Prosiding

International Conference

on Indonesia Culture

Connectivity and Sustainability : 
Forstering Cultural Commons in Indonesia

INDUSTRI TEH POCI : PELESTARIAN OLAHAN TEH DAN DAMPAKNYA TERHADAP MASYARAKAT SLAWI

TAHUN 1998-2004

Arfan Habibi

Alumnus Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Semarang

Teh sebagai sebuah industri yang besar, mulai dari bagian perkebunannya yang dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta hingga sampai ke pabrik-pabrik pengolahan teh, merupakan salah satu komoditas ekspor yang dimiliki Indonesia. Perkembangan industri pengolahan teh tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya di Kota Slawi, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Slawi sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Tegal memiliki beberapa pabrik teh yang besar dan menjadi salah satu ekonomi penggerak di wilayah Slawi dan sekitarnya. Sejak berdirinya pabrik- pabrik industri teh di Slawi seperti pabrik teh “Poci”, “2 Tang”, “Tong Tji”, “Gopek” dan lainnya yang bersamaan berdiri pada tahun 1940-an mampu menguasai pasar teh dalam negeri. Penelitian ini bertujuan menggali perkembangan industri teh poci di Slawi pasca tahun 1998-2004. Metode penelitian yang digunakan mengunakan metode penelitian sejarah yakni tahap heuristik, kritik, intrepretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Teh Poci Slawi atau saat ini menjadi (PT. Gunung Slamat) didirikan oleh keluarga Sosrodjojo pada tahun 1953 setelah mereka menghasilkan teh aromatik sejak tahun 1940-an mengalami kemajuan pesat. Puncaknya pasca tahun 1998-2004 industri teh poci di Slawi mampu bertahan dimasa-masa sulit saat Krisis Asia. Pelestarian hasil olahan teh melalui pelopor industri teh poci yang berkelanjutan juga membawa pengaruh bagi masyarakat sekitarnya di Slawi, Tegal yang berdampak pada sektor sosial, budaya, dan ekonomi.

Kata Kunci: Industri, Teh Poci, Slawi

PENDAHULUAN

Teh sebagai sebuah industri yang besar, mulai dari bagian perkebunannya yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta hingga sampai ke pabrik-pabrik pengolahan teh, merupakan salah satu komoditas ekspor yang dimiliki Indonesia (Nurbaity dan Saring, 2017:27). Hal ini diawali dengan perkembangaan munculnya perkebunan teh di wilayah Bogor yang berubah pesat ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda, bertarung melawan tanaman teh yang berasal dari India, dan Cina. Perkembangan teh yang sebelumnya diusahakan oleh sebagian kalangan dari orang-orang Eropa dari masa VOC, bergeser dan diambil alih oleh pemerintah kolonial. Melalui Gubernur Jendral Van Den Bosch mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel (tanam paksa), dimana tanaman teh menjadi salah satu tanaman ekspor utama dari Hindia Belanda (Nurbaity dan Saring, 2015:217).

Adanya perkebunan teh di Indonesia yang mulai tersebar di beberapa wilayah di Indonesia selain   di wilayah Bogor mengakibatkan munculnya industri pengolahan teh sebagai salah satu komoditi ekspor yang diproduksi. Perkembangan industri pengolahan teh tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya di Kota Slawi, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Slawi sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Tegal memiliki perkembangan munculnya beberapa pabrik teh yang besar dan menjadi salah satu ekonomi penggerak di wilayah Slawi dan sekitarnya. Sejak berdirinya pabrik-pabrik industri teh di Slawi seperti pabrik teh “Poci”, “2 Tang”, “Tong Tji”, dan “Gopek” yang bersamaan berdiri pada tahun 1940-an mampu menguasai pasar teh dalam negeri (Nurbaity dan Saring, 2017:27).

