Prosiding

International Conference

on Indonesia Culture

Connectivity and Sustainability : 
Forstering Cultural Commons in Indonesia

Identitas Budaya Orang Enggano di Pulau Enggano: Kompromi Budaya Lokal dan Pendatang

Rois Leonard Arios

Abstrak

Orang Enggano merupakan sebuah suku bangsa yang bermukim di Pulau Enggano Propinsi Bengkulu. Secara teoritis lokasi yang relatif terisolir akan menyebabkan kurangnya interaksi dengan masyarakat luar yang dengan demikian akan memperkuat identitas budaya mereka. Pengaruh budaya luar mulai terjadi pada Orang Enggano sejak masuknya transmigran tahun 1934. Adat matrilineal memungkinkan keturunan laki-laki pendatang yang menikah dengan perempuan Enggano menguasai lahan pertanian, mendapatkan hak waris nama suku (nama klen) dan menjadi Orang Enggano), dan hak menjadi kepala suku (ekap’u), menjadi daya tarik pendatang untuk menjadi bagian dari Orang Enggano. Tahun 1969 pendatang diberikan klen (suku) Kamaik. Dengan demikian jumlah suku yang awalnya 5 suku menjadi 6 suku dengan hak dan kewajiban sama dengan suku asli. Dengan kompromi budaya yang terjadi bagaimana identitas budaya baru Orang Enggano saat ini? Penelitian ini bertujuan menganalisis identitas budaya Orang Enggano dengan pendekatan teori konstruksi sosial Berger  dan Luckman. Metode penelitian etnografi digunakan dalam pengumpulan dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Orang Enggano saat ini merupakan hasil konstruksi sehingga dapat mengakomodir kepentingan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Dampak dari proses ini adalah semakin kaburnya batas-batas budaya sebagai Orang Enggano dan sebagai pendatang.

Kata kunci: Konstruksi Sosial, Identitas Budaya, Kompromi Budaya, Matrilineal, Perkawinan Campur

Abstract

 

The Enggano people are an ethnic group who live on Enggano Island, Bengkulu Province. Theoretically, the relatively isolated location will lead to a lack of interaction with the outside community thereby strengthening their cultural identity. The influence of external culture began to occur in the Enggano people since the entry of transmigrants in 1934. Matrilineal custom allows male descendants of immigrants who are married to Enggano women to control agricultural land, obtain the inheritance rights of tribal names (clan names) and become Enggano people), and the right to become heads of tribes (ekap’u), attracting immigrants to become part of the Enggano people. In 1969 the newcomers were given the Kamaik clan (tribe). Thus, the number of tribes that were originally 5 tribes became 6 tribes with the same rights and obligations as the original tribes. With the cultural compromise that occurred, what about the current cultural identity of the Enggano people? This study aims to analyze the cultural identity of the Enggano people using the Berger  and Luckman social construction theory approach. Ethnographic research methods are used in data collection and analysis. The results showed that the Enggano people are currently constructed so that they can accommodate the social, cultural, and economic interests of the community. The impact of this process is the blurred cultural boundaries between the Enggano people and as migrants.

 

Keywords: Social Construction, Cultural Identity, Cultural Compromise, Matrilineal, Mixed Marriage

PENDAHULUAN

Pertemuan beberapa kebudayaan yang berbeda memungkinkan menghasilkan masyarakat yang multikultural sebagai dampak dari adanya integrasi, akulturasi, atau asimilasi. Ketiga hal ini akan mewarnai kebudayaan suatu daerah sehingga memungkinkan tidak lagi sama dengan kebudayaan asal baik pendatang maupun penduduk lokal (tempatan atau asli). Sebagai gambaran, hasil penelitian Latif (2001:2) misalnya menggambarkan bahwa sebuah kebudayaan baru atau suku bangsa baru dapat terbentuk sebagai hasil dari akulturasi. Latif mencontohkan pada Orang Kangean yang berasal dari proses akulturasi yang berhasil antara suku-suku bangsa Madura, Cina, Arab, Banjar, Melayu, Bawean, Jawa, Bali, Bugis, Makasar dan Mandar.

