tokoh Adat dan Budaya, Tokoh Masyarakat. 

ANALISIS

Pengetahuan Lokal Masyarakat Kaili dalam Tradisi Lisan

Sibarani (2015), menyatakan bahwa tradisi lisan adalah kegiatan budaya tradisional suatu masyarakat yang diwariskan secara turun temurun dengan media lisan dari satu generasi ke generasi lain baik tradisi itu berupa susunan kata-kata lisan (verbal) maupun tradisi lain yang bukan lisan (non verbal). Ciri-ciri dari tradisi lisan dalam Tasnim Lubis (2019 : 52), diantaranya ; 1) kebiasaan berbentuk lisan, sebagian lisan dan bukan lisan; 2) merupakan performansi, peristiwa atau kegiatan sebagai konteks penggunaannya; 3) dapat diamati dan ditonton; 4) bersifat tradisional; 5) diwariskan secara turun- temurun; 6) proses penyampaian dengan media lisan atau “dari mulut ke telinga”; 7) memiliki versi atau variasi; 8) mengandung nilai-nilai budaya dan diangkat secara kreatif sebagai sumber industri budaya; 10) miliki bersama komunitas tertentu.

Finnegan dalam Tasnim Lubis (2019 : 52) menyatakan bahwa istilah tradisi umumnya dikaitkan dengan budaya sebagai keseluruhan tindakan dalam melakukan sesuatu. Tradisi lisan menunjukan jati diri komunitas yang memegangnya. Suatu aktivitas dikatakan tradisi lisan jika proses penyampainnya dilakukan secara lisan. Tradisi sering digunakan untuk sesuatu yang mengacu kepada miliki dari seluruh “komunitas” dibandingkan dengan individu atau ketertarikan grup; tidak tertulis, memiliki nilai atau (seringkali) dianggap kuno/ketinggalan atau untuk menandai identitas suatu grup.

Tradisi lisan sebagai media untuk menyampaikan pesan, gagasan serta pengalaman dalam lingkungan masyarakat, bahasa sebagai media komunikasi sangat menentukan corak suatu  budaya. Tradisi lisan mencakup segala hal yang berhubungan dengan sastra dan berbagai bentuk kesenian lain berupa ungkapan/pantun, nyanyian  ataupun  mantra  yang  berasal  dari  pengetahuan  masyarakat di lingkungannya, juga berkaitan sistem kognitif kebudayaan seperti sejarah, sistem nilai dan pengetahuan tradisional.

Etnis kaili dikenal dengan tradisi lisannya, jika menjelaskan asal usul tempat terjadinya peristiwa, makna dari syarat-syarat ritual bahkan asal usul benda budaya, melalui tradisi lisan. Disampaikan dari generasi ke generasi sehingga menjadi suatu tradisi lisan, berkaitan dengan usaha mengabadikan pengalaman-pengalaman dimasa lampau. Pewarisan tradisi lisan yang khas dilakukan dalam lingkungan kolektif sehingga timbul rasa kepemilikan utuh sebagai warisan budaya.

Pencatatan tradisi lisan ini dimulai pada abad ke-19 oleh bangsa Belanda dalam bidang sastra lisan dan seni tutur. Sebagian dari pembukuan tersebut diterbitkan, namun dalam Bahasa Belanda yang tentu hanya mudah dipahami oleh bangsa Belanda atau mereka yang mendalami bahasa Belanda, sebagian lainnya masih berupa naskah-naskah yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda. Tradisi lisan bagi masyarkat Kaili sebenarnya merupakan bentuk ekspresi budaya, yang didalamnya terkandung hukum yang menjadi acuan utama bagi masyarakat Kaili dalam tata cara berperilaku dan bermasyarakat.

Berbicara tradisi tentunya hal yang tidak akan pernah habis untuk ditelusuri, diungkap, dipelajari dan digali secara terus-menerus. Tradisilah yang menjadikan kita bisa seperti saat sekarang ini, hal-hal yang dipelajari secara menahun dari generasi ke generasi berikutnya. Dalam tradisi terdapat nilai yang wajib menjadi pegangan bagi kita, yang konon disebut sebagai pelaku, pewaris atau penyimpan tradisi tersebut, yang disebut sebagai pelaku, pewaris atau penyimpan tradisi tersebut. Memuat pelajaran penting yang disaat memasuki era globalisasi dan arus modernisasi seperti saat ini seakan menjadi hilang sedikit demi sedikit dan tidak bisa dipungkiri jika beberapa tahun kemudian akan benar-benar punah.

Kaitan erat tradisi lisan dan mitigasi bencana adalah terciptanya Kayori yaitu sebuah vokal tradisi saling sahut-menyahut tanpa instrumen. Pada peristiwa gempabumi yang mengguncang Palu dan sekitarnya pada 20 Mei 1938, memicu tsunami dan melahirkan kayori, satu dari ragam sastra lisan dalam masyarakat Kaili. Di dalam teks kayori tersebut menyebut tujuh nama kampung tua di pesisir Teluk Palu yaitu Ganti, Kabonga, Loli, Palu, Tondo, mamboro dan Kayumalue.

Goya-goya Gantiro (gempabumi di Ganti)

To Kabonga Lolio (dirasakan juga mereka di Kabonga dan Loli)

Palu, Tondo, Mamboro, notayomo (Palu, Tondo, Mamboro sudah tenggelam)

Kayumalue melantomo (Kayumalue mengapung)

Syair Kayori tersebut menjadi ingatan kolektif masyarakat Kayumalue dan sekitarnya. Bahkan pada saat peristiwa gempabumi 28 September 2018, tak sedikit orang-orang yang mengevakuasi diri dan keluarga mereka menuju Kayumalue. Mereka yakin bahwa Kayumalue merupakan daerah evakuasi yang aman sebagaimana kejadian tsunami di tahun 1938. namun hanya sedikit dari masyarakat Kayumalue yang bisa melagukannya. Dalam upaya mitigasi bencana berbasis lokal sebenarnya sastra lisan seperti ini akan mnejadi penting sebagai pengetahuan lokal bagi masyarakat untuk menghindari dampak korban yang lebih banyak dan kerusakan yang lebih besar dari bencana.