Industri teh yang berkembang di Slawi menjadi salah satu tradisi turun-temurun pengolahan industri teh yang ada di Kabupaten Tegal. Generasi keturunan etnis tionghoa yang ada di Slawi memiliki perkembangan yang kuat akan industri teh yang dikelola secara turun menurun, salah satunya industri Teh “Poci” Slawi. Pendirian usaha teh wangi awalnya telah tersampaikan oleh ayah dari Pak Soegiharto Sosrodjojo yang merupakan pendiri dari PT. Gunung Slamat (Teh Tjap Botol dan Teh Poci), yang bernama Souw Seng Kiam pada awal tahun 1940-an. Keinginan untuk membangun suatu bisnis bagi keluarga Pak Soegiharto ternyata terjegal karena hadirnya pemerintah pendudukan militer Jepang di Indonesia. Pendudukan Jepang pada tahun 1942 berpengaruh terhadap kondisi segala bidang kehidupan masyarakat Indonesia tak terkecuali adalah keluarga Pak Soegiharto yang telah berjuang dalam membangun bisnisnya. Selanjutnya, kondisi sosial ekonomi khususnya masyarakat di Tegal pada masa awal kemerdekaan masih belum teratur dan mengalami berbagai kemunduran berangsur-angsur kemudian mengalami berbagai perkembangan dan pembangunan di segala bidang (Adan Nur Adnin, 2016:8-9).

Kemudian, pada masa kepemimpinan Soeharto sejak munculnya kerusuhan Mei 1998, sebagai kerusuhan rasial terhadap etnis tionghoa yang terjadi di Indonesia seperti yang terjadi di Ibu Kota Jakarta dan juga terjadi di beberapa wilayah lainnya. Adanya kerusuhan Mei 1998 diawali akibat krisis ekonomi pasca adanya krisis finansial Asia tahun 1997 yang dampaknya hingga ke Indonesia. Menjelang masa berakhirnya kepemimpinan Soeharto tahun 1998, hal ini berkaitan dengan kerusuhan Mei 1998 juga memiliki dampak khususnya di Tegal. Hingga masa tahun 1999, kondisi Indonesia mulai stabil dengan peralihan kepemimpinan Presiden B.J Habibie. Hal ini memiliki dampak terhadap kestabilan masyarakat dalam kebebasan sebagai warga Indonesia khusunya masyarakat etnis tionghoa yang telah lama di Indonesia. Dalam hal ini bisnis industri teh di Slawi yang menjadi tradisi turun temurun dari generasi etnis tionghoa memiliki dinamika perkembangan pasca tahun 1998.

Melihat permasalahan di atas, Penulis tertarik untuk meneliti tentang perkembangan industri teh khusunya teh poci yang berada di Slawi, Tegal. Industri teh poci yang diwarisi oleh turun temurun dari keturunan etnis tionghoa memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan industri pengolahan teh yang hingga saat ini terkenal di Indonesia. Pada perkembangannya juga industri teh poci berdampak terhadap berbagai aspek sosial, budaya, ekonomi terhadap masyarakat Slawi dan sekitarnya. Sehingga dari permasalahan tersebut dapat ditarik beberapa rumusan masalah diantarnya: 1.) Bagaimana perkembangan awal munculnya industri teh di Kota Slawi ? 2.) Bagaimana perkembangan industri teh poci pada tahun 1998-2004? 3.) Bagaimanakah pengaruh industri teh poci terhadap masyarakat di Kota Slawi?.

  

METODE PENELITIAN

Adanya penulisan ilmiah harus dapat dilakukan didukung dengan keberadaan fakta-fakta. Apalagi jika melakukan penelitian sejarah yang keberadaan fakta sangat diperlukan, dianalisis dan dikembangkan untuk merekonstruksi peristiwa masa lampau. Sedangkan fakta tidak mungkin ditemukan tanpa tersedianya data. Berasal dari data-data fakta dapat ditemukan setelah melalui proses interpretasi sedangkan data baru dapat ditemukan setelah melakukan proses penelusuran tehadap sumber-sumber sejarah yang telah diolah (Sartono Karodirjo, 1992:90).

Dari permsalahan yang dibahas, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Menurut Louis Gottschalk yang dimaksud metode sejarah adalah bagaiman proses menguji dan cara menganalisis secara kritus rekaman dari pengalaman masa lampau (Louis Gottschalk, 1975:32). Metode sejarah sendiri terdiri dari 4 tahap yang saling erat berkaitan antara satu dengan yang lainnya yakni; heuritik, kritik sumber, intrepretasi, dan langkah historiografi.

Heuristik merupakan proses pengumpulan sumber-sumber tertulis baik berupa arsip, dokumen, dan wawancara maupun hasil-hasil penelitian yang dilakukan. Adapun arsip yang dicari yakni mengenai berita perkembangan industri teh di Kota Slawi dari masa kemasa mengenai Industri Teh Poci Slawi. Namun, sayangnya keterbatasan sumber arsip menjadi kendala dalam pencarian data dan hanya didukung arsip berasal dari website perusahaan terkait. Adapun dukungan dari berbagai sumber sekunder seperti buku, jurnal dan laporan penelitian yang relevan dalam mendukung penelitian ini untuk mencari informasi mengenai industri teh di Slawi.