Pertemuan kebudayaan dan perkembangan teknologi menurut Abdullah (2006) sebagai salah satu penyebab mencairnya batas-batas kebudayaan. Dengan demikian ada pertanyaan yang menarik dalam menemukan kebudayaan sebuah suku bangsa. Apakah kebudayaan sebuah suku bangsa itu dapat diidentifikasi melalui simbol-simbol seperti pakaian, rumah adat, atau bahasa (Abdullah, 2006:4). Cukup menarik untuk didiskusikan defenisi kebudayaan pada suku bangsa yang telah mengalami pembauran dengan kebudayaan suku bangsa lain, dimana simbol-simbol kebudayaan lokal menjadi bagian dari identitas bersama. Salah satu suku bangsa yang akan dibahas disini adalah suku bangsa Enggano di Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara Propinsi Bengkulu.

Suku bangsa Enggano atau akrab disebut sebagai Orang Enggano mendiami Pulau Enggano yang relatif terisolir di Pantai Barat Bengkulu. Berada pada bagian selatan jajaran pulau-pulau bagian barat Pulau Sumatera seperti Simelue, Nias, dan Kepulauan Mentawai. Pulau yang memiliki panjang 40 km dan lebar 17 km ini oleh masyarakatnya yaitu suku bangsa Enggano disebut ekeppu yanipah. Jika dilihat dari struktur masyarakatnya, Orang Enggano saat ini terbentuk dari berbagai latar belakang suku bangsa pendatang (Arios, dkk. 2004: 45; Effendi, 1991). Fakta ini menarik untuk dianalisis bagaimana identitas budaya Orang Enggano saat ini.

Kebudayaan merupakan konsepsi-konsepsi yang diwariskan secara simbolik yang dengan cara tersebut manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian menjadi manusia adalah menjadi individu dan individu di bawah pengaruh pola-pola kebudayaan, sistem-sistem makna yang tercipta secara historis yang akan memberi bentuk, susunan, pokok dan arah bagi kehidupan manusia (Geertz,1973:52).

Kita sepakat bahwa kebudayaan bersifat dinamis dan cenderung berubah sesuai dengan kondisi kekinian yang dihadapi dan identitas mereka juga akan dinamis. Secara sosiologis, Clarke (2008:2) menandai  identitas budaya dengan beberapa faktor yaitu ras, etnisitas, jender dan kelas sebagai   alat pembeda. Dengan demikian akan muncul kata “kita” dan “mereka”, “teman” dan “musuh”, “memiliki” dan “tidak memiliki”, “anggota kelompok” dan “bukan anggota kelompok”, dan sebagainya. Clarke mengibaratkan konsep identitas budaya ini sebagai konsep komunitas terbayang (imagined communities) seperti yang dijelaskan oleh Anderson (2002).

Secara konseptual, Hall (1990:225) mendefenisikan identitas budaya sebagai kepemilikan seseorang terhadap kelompok etnik tertentu dan terhadap unsur-unsur kebudayaannya sehingga menjadi pembeda dengan kelompok etnik lainnya. Identitas budaya bisa berasal dari mana saja dan memiliki banyak asal usul (sejarah) namun selalu mengalami transformasi. Hall memberikan contoh terkait identitas budaya dengan pertanyaan yang muncul “what we really are” atau “what we have become”. Artinya identitas budaya adalah realita yang ditunjukkan secara nyata.

Menurut Berger dan Luckman (2012:235-236), identitas dibentuk oleh proses-proses sosial yang selalu mengalami perubahan. Ketika identitas tersebut diperoleh, maka ia akan dipelihara, dimodifikasi sesuasi kebutuhan, dan akan dibentuk ulang oleh hubungan sosial. Proses sosial ini ditentukan oleh struktur sosial. Identitas yang dibentuk sebagai hasil dari interaksi antar individu,

kesadaran individu, dan struktur sosial akan memberikan respon terhadap struktur sosial yang sudah ada dalam bentuk mempertahankan, mengubah, atau membentuk kembali. Masyarakat yang sudah terbentuk memiliki identitas khusus dan dalam perjalanannya manusia akan membentuk identitas tertentu. Dialektika ini akan berlangsung terus menerus sebagai sebuah proses konstruksi terhadap identitas individu maupun kelompok/masyarakat.