Dari bencana berulang seperti di Sulawesi Tengah ini, bisa menjadi sebuah bentuk membaca tanda alam. Hal inilah yang dilakukan oleh masyarakat Sirenja saat peristiwa gempabumi dua tahun silam. Belajar dari peristiwa gempa dan tsunami pada 15 Agustus 1968, warga di pesisir Sirenja (tepat berada di pusat gempa) telah melakukan evakuasi mandiri ke tempat tinggi sehingga tidak memakan korban jiwa yang banyak dibandingkan di pesisir Teluk Palu yang mencapai 1.600-an lebih hanya untuk korban tsunami saja.

Ada yang menarik dari tutura totua (cerita lisan orangtua) Kayumalue yang terus dikisahkan pada generasi dibawahnya tentang penggalan syair Kayori yang menurut tetua-tetua di Kayumalue memiliki versi gaib. Hal ini tentu saja akan mengundang banyak tanya dan ketidakpercayaan oleh generasi saat ini. Dalam syair “Palu, Tondo, Mamboro motayomo, Kayumalue melantomo” adalah penggalan syair dari seekor belut raksasa yang berada di Danau Lindu. Dalam versi Kayumalue, penggalan syair tersebut sudah ada sebelum gempa tahun 1938 sebagai peringatan untuk penduduk ri lembana (warga Lembah – Palu, Tondo dan Mamboro), bahwa suatu saat nanti lembana (lembah) akan kembali menjadi lautan seperti dahulu kala. Sehingga orang-orang tua Kayumalue meyakini bahwa Kayori ini telah ada jauh sebelum peristiwa gempa dan tsunami tahun 1938 tersebut.

Dimensi gaib dari syair Kayori dan juga maknanya, menjadi sangat di yakini oleh sebagaian orang Kayumalue dan luar daerah Kayumalue sendiri bahwa lembah Palu berasal dari laut dan akan kembali menjadi laut.

Toponomi, warisan pengetahuan lokal masyarakat Kaili

Pola bertahan hidup pada manusia saat ini tidak terlepas dari konsep tempat. Sebuah tempat yang ada di bumi dan memiliki karakteristik yang khas serta berbeda dari tempat-tempat lainnya. Toponimi dari suatu tempat merupakan hasil budaya, baik secara historis maupun simbolis. Toponimi suatu tempat merupakan kesepakatan bersama dan diturunkan antar generasi, sehingga untuk mengetahui makna dari sebuah nama tempat membutuhkan kajian budaya secara historis dan simbolis. (NB. Segara, 2017).

Toponim, secara harfiah dapat diartikan sebagai nama tempat di muka bumi. Dalam Bahasa Indonesia menggunakan istilah “nama unsur geografi” atau “nama geografis” atau “nama rupabumi”(Rais, dkk, 2008 : 4). Sementara, menurut Raper dalam Rais (2008), toponim memiliki dua pengertian. Pengertian pertama, toponim adalah ilmu yang mempunyai objek studi tentang toponim pada umumnya dan tentang nama geografis khususnya. Pengertian kedua, toponim adalah totalitas dari toponim dalam suatu region.

Maryani (2010 : 11), mengungkapkan bahwa tempat memiliki karateristik fisik dan manusia yang hidup di dalamnya dengan keberadaan lokasi suatu daerah sehingga menjadi branded of place, landmark, geonomic region, indikasi geografis yang tidak dapat dipindahlan dan menjadi kekhasan serta keunikan suatu tempat. Jadi unsur penamaan tempat tidak terlepas dari unsur aktivitas manusia baik itu kesan terhadap suatu fenomena geografis, ataukah peristiwa yang terjadi masa lampau. Yulius (2004 : 2) berpendapat, toponimi adalah ilmu atau studi tentang nama-nama geografis. Toponim itu sendiri mempunyai arti, penamaan unsur-unsur geografis. Nama-nama pulau, gunung, sungai, bukit, kota, desa, dsb adalah nama-nama dari unsur-unsur geografis muka bumi.

Toponimi sangat penting menjadi pengetahuan dasar atas tempat masyarakat tinggal, sehingga pengetahuan ini menjadi kewaspadaan. Pengetahuan toponimi suatu daerah inilah yang menjadi salah satu upaya mitigasi bencana. Perkembangan pembangunan di kawasan kota besar kian pesat. Hal  ini mulai nampak di awal 1980-an hingga tahun 2018, dimana perkembangan pembangunan tidak melihat kondisi geografis, banyak area yang semula rawa atau tanah yang berair, kemudian ditimbun dan diratakan untuk kebutuhan tempat tinggal. Demikian pula daerah pesisir pantai turut direklamasi.

 

Gambar 1. Peta Palu buatan Belanda (Museum Sulawesi Tengah, 2020)

Seperti halnya Kota Palu, kehadiran pendatang yang tinggal dan menempati suatu desa atau kelurahan tanpa mengetahui makna dari tempat tinggalnya. Melihat banyaknya peristiwa bencana alam dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, daerah-daerah yang telah dipaksakan untuk dibangun dan ditempati dikembalikan oleh bencana alam pada keadaan sebelumnya. Palu berasal dari kata Topalu’e yang artinya tanah yang terangkat, karena daerah ini dahulunya adalah lautan. Saat terjadi gempabumi dan pergeseran lempeng lautan tersebut terangkat dan membentuk daratan lembah yang sekarang menjadi kota Palu. Namun, ada istilah lain yang menyebutkan asal muasal Palu, berasal dari Bahasa Kaili, Volo yang artinya bambu. Konon, bambu ini tumbuh dari kampung Tawaeli sampai ke Sigi. Penamaan wilayah kampung/kelurahan yang ada di Kota Palu umumnya dilatarbelakangi fenomena geografis yang ada atau pernah ada di tempat tersebut, baik dari aspek fisik seperti sosial menurut Deni Karsana (2009), seperti berikut :