Kemudian memasuki tahap kritik yang bertujuan untuk mencari otensitas atau keaslian data-datanya.

Langkah selanjutnya yakni intrepretasi dalam penelitian sejarah, yakni sebuah usaha ini merupakan penafsiran terhadap fakta-fakta yang diperoleh dari data-data yang telah diseleksi dan telah dilakukan kritik sumber. Sedangkan, pada tahap ahir yakni historiografi merupakan penulisan sejarah dengan merangkaikan fakta-fakta menjadi kisah sejarah berdasarkan data-data yang sudah dianalisa dan tertuang pada tulisan ini.

AWAL INDUSTRI GULA HINGGA MUNCULNYA INDUSTRI TEH POCI SLAWI 

Tegal pada abad ke-19, merupakan sebuah karesidenan di Jawa yang berbatasan di sebelah barat dengan Karesidenan Cirebon, di sebelah barat daya dengan Karesidenan Banyumas, dan sebelah timur dengan Karesidenan Pekalongan, dan di sebelah utara dengan Laut Jawa (Slamet Riyadin, 2018: 26). Sedangkan, pada abad 20 Tegal telah berubah menjadi wilayah yang memiliki pusat- pusat industri dan layanan jasa (Wijanarto, 2016:137). Hal ini membuktikkan bahwa wilayah Tegal yang sejak dulu telah menjadi pusat industri seperti hasil perkebunan tebu yang diolah menjadi gula. Berikut di bawah ini merupakan salah satu industri pabrik gula yang ada di wilayah Tegal.

Gambar 1. Pabrik Gula Pangkah, Tegal, tahun 1890-an (Sumber: KITLV).

Pabrik Gula Pangkah, di Tegal didirikan pada tahun 1832 oleh NV Nutut Exploratie Suiker Fabrieken dan dikelola oleh NV Kosy dan Suiker di bawah naungan perusahaan Belanda. Pabrik Gula di Tegal, tidak hanya Pabrik Gula Pangkah saja, melainkan terdapat pula Pabrik Gula Kemantren, Pabrik Gula Dukuhwringin, Pabrik Gula Balapulang, Pabrik Gula Kemanglen, Pabrik Gula Ujungrusi dan Pabrik Gula Pagongan (Devy Daniar, 2012:12). Adanya bukti-bukti industri gula dari olahan hasil perkebunan tebu di Tegal pada abad ke-19 menjadikan wilayah ini memiliki potensi daerah yang dimiliki dan dilirik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Beberapa pabrik gula tersebut lokasinya tidak terlalu berjauhan di sekitar wilayah Slawi, Tegal. Kondisi ini membuktikkan, munculnya industri di Tegal sudah ada sejak abad ke-19 dan hingga abad ke-20 terus muncul industri yang baru lainnya seperti industri teh khususnya di Slawi, Tegal.

Slawi merupakan sebuah kota cikal bakal produsen teh terkemuka di Indonesia, salah satunya adalah Sosro. Awalnya keluarga Sosrodjojo merintis usaha Teh Wangi Melati pada tahun 1940 di sebuah kota kecil di Slawi. Teh ini diperkenalkan pertama kali dengan merk Cap Botol (Ayu Putri Susitriani, 2009:11). Merek Sosro yang sudah dikenal oleh masyarakat sebenarnya merupakan singkatan dari nama keluarga Sosrodjojo yang mulai merintis usaha Teh Wangi Melati Cap Botol pada tahun 1940 di sebuah kota kecil di Jawa Tengah bernama Slawi. Pada tahun 1974 merek teh Cap Botol berubah menjadi Teh Botol Sosro dengan kemasan seperti sekarang ini (Budi Santoso, 2017:3).

Gambar 2. Generasi Pendiri Group Sosro (Sumber: Evi Riyanti, 2016).