Berger dan Luckman (2012: 235) mengatakan bahwa identitas dibentuk oleh proses-proses sosial yang diperlihara, dimodifikasi, atau dibentuk ulang oleh hubungan-hubungan sosial. Secara lebih sederhana konstruksi sosial adalah proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Mengikuti pemikiran Hegel mengenai tesis-antitesis-sintesis, Berger dan Luckmann, menemukan konsep untuk menghubungkan antara yang subjektif dan objektif melalui konsep dialektika, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi (Berger dan Luckmann, 2012:83; Narwoko dan Suyanto (ed). 2010: 390 – 393; Paloma, 1994:305; Wirawan, 2012; Ritzer, 2012; Ritzer, 2005).

Data yang disajikan dalam artikel ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2003, 2011, dan 2015 serta diperkaya dengan data wawancara dan studi literatur pada tahun 2017 untuk memperbaharui data sebelumnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode etnografi yang memfokuskan pada observasi, wawancara, dan studi literatur sebagai alat pengumpul data (Spradley, 2006:25-37). Wawancara dilakukan terhadap para kepala suku, kordinator kepala suku (pa abuki), camat, kepala desa, dan masyarakat umum.

Penelitian ini bertujuan menjelaskan identitas budaya Orang Enggano saat ini dengan menggunakan pendekatan konstruksi sosial Berger dan Luckman.

 

ANALISIS

Pulau Enggano dan Masyarakatnya

Pulau Enggano secara administratif berada di Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara Propinsi Bengkulu. Memiliki luas 400,6 km2 berada pada posisi koordinat 05° 23′ 21″ LS, 102° 24′ 40″ BT. Pulau ini terbagi dalam 6 desa yaitu Apoho (ibukota kecamatan), Malakoni, Meok, Banjarsari, Kahyapu, dan Kaana (BPS Kabupaten Bengkulu Utara, 2020). Pulau ini dapat dicapai menggunakan kapal feri (milik ASDP) dan kapal perintis dari Pelabuhan Pulau Baai di Kota Bengkulu ke Desa Kahyapu (pelabuhan kapal feri) atau di Desa Malakoni (pelabuhan kapal perintis) dengan jarak sekitar 110 mil.

 


Gambar 1. Peta Pulau Enggano (Sumber: Walhi Propinsi Bengkulu)

 

Sebelum tahun 1970, penduduk Pulau Enggano terdiri 5 suku (klen) yaitu suku Kauno, Kaahoao, Kaarubi, Kaharuba, suku Kaitora. Masing-masing suku memiliki cabang suku (pintu suku) dan dipimpin oleh kepala suku dan kepala pintu suku. Suku tersebut lazimnya diwariskan secara matrilineal (garis ibu), namun ada juga melalui proses pengangkatan/pemberian suku. Proses pengakatan suku ini untuk mengakomodir berbagai kepentingan seperti warga suku semakin berkurang terutama wanita sebagai pewaris suku, permintaan pendatang untuk menjadi warga Enggano, dan karena ingin menikahi perempuan Enggano.

Secara tradisional pemukiman Orang Enggano dibagi berdasarkan kaudar, anai’ya dan ma’aoa. Kaudura adalah para keluarga inti yang tinggal dalam satu wilayah tertentu (sebelum ada desa batas wilayah ditentukan oleh wilayah suku) merupakan satu ikatan keluarga berjumlah 50-60 orang. Wilayah pemukiman satu kelompok suku terdiri dari 4-14 kaudar, yang meliputi kaudar suku dan kaudar cabang-cabang suku (pintu suku). Anai’ya adalah kesatuan wilayah pemukiman yang terdiri dari 2-3 kaudar yang berdekatan. Adanya anai’ya ditujukan untuk menggalang kerjasama antara sesama warga kaudar yang lebih menitikberatkan pada masalah tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari (pahutaruai). Sedangkan Ma’aoa adalah kesatuan wilayah pemukiman yang terdiri dari 2-7 anai’ya yang berdekatan. Adanya ma’aoa ditujukan untuk menggalang kerjasama antara sesama para warga suku. Kerjasama ini bersifat tolong-menolong yang dapat terjadi secara insidentil ketika melaksanakan upacara-upacara adat, seperti upacara perkawinan, kematian dan perdamaian. Sekarang ini istilah ma’aoa diganti dengan istilah desa, akan tetapi keberadaannya masih diakui sebagai satu kesatuan wilayah adat.