  • Nama kampung yang berasal dari unsur biologi berupa flora : Siranindi artinya daun cocor bebek, Nunu artinya beringin, Kamonji artinya sukun, Kayumalue artinya pohon malo, Talise artinya ketapang, Taipa artinya mangga, Birobuli artinya tanaman rerumputan untuk membuat rasa pahit pada saguer (sejenis minuman keras khas Sulawesi Tengah), Lolu artinya bagian pucuk pohon, Tavanjuka artinya daun mangkuk, Silae artinya ruas bambu, Lambara/Lambori artinya pandan hutan berduri, Lasoani artinya pohon
  • Nama kampung yang berasal dari unsur biologi berupa fauna : Besusu artinya siput
  • Nama kampung yang berasal dari unsur air : Layana artinya genangan air, Baiya artinya
  • Nama kampung yang berasal dari unsur geomorfologis (bentuk lahan) : Tatura artinya tanah runtuh, Tondo artinya tepi atau pinggiran di atas tanah longsor, Duyu artinya tanah longsor, Ujuna artinya ujungnya/tanjungnya, Buluri artinya di gunung, Kawatuna artinya banyak batu, Watusampu artinya batu asah, Kabonena artinya banyak
  • Nama kampung yang menyangkut tentang folklore (aspek sosial budaya) : Layana artinya orang yang kehausan dan menemukan genangan
  • Nama kampung yang menyangkut tentang gagasan atau harapan : Lere artinya
  • Nama kampung yang menyangkut tentang sejarah : Boyaoge artinya kampung yang ramai, Mamboro artinya tiupan angin.
  • Nama kampung yang menyangkut tentang aktivitas masa lalu : Tipo artinya menganyam tikar, Pengawu artinya mengobati. Pengetahuan tentang toponimi dalam pendekatan mitigasi bencana sangatlah diperlukan. Pengetahuan tentang toponimi ini akhirnya baru mulai menjadi perhatian masyarakat di Palu dan sekitarnya, pasca bencana gempabumi 28 September 2018, walaupun belum secara umum masyarakat memiliki

kesadaran untuk mengenali wilayahnya dalam kaitan sejarah kebencanaan di masa lampau. Menurut Arkeolog Palu, Iksam (2019) bahwa berbagai pengalaman para leluhur Indonesia, hidup akrab dengan bencana alam, sebenarnya dapat memberikan khazanah kepada masyarakat lokal pada generasi berikutnya. Misalnya, pada hal praktis, tidak menempati daerah yang pernah terjadi bencana alam untuk dijadikan pemukiman. Tempat atau daerah yang memiliki riwayat terjadinya bencana alam di masa lampau dapat terlacak oleh penamaan tersebut oleh para leluhur.

Pada abad ke 18, intelektual Belanda telah menggunakan kata Palu untuk menunjuk daerah Lembah Kaili. Palu adalah kota baru, DR. Kruyt menguraikan bahwa Palu sebenarnya tempat baru di huni orang (Gifvents Lasimpo : 2019).

Berikut beberapa toponim kampung yang memiliki riwayat atau sejarah bencana di Sulawesi Tengah, diantaranya :

  • Tagari Londjo

Kisah tagari Londjo ini kembali diperbincangkan pasca peristiwa likufaksi di Perumnas Balaroa. Masyarakat Balaroa dan sekitarnya menyebut Nalodo/Nalonjo berasal dari Bahasa Kaili yang berarti tertanam, karena wilayah Perumnas Balaroa ini dahulunya adalah rawa.

Konon menurut tutura orang tua, dahulu ada larangan keras untuk melintas di daerah Londjo ini. Para pedagang yang berasal dari Marawola (sekarang berada di wilayah administratif Kab. Sigi) yang hendak menuju Pasar Tua Bambaru (wilayah administratif Palu) akan memutar jalur melalui daerah Duyu karena masyrakat takut jika melewati Londjo, mereka akan tertanam lumpur. Padahal Londjo merupakan jalur tercepat menuju Pasar Tua di Bambaru.

Seiring berkembangnya Kota Palu, kampung Londjo pun mulai tersisihkan. Larangan-larangan yang dahulu berlaku pada daerah ini mulai diabaikan. Pada tahun 1980-an, pemerintah daerah dan investor mulai menjadikan daerah tersebut sebagai lahan pemukiman dengan melakukan penggusuran dan penimbunan lahan agar permukaan tanah menjadi labil dan keras sehingga layak untuk ditinggali yang kemudian dikenal Perumnas Balaroa. Peristiwa gempa 28 September 2018, akhirnya mengembalikan struktur tanah Londjo menjadi labil kembali melalui fenomena likuifaksi.

  • Jajaki

Dalam peta buatan Etnograf Belanda, AC Kruyt yang ia tulis berdasarkan catatan perjalanannya ke Lembah Palu tahun 1897, ia menuliskan satu daerah pernama Petobo. Sebelumnya Petobo ini bernama Jajaki. Jajaki merupakan tempat polibu atau bermusyawarah. Jajaki pun sempat menjadi ibukota Sigi sebelum pada akhirnya berpindah ke Djandja (Biromaru).

Wilayah Jajaki terdiri atas beberapa bagian, yaitu : Kinta, Varo, Nambo, Ranjabori, Pantaledoke, Popempenono, dan Kaluku Lei. Penamaan Petobo didasarkan pada peristiwa Taboge Bulava yang hendak dinikahi oleh pemuda Kaili Tara, dengan mahar akan dibuatkan saluran air dari Sungai Kawatuna. Namun, saat prosesi Petambuli (proses dialog sebagai salam hormat masuk rumah) mempelai Pria meninggal dunia, sehingga daerah tempat meninggalnya disebut Petobo yang artinya jatuh tertelungkup.