Pendiri utama dari Group Sosro ini adalah Bapak Sosrodjojo (almarhum). Dimana perusahaan ini bermua dari usaha keluarga Bapak Sosrodjojo di Slawi, Jawa Tengah. Beliau adalah generasi pertama, dengan lokasi pemasaran yang masih sempit yaitu di sekitar Slawi dan Tegal-JawaTengah. Kemudian bisnis ini berkembang dan diteruskan oleh beberapa keturunannya yang disebut generasi kedua, yaitu;

  1. Soemarsono Sosrodjojo
  2. Soegiharto Sosrodjojo
  3. Soetjipto Sosrodjojo
  4. Soerjanto Sosrdjojo

Pada generasi kedua inilah mulai dirintis inovasi teh siap minum dengan pendistribusian secara nasional dan berkantor di kawasan Cakung-Bekasi. Pada era 90-an, bisnis keluarga Sosrodjojo telah memasuki generasi ketiga dengan pengembangan usaha minuman ke berbagai variasi cita rasa, pangsa pasar, benefit dan kemasan. Setelah itu, cakupan distribusi produknya telag menambah ke kawasan Internasional dengan kantor usaha di Cakung, Jawa Barat.

Awalnya, industri teh berkembang di kota kecil, yaitu Slawi sebuah ibukota Kabupaten Tegal yang saat ini menjadi wilayah produksi teh terbesar di Indonesia. Seperti misalnya, pendirian teh Gopek. Perusahaan teh GOPEK yang menjadi salah satu produksi industri teh juga didirikan di kota Slawi, Tegal sekitar tahun 1942, bersamaan dengan jaman penjajahan Jepang di Indonesia. teh GOPEK merupakan salah satu teh legendaris yang mempunyai cita rasa khas. Nama GOPEK mengambil makna dari pucuk daun teh yang bagus, yaitu: Golden Orange PEKoe. Selain itu, nama GOPEK juga berasal dari nama tengah 5 pemuda keluarga Kwee, yaitu: Kwee PEK Tjoe, Kwee PEK Hoey, Kwee PEK Lioe, Kwee PEK Lo alias Tjokro Hadisusilo, dan Kwee PEK Yauw alias Tedjo Sukmono (tehgopek.com, 2020).

Kemudian juga adanya perkembangan industri teh 2 Tang yang juga menjadi pemasok produksi industri teh. Berawal dari tahun 1942, teh 2 Tang diracik oleh Bapak Kwee Pek Hoey, seorang pencinta teh asal Tegal. Hobi mengkombinasi dan meracik resep teh tradisional yang unik, wangi, dan nikmat menjadikan Bapak Kwee Pek Hoey seorang ahli teh dan keahlian ini diturunkan ke generasi berikutnya agar teh 2Tang tetap dapat dinikmati dari waktu ke waktu (2tang-tea.com, 2020). Dalam hal ini beberapa industri teh di Kota Slawi saling melanjutkan antar generasinya yang menjadi penopang bisnis sebagai peranakan etnis tionghoa khususnya di Kota Slawi.

Selain itu juga ada produksi teh dengan merek dagang teh tongtji di Kota Slawi. Teh Tong Tji adalah merek teh lokal Indonesia yang diperkenalkan sudah ada sejak tahun 1953. Teh Tong Tji dibuat dengan resep teh asli untuk mempertahankan cita rasanya yang otentik. Tong Tji selalu mengabdikan diri untuk menjadi teh terbaik bagi pecinta teh, sama seperti moto-nya: “Teh Paling Nikmat, Titik” (tongtji.com, 2020). Hal ini menjadi bukti bahwa perkembangan industri teh di Kota Slawi menjadi salah satu daya tarik sendiri bagi pengembangan industri teh khususnya menjadi pemasok industri teh di Indonesia.

Pada perkembangannya salah satu yang berpengaruh juga yakni industri “Teh Poci Slawi” yang mulai memberikan dampak di sekitar masyarakat khusunya di Kota Slawi, Kabupaten Tegal. Teh poci merupakan teh yang sekarang sedang melambung dipasaran nusantara, Indutri teh poci sendiri terletak di Kabupaten Tegal tepatnya di Kota slawi, teh poci di olah dan dipasarkan yang saat ini dipegang oleh PT. Gunung Selamet, Jawa Tengah Indonesia (karyategal.com, 2020).

Gambar 3.