Hubungan kekerabatan antarwarga Enggano terlihat rumit akibat perkawinan terutama sebelum tahun 2000. Kondisi Pulau Enggano yang terisolir sedangkan jumlah penduduk terbatas mengakibatkan terjadinya perkawinan dalam keluarga dekat. Dalam adat Enggano  perkawinan ideal (prefencial married) adalah antara laki-laki dengan anak perempuan saudara laki-laki ibu. Seperti yang digambarkan Effendi (1993:84), karena terbatasnya interaksi dengan penduduk lain, maka perkawinan yang terjadi masih dalam kerabat dekat seperti seorang laki-laki yang harusnya memanggil bibi kepada istrinya. Ada juga kasus seseorang yang menikah dengan adik iparnya atau antara anak bibi dengan anak paman. Dengan kondisi ini digambarkan siapa saja boleh dinikahi asal tidak satu ibu (satu pesusuan). Artinya orang yang satu suku boleh menikah namun harus berbeda pintu suku-nya.

Struktur sosial Orang Enggano merupakan struktur yang sangat longgar artinya setiap aktor dalam struktur tersebut bisa saja tidak diperlukan dalam suatu acara adat. Berdasarkan literatur, struktur yang ada saat ini dibentuk sejak diakuinya pendatang sebagai bagian dari budaya Orang Enggano.

  1. Raja (kop’ap)

Raja merupakan jabatan tertinggi dalam adat Enggano sebagai penghargaan kepada camat sebagai kepala pemerintahan di Pulau Enggano. Jabatan tersebut terkesan hanya sebagai simbol tanpa memiliki wewenang dalam pengambilan keputusan (wawancara dengan Rafli Kaitora, kepala suku Kaitora). Dalam catatan sejarah seperti Marsden (1966:411-413), Loeb (2013:243-255), Boewang (1854:379-393) tidak ada menyebut adanya seorang raja yang menguasai Pulau Enggano. Tidak ditemui tulisan sejak kapan ada raja dalam adat Enggano. 

  1. Paabuki

Paabuki adalah jabatan dalam adat Enggano yang dibentuk tahun 1969 bersamaan dengan terbentuknya Suku Kamaik. Dalam beberapa catatan sejarah pada tahun 1800 tidak ditemukan istilah Paabuki sehingga dengan demikian jabatan tersebut adalah kesepakatan para kepala suku untuk mengangkat seorang Paabuki. Tugas utamanya adalah sebagai penghubung antarseluruh kepala

suku yang ada di Enggano atau oleh para kepala suku diistilahkan sebagai koordinator. Sebagai koordinator, paabuki bukan sebagai atasan kepala suku dan tidak berhak memerintah kepala suku untuk melaksanakan sesuatu. Jabatan paabuki dipilih secara periodik yaitu sekali dalam 5 tahun dan dapat dipilih kembali jika yang bersangkutan masih bersedia dan disepakati seluruh suku.

  1. Kepala Suku (Ekapu)

Kepala suku (ekapu) merupakan jabatan yang disandang oleh seorang warga suku untuk mengakomodir kepentingan warga suku. Jabatan kepala suku berlaku seumur hidup dan hanya dapat diganti jika kepala suku tersebut meninggal dunia. Seorang kepala suku dipilih dari kepala pintu sukunya atau orang yang dianggap memiliki kemampuan dan pemahaman tentang budaya Enggano.

  1. Kepala Pintu Suku

Kepala pintu suku adalah orang yang memimpin satu pintu suku atau bisa juga disebut sebagai kepala sub suku. Kepala pintu suku mengkordinir warga pintu sukunya dan melaporkan kepada kepala suku. Jabatan kepala pintu suku bisa dikatakan sebagai proses pembelajaran memahami adat untuk selanjutnya bisa dicalonkan menjadi kepala suku. Untuk urusan keluar kepala pintu suku tidak memiliki peran yang besar karena telah dipegang oleh kepala suku.