Terdapat juga folklore Petobo yang turun menurun pada masyarakatnya. Dahulu penduduk Petobo tidak boleh lebih dari 60 orang, jika lebih dari jumlah tersebut maka akan terjadi bencana dan penyakit sehingga jumlah penduduknya akan kembali menjadi 60 orang. Dari fenomena ini pernah dibuat upacara adat dengan menyusun sejumlah tongkat dan Guma (parang adat) untuk dijadikan Kinta. Sejak saat itu penduduk di Kinta dapat bertambah populasinya. Fenomena tersebut kembali terulang pasca likuifaksi 2 tahun silam, dimana Petobo terbawa likuifaksi namun warga di Kinta atau yang berlari ke arah Kinta, semuanya selamat.

Bagian lain dari Petobo adalah Nambo (sebelum likuifaksi berada di sekitar Jl. Mamara) yang merupakan nama Raja Loru yang hilang. Beliau dikabarkan hilang di Daerah Aliran Sungai Nggia dari Kapopo yang kemudian bertemu dengan Sungai Kawatuna menuju arah Levonu, daerah sekitar Mall Tatura dan Dunia Baru yang kedua bangunan tersebut rubuh karena gempa 2018.

Petobo dahulu hanya dipakai sebagai tempat berperang bukan untuk tempat pemukiman, karena didalamnya terdapat wilayah bernama Pantale Doke (tempat menyimpan tombak), sementara wilayah Ranjabori juga merupakan wilayah khusus perang. Sedangkan wilayah Petobo lainnya yaitu Kaluku Lei (sekitar Rumah Sakit Bersalin Nasana Pura) terdapat banyak pohon kelapa dengan buah berwarna merah.

  • Kaombona

Gempa dan tsunami yang menerjang Teluk Palu, 1 Desember 1927 menyisakan penamaan wilayah terdampak di Pesisir Teluk Palu. Penduduk lokal menyebutnya Kaombona, berasal dari kata Naombo yang berarti tercekung atau runtuh. Dalam memori kolektif masyarakat pesisir Palu, penyebutan Kaombona berawal dari turunnya permukaan tanah di sekitar pesisir Teluk Palu yang diakibatkan gempa berkekuatan 6,5 SR, menyebabkan kerugian 50.000 gulden serta 14 orang meninggal dunia dan 50 orang korban luka-luka.

Saat itu tinggi tsunami mencapai 15 meter dan di dasar laut juga diamati terjadi penurunan sedalam 12 meter yang menjadi awal daerah tersebut di sebut Kaombona (Ahmad Arif, dkk : 2007). secara spesifik Kaombona berada di pesisir, dimulai dari area Rumah Makan Heni Putri Kaili sampai ke Lokasi Polsek Palu Timur. Era 1970-an, penyebutan Kaombona mulai menghilang dan dijadikan arena Mottorcross yang dikenal dengan Sirkuit Tanah Runtuh. Namun, sejak 2016 Kaombona kembali digunakan untuk area tanah runtuh ini.

  • Kumbili

Kumbili merupakan nama tua dari Kayumalue yang diambil dari nama pohon yang hanya hidup di daerah itu. Selain tidak bisa tumbuh di tempat lain, pohon kumbili ini memiliki siklus hidup yang sangat unik karena hanya tumbuh dalam beberapa tahun, puluhan tahun kemudian akan mati dan sesudahnya akan tumbuh lagi.

Kumbili kemudian berubah nama menjadi Kayumalue. Kayumalue merupakan wilayah yang bersejarah karena dikenal sebagai tempat pecahnya Perang Kerajaan Palu dan Kolonial Hindia Belanda (1888) yang dikenal dengan peristiwa Kagegere Kapapu Nu Kayumalue. Saat peristiwa gempa yang disertai tsunami pada 20 Mei 1938, Kayumalue merupakan daerah yang selamat dan saat gempa 2018 banyak masyarakat yang berlari menuju Kayumalue dari terjangan tsunami karena mereka menganggap Kayumalue adalah lokasi teraman dari tsunami. Dari peristiwa 1938 ini, Kayori menjadi satu peringatan kepada sebagian masyarakat hingga saat ini.

 Sementara itu, beberapa toponim kampung yang menjadi sejarah dan pengetahuan mitigasi masyarakat dalam menghadapi tsunami :

  • Bombatalu (tsunami)

Dalam tutur masyarakat Kaili dikenal sosok Pue Nggari atau Lavegasi Bulava sebagai peletak dasar kerajaan Palu. Pue Nggari melakukan perjalanan menuju Pantosu (antara Poboya dan Vonggi) ke Kayulangga (Valangguni) kemudian mampir dan menetap di pesisir pantai (saat itu berada di area penggaraman).

Saat itu, Pue Nggari dan rombongannya berada di pesisir sempat diterjang tsunami, karena setelah dari lokasi pesisir ia memindahkan perkampungan dengan jarak ratusan meter ke arah selatan yang saat ini telah menjadi Kantor Kelurahan Besusu Barat. Dari peristiwa ini, tsunami dikenal sebagai bombatalu karena ombak bergulung tiga yang menghantam teluk Palu. Pue Nggari pun membangun benteng yang disusun dari batu karang lokasinya searah Patung Kuda sampai Rumah Sakit Mata. Dari sini jugalah kata Besusu mulai digunakan sebagai nama tempat/ wilayah (nisusu artinya disusun).

  • Makam Dato Karama : titik kumpul tsunami

Syekh Abdullah Raqie atau yang lebih dikenal Dato Karama, seorang mubalig dari negeri Minangkabau. Abad ke 17, ia menyebarkan Islam di Lembah Palu, saat itu Kerajaan Palu dipimpin oleh Pue Nggari. Pertemuan keduanya tertulis dalam buku AC. Kruyt dan N. Adriani, “De Bare’e Sprekende Toradja’s Van Midden Celebes”.