Produk Kemasan Teh Poci oleh PT. Gunung Slamet (Sumber: Gunungslamat.com, 2019). Indutri teh poci sendiri sangat terkenal di Indonesia sebagai salah satu identitas juga mengenai eksistensi produksi teh dari Kota Slawi. Pemeasaran teh poci tidak hanya di Jawa Tengah saja melainkan ke seluruh indonesia. Teh poci merupakan teh melati yang memliki cita rasa dan aroma yang beda dari teh-teh lainnya. Jadi tidak heran jika banyak orang yang ingin mencoba serta menikmati teh khas Kota Slawi ini.

  

PERKEMBANGAN INDUSTRI TEH POCI SLAWI 1998-2004

Teh memiliki fungsi tersendiri yaitu tradisional, dahaga, dan kesehatan. Meskipun teh diambil dari daun dan tanaman yang sama yaitu hijau, hitam, olong, dan putih, namun hanya teh hijau dan hitam yang banyak dikenal di Indonesia hanya di jual di PT.Gunung Slamat Slawi-Tegal, adapun proses dari produksi Teh: Proses Produksi Teh Wangi (Java Jasmine Tea): Pengeringan (1) proses aeal pembuatan teh wangi untuk membentuk warna dan aroma khas Teh Wangi Melati. Pengeringan (2) merupakan proses penurunan kadar air setelah proses pewangian Pembaceman (3) yakni proses persiapan teh sebelum proses pewangian, dalam proses ini dilakukan penambahan air untuk melembabkan teh. Tujuan proses ini adalah membentuk warna dan mengurangi reaksi eksoterm teh pada saat kontak dengan bunga. Pewangian(4) Adalah Proses inti pembuatan teh wangi. Dimana dalam tahapan ini terjadi penyerapan aroma dari bunga melati dan bunga gambir oleh teh yang telah dipersiapkan pada proses sebel (Evie Revyanita Dewi, 2016).

Pasca krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997 dan puncaknya pada tahun 1998 berdampak negatif terhadap sektor industri hingga kebeberapa wilayah di Indonesia. Hal ini salah satu dampak penurunan dari sektor industri terhadap ekonomi yang melemah. Namun pasca tahun 1998, perekonomian di Indonesia mulai membaik dan stabil. Dalam hal ini juga adanya kondisi industri teh di Kota Slawi misalnya, yang mulai menjaga kestabilannya dalam produksi hingga pemasarannya. Industri Teh Poci sebagai salah satu produksi industri teh pasca tahun 1998 juga dalam perkembangannya semakin berkembang dan diwariskan oleh generasi kegenerasi selanjutnya yang berasal dari keturunan etnis tionghoa yang menetap sudah lama di Kota Slawi.

Pada perkembangannya, dimulai adanya produksi teh di Kota Slawi, menjadikan perkembangan industri teh yang di prakarsai oleh Sosrdjojo mulai berkiprah di produksi nasional. Seperti pada perkembangannya di kancah produksi nasional, yakni PT. Sinar Sosro resmi didaftarkan pada tanggal 17 Juli 1974 oleh Bapak Soegiharto Sosrodjojo, yang berlokasi di Jalan Raya Sultan Agung KM. 28 kelurahan Medan Satria Bekasi. Pada tahun 1940, keluarga Sosrodjojo memulai usahanya di kota Slawi, Jawa Tengah dengan memproduksi dan memasarkan teh seduh dengan merk Teh Cap Botol. Pada tahun 1960, Soegiharto Sosrodjojo dan saudara-saudaranya hijrah ke Jakarta untuk mengembangkan usaha keluarga Sosrodjojo kepada masyarakat di Jakarta.

Seiring dengan perkembangan bisnis perusahaan, maka sejak tanggal 27 November 2004, PT. Sinar Sosro bernaung dibawah perusahaan induk atau disebut dengan holding company yaitu PT. Anggada Putra Rekso Mulia atau Grup Rekso (sinarsosro.id, 2018). PT. Sinar Sosro mempunyai sebuah cita- cita yang tertuang dalam sebuah visi yakni untuk menjadi perusahaan minuman kelas dunia, yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen, kapan saja, dimana saja, serta memberikan nilai tambah untuk semua pihak terkait, “The Indonesian World Class Beverage Company”. Dengan inovasi secara terus menerus, PT. Sinar Sosro diharapkan bisa menjadi tuan rumah di Negeri sendiri.