 

Gambar 2. Kepala Suku dengan atribud budaya (Sumber: Arios, 2017)

Gambar 3. Orang Enggano Abad ke- 18 (Sumber: Blench, 2014)

 

 

Pendatang dan Lahirnya Identitas Orang Enggano Kontemporer

Orang Enggano pendatang merupakan konsep yang dipakai oleh penulis untuk menggambarkan Orang Enggano yang bukan berasal dari keturunan diantara 5 suku yang diperoleh menurut garis keturunan ibu namun sudah menjadi bagian dari Orang Enggano dengan dikelompokkan sebagai Suku Kamaik.

Ter Keurs (2002), Suzuki (1958), Rajagopalan (2002) menjelaskan Enggano sudah mengalami kontak dengan dunia luar sejak abad ke-17 terutama pada tahun 1602, 1614, 1622, dan 1629 kapal- kapal Belanda telah mendarat di pulau ini dan melakukan transaksi dagang dengan orang setempat. Selanjutnya pada tahun 1645 Belanda mengirimkan dua kapal ke Enggano untuk mendapatkan 82 orang budak. Sebelumnya pada tanggal 5 juni 1596 empat kapal Belanda yang dipimpin oleh Cornellis de Houtman merapat untuk mendapatkan barang-barang dan makanan segar, namun segera berangkat karena penduduk Enggano sangat agresif dan menolak kehadiran mereka. Catatan mengenai suku bangsa Enggano mulai ada sejak abad ke 18. Pada tahun 1771, seorang Inggris mengunjungi daerah Enggano dan menulis pengalamannya yang dipublikasikan pada tahun 1778. Selanjutnya pada tahun 1865 – 1866 dan tahun 1868 – 1870, R. Francis seorang pedagang minyak kelapa (coconut oli) menetap di Enggano dan berinteraksi dengan orang Enggano.

Masa kemerdekaan Indonesia seperti yang disebutkan Effendi (1993: 96-98) menjadi titik tolak perubahan kehidupan orang Enggano. Masuknya transmigran tahap pertama tahun 1962 yang ditempatkan di Desa Kahyapu menjadi titik awal kontak mereka dengan orang luar secara intensif. Demikian juga transmigran yang ditempatkan di beberapa desa khususnya di Desa Banjarsari pada tahun 1964. Para transmigran ini ternyata tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan orang Enggano melainkan menjadi sumber konflik.

Pada tahun 1969 secara adat kaum pendatang diakui dan diresmikan menjadi satu suku tersendiri yaitu Suku Kamaik. Makna penting prosesi itu kaum pendatang diterima secara adat hidup berdampingan dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama dengan sukusuku lainnya. Konflik berkepanjangan antara kaum pendatang dan penduduk asli lebur dengan pengakuan adat tersebut.

Penerimaan pendatang sebagai bagian dari suku bangsa Enggano adalah pemberian hibah tanah milik suku Kaitora di Desa Kahyapu sebagai tanah ulayat (kaudar) Suku Kamaik pada tanggal 6 Mei 1996 Penyerahan tanah tersebut dilakukan oleh A. Walfaret Kaitora sebagai Kepala Suku Kaitora dan diterima oleh Abdullah Kamaik sebagai Kepala Suku Kamaik disaksikan oleh seluruh kepala suku, kepala desa, dan Camat Enggano. Sesuai isi surat serah terima tanah, bahwa tanah yang diserahkan tersebut menjadi tempat permukiman Suku Kamaik bagian selatan atau Kamaik Cabang Kahyapu.

Suku Kamaik sudah dipandang sebagai salah satu suku dari sukusuku yang ada di Enggano. Dalam hal hubungan dengan suku lainnya diperlakukan sama dan sederajat di mata hukum adat. Suku pendatang ini juga tunduk dan patuh pada tata aturan adat yang berlaku. Kesepakatan antara kedua belah pihak tersebut menjadi salah satu faktor penyebab keharmonisan hubungan tetap terjaga.

Warga suku Kamaik tidak memiliki hubungan kekerabatan diantara mereka karena latar belakang suku bangsa mereka berbeda seperti Minangkabau, Batak, Jawa, Madura, Bugis, dan Bengkulu (Melayu Rejang, Serawai). Siapa saja pendatang selain penduduk asli dimasukkan dalam Suku Kamaik tanpa melihat hubungan kekerabatan kecuali pendatang tersebut meminta masuk suku asli. Hal ini pula menyebabkan kurangnya emosi cultural sebagai sesama Kamaik. Emosi cultural mereka hanya muncul ketika berinteraksi dengan satu suku bangsa asal.