Melalui tutura orangtua di Lere, Dato Karama melihat bombatalu atau ombak bersusun tiga dari arah utara menuju Teluk Palu setinggi pohon kelapa, kemudian beliau berdoa dan melemparkan surbannya yang berwarna putih. Sesaat kemudian ombak tersebut terpecah menjadi dua menjauhi posisi yang saat ini menjadi makam beliau.

Dari tutura ini, masyarakat mempercayai bahwa kompleks Makam Dato Karama dianggap sebagai titik kumpul yang aman dari gelombang tsunami. Saat tsunami melanda Teluk Palu tahun 1938, semua keluarga kerajaan Palu di Lere diungsikan ke rumah Tjatjo Idjazah (depan Mesjid Nur saat ini), ternyata air laut hanya sampai tangga rumah raja Palu dan Makam Dato Karama tidak berdampak tsunami. Hal serupa juga terjadi saat bencana 28 September 2018, gelombang tsunami hanya menggenangi pintu gerbang kedua kompleks pemakaman, tidak sampai ke dalam lokasi pemakaman.

Pengarsipan Digital

Ingatan budaya, tidak diletakkan hanya di dalam satu kepala individu, melainkan di dalam ingatan kolektif suatu masyarakat dimana budaya tersebut diwariskan antar-generasi dan diinternalisasi     ke dalam ingatan setiap anggota masyarakatnya. Namun, itu akan menjadi terbatas ketika ingatan kolektif harus bersaing dengan ingatan-ingatan dari luar kelompoknya. Praktik-praktik kebudayaan pun menjadi hilang, sebagiannya berganti wujud melebur dengan budaya lain, dan sebagiannya lagi ditelan waktu atau zaman karena sudah tidak pernah dipraktikkan lagi.

Dari hal inilah, arsip budaya menjadi sangat penting sehingga ingatan kolektif sebelumnya bukan hanya bisa disimpan saja tetapi juga bisa disebarkan ke masyarakat yang lebih luas dan masih bisa diolah menjadi suatu produk pengetahuan baru.

Dalam Pasal 16 UU Pemajuan Kebudayaan menyatakan bahwa Inventaris Objek Pemajuan Kebudayaan meliputi, pencatatan dan pendokumentasian, penetapan dan pemutakhiran data. Sementara menurut ISO 5127 dalam Raistiwar Pratama (2020), informasi data yang diproses (processed), ditata (organized) dan berhubungan (interconnected) untuk menghasilkan makna.

Pengetahuan lokal menjadi bagian dari warisan budaya yang merupakan sumber informasi pembawa pesan masa lalu untuk generasi masa kini dan masa yang akan datang. Menurut Richard Pearce- Moses (2005 : 326), arsip adalah data atau informasi yang telah diperbaiki pada beberapa media yang memiliki isi, konteks dan struktur; dan itu digunakan sebagai perpanjangan memori manusia atau untuk menunjukkan akuntabilitas.

Kemajuan teknologi digital saat ini memberikan beragam manfaat di berbagai sektor kehidupan. Perkembangan teknologi digital juga menumbuhkan berbagai hal baru. Di era globalisasi, peran arsip digital semakin penting. Kesadaran sebagian masyarakat akan arti penting arsip digital, memaksimal peranan teknologi dalam kehidupan. Pengarsipan digital akan memudahkan masyarakat melakukan pencapaian inovasi termasuk didalam pengetahuan-pengetahuan masyarakat.

Informasi budaya dalam suatu komunitas masyarakat bisa menjadi manfaat luar  biasa,  bukan hanya masyarakat pemiliknya namun juga diluar komunitasnya. Namun, informasi budaya yang ditransformasikan melalui pengetahuan lokal masyarakat akan menjadi tertutup dan tidak dapat dimanfaatkan jika tidak memaksimalkan kemajuan teknologi informasi dan penerapan digital.

Kehidupan kita saat ini selalu bergelut dengan digital yang tentunya telah menjadi kawan yang selalu ada hal-hal baru atas pencapaian dari digital tersebut. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan untuk berinteraksi oleh manusia dengan manusia lainnya sehingga pada capaiannya memunculkan kelompok-kelompok masyarakat yang baru lagi yaitu masyarakat digital. Hadirnya teknologi digital bertujuan untuk mengefisiensikan peningkatan produktifitas manusia. Teknologi digital yang akrab dalam kehidupan kita saat ini adalah smartphone (gawai/ponsel pintar) juga komputer. Melalui kedua alat tersebut, banyak kegiatan yang bisa menjadi lebih cepat dan hasilnya lebih mudah untuk di akses.

Di era digital, pengelolaan arsip elektronik menjadi fokus dalam pengembangan pengelolaan sejumlah program perencanaan termasuk informasi budaya. Arsip elektronik dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan saat ini yang menuntut kecepatan berbagi, kemudahan akses dan fleksibilitas dalam berjejaring. Pentingnya lembaga budaya ataupun pemerintah daerah yang mengurusi bidang kebudayaan mulai beradaptasi untuk mengelola arsip elektronik.

Masyarakat Kaili yang memiliki budaya tutur dan dari tradisi lisan tersebut bisa didapatkan banyak pengetahuan lokal dan nilai-nilai moral dengan isi atau pesan yang sangat baik dan patut diteladani. Namun, hampir sebagian besar tradisi lisan di Sulawesi Tengah tidak terdokumentasikan dengan baik, bahkan arsip atau tulisan yang menyangkut hal tersebut begitu jarang ditemui sementara para tetua-tetua yang sebagai pelaku dari tradisi lisan tersebut kini telah berusia lanjut bahkan banyak juga yang telah meninggal dunia. Kita butuh pengarsipan berbasis digital untuk masalah ini agar generasi sekarang dan akan datang masih bisa mengetahui tradisi lisan di daerahnya.