  

PENGARUH INDUSTRI TEH POCI TERHADAP KEHIDUPAN MASAYARAKAT SLAWI

Kehidupan sosial masyarakat di Kota Slawi dari masa kolonial hingga pasca tahun 1998 semakin kuat adanya sosial masyarakat yang memiliki identitas Kota Slawi sebagai wilayah produksi teh terkemuka di Indonesia. Sebagai kota kecil, Slawi mempunyai keunggulan dalam hal industri teh-teh yang memiliki berbagai macam rasa dan berbagai bentuk kemasan yang didasarkan atas pengolahan produk teh untuk menjaga kepercayaan penikmat teh khususnya masyarakat di Kota Slawi dan kota- kota lainnya di Indonesia yang menikmati teh dengan berbagai manfaatnya untuk kesehatan.

Sedangkan dari segi ekonomi, Pabrik Teh Poci (PT. Gunung Slamat) di Kota Slawi hingga saat ini memiliki eksistensi yang bagus. Sebagai salah satu pabrik pengolahan teh di Kota Slawi, Pabrik  Teh Poci yang digagas ole Soegiharto Sosrodjojo ini memiliki dampak posistif terhadap masyarakat sekitar di Kota Slawi. Pabrik teh yang dirintis oleh Pak Soegiharto, selain menggunakan melati, pada awalnya juga dipakaikan sedikit bunga gambir untuk menambah rasa teh. Pada awal melakukan usaha teh wangi, Soegiharto sama sekali tidak memahami proses pengolahan teh wangi (Nurbaity dan Saring, 2017:37).

Ayahnya yang mengajarinya dalam pengolahan teh wangi dengan sabarnya mengajarinya untuk mengolah teh yang dapat dinikmati dengan sesuai selera masyarakat. Namun, hal itu dirasa sangat kurang untuk membangun usaha teh wangi menjadi lebih besar dan berkembang. Kemudian, berdasarkan kondisi yang masih sangat kurang pemahaman tentang teh wangi, maka Pak Soegiharto mulai mencari orang yang berpengalaman dalam “memasak” teh. Pada hal ini, Pak Soegiharto bertemu dengan seorang pekerja yang ahli dalam memasak teh, kemudian Pak Soegiharto mulai membangun dapur satu lubang untuk memasak teh.

Dapur yang dibangun, pada awalnya berada di letak bagian belakang rumah ayah Pak Soegiharto yang beralamat di Jalan Mayjen Sutoyo 42, Slawi. Pabrik teh yang kemudian dikenal orang dengan nama Peroesahaan Teh Wangi Souw Seng Kiam (nama ayah Pak Soegiharto). Dimana, pada masa itu kondisi Slawi sebelum ada usaha teh wangi ini, masyarakatnya pada saar itu adalah 80% bermata pencaraharian sebagai petani dan sisanya adalah pedagang. Hal ini menjadi peluang bagi masyarakat Slawi untuk memberikan lapangan pekerjaan yang berdampak pada sektor ekonomi dan meningkatkan daya saing produksi teh Slawi di Indonesia.

Berkembangnya pabrik-pabrik teh hingga menjalang tahun 1950, dengan suasana politik dan keamanan Republik Indonesia yang stabil, dunia usaha pun mulai bergairah kembali. Perusahan-perusahaan teh wangi di Tegal dan Slawi semakin berkembang pesat. Dengan bertambahnya volume produksi, usaha teh ini pun harus menambah karyawan. Maka diangkatka satu orang karyawan lagi oleh Pak Soegiharto untuk membantunya dalam memperdagangnkan secara keliling teh yang dihasilkan dari usahanya. Teh-teh itu diperdagangkan secara keliling dengan rute dari Slawi ke Adiwerna (beberapa wilayah kecamatan di Tegal).

Proses waktu berjalan dan usaha teh wangi yang dimiliki Soegiharto ini pun mengalami pasang surut. Pada tahun 1969, seiring dengan maraknya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDM) dan lahirnya begitu banyak perusahaan-perusahaan baru, menginspirasi Pak Soegiharto untuk melembagakan usahanya menjadi perseroan terbatas. Gagasan itu ternyata terdengar oleh mertua Pak Soegoiharto. Akhirnya, mertua Soegiharto menawarkan lembaga usahanya untuk diambil alih. Perusahaan itu yang sekarang bernama PT. Gunung Slamat yang didirikan pada tahun 1953 oleh mertua Soegiharto yang bergerak dalam bidang bisnis palawija. Nama perusahaan itu diambil dari nama gunung yaitu Gunung Slamat karena di Selatan Slawi menjulang gunung berapi aktif setinggi 3428 meter yang bernama Gunung Slamat. Maka sejak tahun 1969, Pak Soegiharto mengambil alih PT. Gunung Slamat untuk mewadahi usaha di bidang produksi dan pemasaran teh hijau wangi melati (Nurbaity dan Saring, 2017:39).