Di Sulawesi Tengah secara umum dan Palu khususnya, pengarsipan budaya belum menjadi prioritas. Sehingga banyak peristiwa sejarah budaya di daerah ini hanya terdengar kisahnya secara sedikit dengan beragam versi. Tak banyak yang peduli dengan tradisi lisan di daerah ini hingga ketika bencana gempa dahsyat 28 September 2018 lalu, ada beberapa wilayah terselamatkan dari ingatan-ingatan mereka tentang tradisi lisan yang dituturkan oleh orang tua-orang tua dulu. Kayori salah satu bentuk tradisi lisan yang ada di Sulawesi Tengah, sebuah nyanyian rakyat yang menjadi mitigasi bencana. Bahkan saat bencana pun, tradisi lisan mampu menjadi benteng bagi masyarakat pemiliknya. Saat kita bersama mulai memikirkan pentingnya pengarsipan budaya ini agar terjaga dan dapat dinikmati oleh anak cucu mendatang.

Kurangnya pengelolaan kekayaan wawasan budaya tradisional untuk menjawab permasalahan kebencanaan, karena pasca gempa-tsunami-likuifaksi yang melanda Palu dan beberapa kabupaten terdekatnya di Sulawesi Tengah sangat disadari bahwa ternyata masyarakat tidak punya pengetahuan tentang kebencanaan. Kearifan lingkungan seolah terabaikan dan pada saat peristiwa gempa tersebut yang membuka mata bahwa ada yang keliru dari pengelolaan tata ruang kota yang turut memberi dampak dalam riwayat bencana.

Mengaitkan teknologi informasi komunikasi dengan keencanaan didalamnya melalui pengetahuan yang telah turun temurun lahir di masyarakat Kaili untuk menyelamatkan diri dari bencana. Sebenarnya dalam konteks wawasan kebangsaan sudah saatnya negara dan masyarakatnya sama-sama mengambil peran untuk penanggulangan masalah kebencanaan di negara kita.

Platform kebencanaan telah cukup banyak beredar di toko aplikasi ponsel pintar. Adapun fitur yang tersedia di aplikasi tersebut berupa informasi kejadian bencana, titik bencana, potensi membahayakan atau tidak. Kekurangannya adalah tidak ada fitur yang menunjukkan upaya mitigasi bencana seperti siasat evakuasi.

Salah satu bentuk mitigasi kebencanaan adalah dengan memahami kondisi alam di daerah tempat tinggal. Pentingnya informasi berbasis kearifan lokal ini diyakini mampu memitigasi masyarakat. Posisi Indonesia yang berada di cincin api atau ring of fire, yang mana merupakan jalur gempa teraktif di dunia. Tak heran jika dalam sejarah kelam bencana alam di dunia yang memakan ribuan hingga jutaan korban, Indonesia juga turut menjadi penyumbangnya. Sebagai konsekuensi hidup di negara yang dilewati cincin api ini memang membuat kita khawatir dan dituntut untuk selalu waspada. Tak dipungkiri pula, sulit untuk mengetahui kapan bencana alam akan terjadi. Karena memang hingga detik ini, belum ada peneliti yang mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi.

Pengarsipan digital yang termaktub dalam penelitian ini adalah penguatan pengetahuan lokal masayarakat dalam kebencaanan yang dapat diakses oleh masyarakat di tanah air khusus Sulawesi Tengah yaitu Aplikasi Budaya berbasis Kebencanaan. Sebelumnya, kita melakukan pengamatan singkat dengan beberapa aplikasi kebencanaan yang telah ada di Indonesia saat ini.

inaRISK. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengembangkan sistem aplikasi mendeteksi potensi bencana yang dapat diakses oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta masyarakat luas. inaRISK adalah sistem yang berbasis web dan aplikasi yang menampilkan risiko bencana yang ada di Indonesia. Informasi tersebut meliputi, informasi bahaya bencana dan apa tindakan yang harus dilakukan oleh masyarakat ketika terjadi sebuah bencana. Misalnya pada saat sebelum dan sesudah terjadi banjir, masyarakat dapat mengetahui tindakan yang harus dilakukan.

Tidak hanya itu, inaRISK juga memanfaatkan informasi-informasi dasar, seperti peta dasar dari Badan Informasi Geospatial (BIG), peta bahaya dari wali data misalnya peta banjir dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), peta tanah longsor dan gunung api dari Badan Metereologi. Jadi, inaRISK menggabungkan tiga informasi, seperti satu informasi bahaya, informasi kerentanan dan Informasi kapasitas apakah pemerintah daerah sudah memiliki peta bencana sudah ada apa belum, pemerintah daerah sudah memiliki perda bencana apa belum.

Info BMKG, adalah aplikasi resmi yang diluncurkan oleh BMKG. Ada beberapa fitur yang disediakan seperti notifikasi gempa bumi, peringatan dini cuaca, dan info aktual seputar BMKG. Pengguna juga bisa memperoleh informasi seputar prakiraan cuaca berdasarkan lokasi. Untuk informasi gempa bumi, hanya gempa bermagnitudo di atas 5 skala richter saja yang akan muncul sebagai notifikasi, dilengkapi dengan jarak epicentrum ke lokasi pengguna. Aplikasi ini bisa diunduh di Google Play Store atau iTunes. BMKG pun merekomendasikan untuk pengaturan lokasi ke mode High Accuracy, agar info yang didapat lebih akurat.

MAGMA Indonesia, diciptakan oleh tim pengembang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Di dalam aplikasi ini, terdapat informasi lengkap dan akurat, mulai dari aktivitas gunung api, letusan/abu vulkanik, hingga tanggapan mengenai gempa dan tsunami. Aplikasi adalah salah satu yang terbaik, dan telah mendapat beberapa penghargaan.

Siaga Bencana, adalah aplikasi khusus menghadapi berbagai macam bencara dari Palang Merah Indonesia. Dalam aplikasi tersebut, masyarakat diajak memahami langkah-langkah bertindak sebelum dan ketika bencana berlangsung. Aplikasi ini lebih menyerupai tutorial dan alat bantu perencanaan sebelum bencana melanda. Siaga Bencana merupakan aplikasi dari PMI yang memuat informasi untuk bencana tsunami, gempa bumi, banjir, dan badai topan.