Sedangkan dari segi budaya, masyarakat Tegal khususnya di Kota Slawi mempunyai tradisi ngeteh, hal ini karena adanya dasar sejarah panjang perkembangan olahan industri teh di Slawi, Tegal. Sejak masa penjajahan kolonial Hindia Belanda dan masa pendudukan Jepang pengolahan teh telah menjadi budaya di Indonesia dalam pengolahan teh. Seperti di Tegal dan Slawi yang mempunyai budaya pada masyarakatnya di pagi hari yang suka membuat teh dengan cara di rebus, kemudian dihidangkan dalam sebuah “poci”yang terbuat dari tanah liat. Poci yang dibuat ini juga menjadi identitas asli mengenai Ibukota Slawi saat ini karena banyaknya industri teh di Slawi. Ikon Poci yang mempunyai makna menjadi sebuah budaya kuat di Slawi, Tegal. Meskipun di wilayah Slawi sendiri tidak ada perkebunan teh, yang justru perkebunan teh di luar wilayah Slawi namun pabrik-pabrik industri teh di Slawi cukup banyak dan berkembang pesat. Hal ini menjadi sebuah identitas pengaruh budaya adanya industri teh di Slawi.

KESIMPULAN 

Industri teh yang berada di Kota Slawi, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah memiliki perkembangannya dari masa kemasa. Kota Slawi sebagai kota kecil yang memiliki potensi adanya perkembangan industri teh yang mulai berkembang sejak tahun 1940 di awali oleh Sosrodjojo sebagai pendiri awal dari pengolahan industri teh di Slawi. Beberapa pabrik-pabrik pengolahan industri teh mulai berkembang pasca kemerdekaan. Beberapa pabrik yang telah berkembang ini adanya kerja keras dari keluarga Sosrdjojo dalam mewariskan budaya pengolahan industri teh di Slawi. Seperti misalnya beberapa pabrik teh yang berkembang yaitu: Teh Gopek, Teh Tong Tji, Teh 2 Tang, dan Teh Poci (PT Gunung Slamat) yang saat ini masih berdiri dan berpengaruh terhadap masyarakat di Slawi. Industri Teh Poci atau saat ini menjadi (PT Gunung Slamat) di Kota Slawi memiliki pengaruh perkembangan yang pesat.

Perkembangan awal Sosrdjojo yang menggagas pengolahan industri teh di tahun 1940-an pada masa kolonial Hindia Belanda mulai diminati masyarakat. Pada perkembangannya pasca kemerdekaan industri teh juga mulai berkembang. Bahkan pasca tahun 1998-2004 adanya perkembanghan industri teh yang ada di Slawi mulai melebarkan sayapnya, dalam hal ini generasi keturunan kedua juga telah mendirikan beberapa cabang industrinya di luar kota. Misalnya saja dari generasi kedua Sodrjojo yang mendirikan Perusahaan Sosro hingga di Bekasi, Jawa Barat dan beberapa wilayah lainnya. Selain itu dari segi perannya Industri teh yang juga salah satuya Industri Teh Poci (PT Gunung Slamat) sangat berpengaruh terhadap perannya kepada masyarakat dari segi aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi masyarakat di Kota Slawi sebagai sebuah kota kecil yang terkenal dengan tehnya di Indonesia.

REFERENSI 

Daniar, Devy. 2012. “Pabrik Gula Pangkah, Tegal, Jawa Tengah Pada Abd XIX Kajian Arkeologi Industri”, Skripsi, Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Depok.

Gottschalk, Louis. 1975. “Mengerti Sejarah, edisi terjemahan Nugroho Notosusanto”. Jakarta; UI Press.

Kartodirjo, Sartono. 1992. “Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah”. Jakarta: Gramedia.

KITLV. 2014. KITLV/ Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies. Nur Adnin, Adan. 2016. “Perpindahan Ibukota Kabupaten Tegal Tahun 1984-1989: Dari Tegal Ke

Slawi”, Skripsi, Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.

Nurbaity dan Saring. 2005. “Swastanisasi Perkebunan Teh di Bogor 1905-1942”, Jurnal Sosio-E- Kons, Vol. 7 No. 3.

Nurbaity dan Saring. 2017. “Dinamika Pabrik Teh Slawi dan Perannya Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Slawi (1942-1968)”, Jurnal Sriwijaya Historia, Vol 1, No 1.

Putri Susitriani, Ayu. 2009. “Laporan Magang Di PT. Sinar Sosro Ungaran”, Jawa Tengah, Tugas Akhir, Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Ahli Madya di Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.

Revyanita Dewi, Evie. 2016. Laporan Kunjungan Industri PT. Gunung Slamat (Teh Poci) Slawi Jawa Tengah, Program Studi Manajemen Informatika, Akademi Manajamen Informatika dan Komputer BSI Tegal.

Riyadin, Slamet. 2018. “Situasi dan Kondisi Kebijakan Perhajian di Tegal Masa Kolonial 1850- 1889 M”, Tesis, Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Magister Humaniora, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Riyanti, Evi. 2016. “Laporan Kegiatan Kunjungan Studi Pada PT Gunung Slamat (Teh Poci) Slawi”. Program Studi Manajemen Informatika Akademi Manajamen Informatika dan Komputer BSI Tegal.

Santoso, Budi. 2017. “Pengaruh Kualitas Produk, Harga dan Promosi Terhadap Keputusan Pembelian dan Kepuasan Konsumen Teh Botol Sosro di Semarang”. Program Studi Manajemen, S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.

Wijanarto. 2016. “Di Bawah Tekanan Kapitalisme Perkebunan: Pertumbuhan Radikalisme Sarekat Ra’Jat Tegal, 1923-1926”, Jural Sejarah Citra Lekha, Vol. 1 No. 2.

Sumber Internet:

2 Tang. http://www.2tang-tea.com/id/tentang-kami Diakses pada tanggal 1 November 2020. https://www.karyategal.com/industri-teh-poci-kota-slawi-tegal-jawa-tengah/ Diakses pada tanggal 1

November 2020.

PT Gunung Slamat. http://www.gunungslamat.com/home/index.php. Diakses pada tanggal 1 November 2020.

Sinar Sosro. http://sinarsosro.id/profile. Diakses pada tanggal 1 November 2020.

Teh Gopek. http://www.tehgopek.com/ Diakses pada tanggal 1 November 2020. Tong Tji. http://www.tongtji.com/ Diakses pada tanggal 1 November 2020.

Ucapan Terimakasih

Ucapan terimakasih kepada masyarakat di Slawi, yang telah memberikan informasi mengenai industri teh yang mengantarkan penulis untuk memahami potensi sejarah budaya teh di Tegal. Meskipun dalam penelitian ini terhambat dengan sedikitnya informasi mengenai industri teh di Slawi, penulis mampu menyelesaikan tulisan ini yang bermanfaat bagi pengetahuan dan penelitian kedepannya.

 

Biodata Penulis

Arfan Habibi, Lahir di Tegal, 2 Januari 1997. Alumnus Sarjana Ilmu Sejarah dari Universitas Negeri Semarang (2020) predikat Dengan Pujian. Arfan aktif dalam organisasi maupun komunitas yakni aktif sebagai Sekretaris Anak Literasi Untuk Negeri Kordinator Tegal (2020), Kepala Divisi Ekonomi Kreatif Kerohanian Islam FIS (2018) dan Kepala Divisi Manajaemen Internal English and Research Community FIS (2017-2018), dan juga pernah aktif di Forum Mahasiswa Tegal (2017). Penyandang penghargaan gelar Mahasiswa Berprestasi di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang (2018-2019). Reputasi bidang penghargaan dan kejuaraan diraih baik skala tingkat Internasional seperti di Malaysia, Thailand, Vietnam dan peraih juara berbagai kompetisi karya ilmiah nasional tingkat mahasiswa khususnya bidang sejarah. Selain itu juga Arfan aktif dalam pengabdian dan pemberdayaan masyarakat. Arfan minat pada bidang kajian sejarah sosial, sejarah kesehatan, sejarah perkotaan, arkeologi dan lainnya yang linier. Karya-karya ilmiahnya telah diterbitkan dalam bentuk buku, jurnal, prosiding, dan di media masa. Informasi lebih lanjut kontak E-mail arfanhabibi@gmail.com atau arfanhabibiunnes@gmail.com.