Dari aplikasi-aplikasi gawai diatas, masih terbatas informasi akurat bencana yang akan dan telah terjadi. Sekarang kita juga melihat, seberapa informatifnya Aplikasi Budaya yang tersedia untuk gawai saat ini di Indonesia.

Budaya Indonesia, aplikasi ini berisi tentang macam-macam budaya Indonesia mulai dari pakaian adat, rumah adat, lagu daerah, dan tarian daerah yang disajikan dengan tampilan yang menarik untuk mendukung pembelajaran, sehingga siswa tidak mudah bosan dan siswa dapat belajar dengan tanpa ia sadari bahwa siswa sedang mempelajari keanekaragaman kebudayaan Indonesia yang dikemas pada media mobile Android.

Pineka, kepanjangan dari Pedia dan Bhineka. Aplikasi ini berfungsi untuk memperkenalkan budaya Indonesia, tempat destinasi, makanan dan minuman. Dengan aplikasi itu, tidak hanya memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat dalam negeri, tapi juga luar negeri. Keunggulannya, memungkinkan pengguna bisa membuat akun pribadi, ada kuis dan sosmed (sosial media). Seperti cerita yang terdapat di Instagram. Pengabungan dari aplikasi Cookpad dan Instagram.

Baik dari aplikasi kebencanaan maupun aplikasi budaya, belum ada yang bersinergi keduanya menjadi manfaat bagi satu dengan yang lainnya. Mengapa tidak, salah satu tindakan awal yang kita lakukan untuk pemajuan kebudayaan melalui lahirnya sebuah Aplikasi Budaya yang berbasis pada kebencanaan. Bukan hanya manfaat besar yang hadir pada konten-kontennya, namun dari aplikasi ini ada upaya untuk melakukan pengarsipan digital. 

Ingatan budaya, akan menjadi kolektif memori yang terus menjadi sebuah penguatan pada nilai lokal masyarakat. Dari penelitian ini, hasilnya akan menjadi sebuah aplikasi yang bisa diakses publik melalui gawai. Pengetahuan lokal masyarakat akan kebencanaan akan terarsip dengan baik pada aplikasi ini baik itu tradisi lisan, kesenian rakyat, toponimi. Aplikasi ini juga mengarsipkan literasi kebencanaan mulai dari riwayat bencana dari gempabumi, tsunami, banjir, longsor dan likuifaksi. Yang paling menarik terdapat Peta Budaya, pengguna aplikasi bisa mengakses aset budaya yang berada di titik rawan bencana, rumah seniman tradisi yang berada di wilayah rentan bencana, serta bangunan tradisional di sekitar peta bencana. Aplikasi ini juga menghubungkan masyarakat pengguna langsung pada BMKG agar bisa mengakses info terbaru gempabumi dan terhubung pula dengan akun pribadi pada beberapa media sosial. Satu Aplikasi dengan beragam manfaat, menjadi satu langkah awal untuk melakukan trik pengarsipan digital yang bisa dengan mudah untuk dikenalkan pada masyarakat pengguna ponsel terlebih lagi para remaja dan anak-anak. Penguatan pengetahuan lokal akan benar-benar terimplementasikan dengan baik dengan inovasi ini. Jika selama ini hasil dari sebuah penelitian hanya akan berakhir pada sebuah cetakan buku atau jurnal. Namun, peneliti menambahkan hasil akhir dari penelitian ini adalah sebuah aplikasi yang bisa diakses publik sebagai media baru mitigasi bencana, pembelajaran nilai budaya, penguatan pengetahuan lokal dan tentunya adalah pengarsipan.

  

KESIMPULAN

Pasca bencana Palu, Sigi, Donggala, Parigi kebutuhan pengetahuan mitigasi menjadi hal urgen   bagi masyarakat. Keterkaitan toponim suatu daerah dengan jejak bencana masa lalu sangatlah erat. Gempa dan tsunami merupakan dua peristiwa alam yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Sulawesi Tengah khususnya Palu. Secara geografis, Palu berada dalam jalur patahan (sesar) aktif yang membentang dari pusat kota hingga ke bagian selatan. Keadaan ini mau tidak mau membuat masyarakatnya harus berdamai dengan status kegempaan yang cukup tinggi. Di tengah ancaman serius, tidak mengherankan jika leluhur suku Kaili sebagai penduduk asli Palu menandai wilayah berbahaya berdasarkan riwayat bencana yang pernah terjadi sebelumnya di Lembah Palu.

Warisan pengetahuan/nilai lokal dalam kebencanaan telah lama di kenal oleh masyarakat Kaili sudah sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam yang merupakan warisan leluhur turun temurun mengandung nilai-nilai positif dan spiritual dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. Masyarakat Kaili merupakan suku yang mendiami wilayah di Sulawesi Tengah memiliki seperangkat pengetahuan lokal yang merupakan pola dari budaya Kaili, dimana perwujudannya bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari salah satunya pantangan (pamali) dalam bertutur.

BPPT dan LIPI mengungkapkan, selain meningkatkan teknologi peringatan dini bencana alam, pendidikan mitigasi bencana berbasis kearifan atau pengetahuan lokal sangat penting dilakukan bagi masyarakat khususnya yang tinggal di rawan bencana. DR. Adrin Tohari dari LIPI menegaskan bahwa teknologi sistem peringatan dini yang digunakan di Sulawesi Tengah sebelum terjadinya bencana masih belum efektif karena belum memperhitungkan pemadaman listrik. Menurutnya, jika ingin sistem peringatan dini bencana alam, khususnya tsunami, bisa efektif, maka harus menggunakan teknologi pemantauan bencana alam yang bisa beroperasi saat listrik padam dan perlu dilakukan peningkatan pemasangan perangkat peringatan di di wilayah pesisir dan perairan Kota Palu.

Selain meningkatkan sistem pemantauan gempa dan tsunami, penting juga untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan pemerintah daerah tentang bagaimana cara mengurangi resiko jika terjadi gempa dengan menggunakan pengetahuan lokal.

Peristiwa 28 September 2018, memberikan sebuah kesadaran baru bahwa bencana akan menjadi urusan bagi setiap orang bukan hanya negara. Sangat naiflah bila kita hanya berharap pada negara sementara pihak mereka tak pernah memprioritaskan soal kebencanaan di negara ini.

Bencana gempa diserta tsunami dan likuifaksi tersebut memberi sebuah kesadaran bagi kami bahkan mungkin pada setiap pribadi orang-orang yang menjadi penyintas bahwa inilah kesempatan hidup kedua yang tentunya kita bertanggung jawab untuk menjadi pencatat sejarah atas kebencanaan ini karena sesuatu yang juga hanya akan dikabarkan lisan cepat terbawa angin. Perlu ada sebuah catatan agar menjadi memoar bagi tiap orang yang telah menjadi korban ataupun saksi dari peristiwa tersebut. Gempabumi memilikinya siklusnya sendiri sehingga ada yang perlu kita tahu dari siklus tersebut yaitu tanggap darurat.

Kita mulai harus memahami bahwa kebencanaan termasuk gempa mempunyai tiga mas yaitu pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Dari sekian banyak peristiwa kebencanaan yang penting di daerah ini, masyarakat Palu belum punya pengalaman melewati situasi pasca bencana yang mengintai seperti kelaparan, pengangguran, konflik pertanahan, mental mengharap bantuan, korupsi, pelecehan bahkan kompensasi bisa saja terjadi. Kejadian bencana memang tidak dapat dicegah, tetapi jatuhnya korban dapat diminimalisir apabila penduduk memiliki kesiapan psikologis dini terhadap bencana alam. Salah satu cara untuk mengurangi dampak dengan memanfaatkan pengetahuan lokal dalam memahami tanda-tanda sebelum bencana itu berlangsung. Memanfaatkan digital untuk memudahkan masyarakat belajar mitigasi dan mulai mengenal sejarah kebencanaan, dan pada akhirnya digital, masyarakat dan kebudayaan akan bersinergi menjadi satu, digital pun bisa menjadi manfaat berharga mengindari kita dari bencana.

REFERENSI 

Carey W. James. 2008. Communication as Culture, Revised Edition : Essays on media and Society.

New York & London. Routledge Taylor & Francis Group.

Hall. R. 2002. Cenozoic Geological and Plate Tectonic Evolution of SEA and the SW Pacific; Computer-Based Reconstructions, Model and Animation. Jurnal Asean Earth Science.

Indonesia. Undang-Undang tentang Mitigasi Bencana Gempa dan Penanggulangan Bencana. UU No. 24 Tahun 2007.

Jacobs. Rais. 2008. Toponimi : Sejarah Budaya yang Panjang dari Pemukiman Manusia dan Tertib Administrasi. Jakarta. Pradnya Paramita.

Lasimpo, Gifvents. 2019. Mitigasi Bencana Berbasis Pengalaman Suku Kaili di Lembah Palu.

Palu. KOMIU.

Lubis, Tasnim. 2019. Tradisi Lisan Nandong Simeuleu : Pendekatan Antropolinguistik. Sumatera Utara. Disertasi Program Doktor Linguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Maleong, LJ. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Maryani, Enok. 2011. Kearifan Lokal Sebagai Sumber Pembelajaran IPS dan Keunggulan Karakter Bangsa . Bandung. Makalah pada Kovensi Pendidikan Nasional IPS.

Nawawi, H & Martini, M. 1994. Penelitian Terapan. Yogyakarta. Gadjahmada University. Pratama, Raistiwar. 2020. Pengarsipan Kebudayaan. Jakarta. Archiva Journal Volume 1 No.1.

Pusdiklat ANRI.

Segara, Nuansa Bayu. 2017. Kajian Nilai pada Toponimi di Wilayah Kota Cirebon sebagai Potensi Sumber Belajar Geografi. Cirebon. Jurnal Geografi Volume 14 No. 1.

Sibarani, R. 2015. Pembentukan Karakter : Langkah-langkah Berbasis Kearifan Lokal. Jakarta.

Asosiasi Tradisi Lisan.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung. Alfabeta. Sukmadinata, Nana Syaodin. 2007. Metode Peneltian Pendidikan. Bandung. Rosdakarya. Supardan, Dadang. 2000. Pengantar Ilmu Sosial : Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta.

Bumi Aksara.

Supartoyo & Surono. 2008. Katalog Gempabumi Merusak di Indonesia Tahun 1627 – 2007. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Bandung.

Ufie, Agustinus. 2013. Kearifan Lokal Budaya Ain Ni Ain Masyarakat Kei sebagai Sumber Belajar Sejarah Lokal untuk Memperkokoh kohesi Sosial Siswa. Jakarta. Universitas Pendidikan Indonesia.

Wijaya, PK, Laturakhmi, Wahid, A. 2016. Komunikasi Ritual dalam Tradisi Larung Sesaji. Malang.

Universitas Brawijaya.

Autors

Seniman Tari dan Pendiri Komunitas Seni Lobo, sebuah lembaga seni nirlaba yang fokus pada pendidikan seni, pertunjukan dan pengarsipan. Meraih gelar Sarjana Antropologi Universitas Tadulako pada Tahun 2008. Menjadi salah satu Tim dalam Penelitian Warisan Budaya Tak Benda Sulawesi Tengah di Kabupaten Sigi pada tahun 2012. Aktif pada literasi kebencanaan di Palu dan Pengarsipan Karya Budaya Sulawesi Tengah. Tulisannya berjudul Balia : Memaknai Estetika Tubuh Dalam Konsep Tari dimuat pada laman Kemdikbud tahun 2015.