Suku Kamaik memiliki perlakuan berbeda dengan orang Enggano asli karena diperbolehkan melaksanakan tradisi asal budaya masing-masing. Keunikan itu antara lain tentang perkawinan boleh satu suku (endogami) kamaik, meskipun secara implisit tetap eksogami. Pengelompokan kaum pendatang dalam satu suku tersendiri memudahkan dalam urusan baik internal maupun eksternal kesukuan. Dalam urusan internal setiap warga pendatang baru, bisa langsung melapor kepada kepala suku dan menyampaikan maksud dan tujuannya. Dengan begitu yang bersangkutan aman dari kecurigaan dan mudah dalam urusannya.

Bagi warga pendatang yang akan masuk suku setempat harus melalui upacara yakarea kaudar. Pada upacara ini nama yang bersangkutan diumumkan kepada seluruh warga suku bahwa mulai saat itu sudah menjadi warga salah satu suku. Di situ juga disebutkan yang bersangkutan mempunyai hak tanah warisan adat seluas dua hektar dan menyandang nama belakang suku yang dipilih. Dia juga mempunyai kewajiban sama dengan warga suku yang lainnya dalam segala hal, termasuk tidak boleh menikah satu suku. Hal ini harus disampaikan agar kewajiban-kewajiban baik dalam gotong-royong, iuran keluarga, sumbangan pernikahan sesuai dengan aturan adat yang berlaku dapat dipahami oleh warga yang baru masuk suku.

Upacara masuk suku diadakan jika ada warga pendatang baik sendirian, suami istri maupun secara berombongan menyatakan keinginan masuk suku. Upacara ini digelar sebagai sarana pintu masuk secara resmi pengakuan pihak suku yang dimasuki menerima saudara barunya. Juga sebagai pengumuman kepada seluruh warga suku, bahwa suku tertentu bertambah warganya. Biasanya upacara masuk suku diselipkan pada acara yakarea kaudada dan jarang diselenggarakan secara mandiri. Lain kalau warga pendatang yang ingin masuk suku jumlahnya banyak (massal) baru digelar sendiri. Jika sudah disetujui, yang masuk suku menerima satu buah parang sebagai kenang-kenangan adat dan kepala dililitkan sapu tangan warna putih.

Terdapat berbagai macam cara dan motivasi seseorang masuk suku. Ada yang masuk suku karena diambil anak angkat oleh seseorang dari salah satu suku sehingga kedekatan hubungan.   Ada juga seseorang tertarik dengan suku tertentu karena suku itu mempunyai pengaruh besar di masyarakat. Jika masuk suku itu pristise di masyarakat menjadi lebih tinggi. Ada yang masuk suku karena perkawinan, mencari kenyamanan di perantauan, mencari lahan usaha lebih mudah, ingin diperlakukan sama sehingga merasa di daerah sendiri dan sebagainya.

Warga pendatang yang sudah resmi masuk suku belajar tata cara berbahasa (linguistik etiquet). Tingkah laku berbahasa mengikuti norma-norma budaya masyarakat suku. Pemahaman tentang apa yang sebaiknya dikatakan dalam waktu dan keadaan tertentu, ragam bahasa apa yang digunakan pada situasi tertentu, kapan dan bagaimana anggota masyarakat menggunakan giliran berbicara, menyela pembicaraan orang lain dan kapan harus diam sangat berpengaruh pada tingkat penerimaan selanjutnya.

Dalam hal suami dan istri akan masuk suku, suku yang dimasuki suami harus berbeda dengan suku yang dimasuki istri. Sesuai dengan adat matrilineal, anak-anak semuanya mengikuti suku yang dimasuki ibunya. Suami masuk suku Kauno, maka istrinya masuk suku selain Kauno. Andaikata ingin dalam satu suku, maka harus berbeda pintu suku-nya. Suami suku Kauno Kaduai, maka istri harus Kauno pintu suku lainnya seperti Kapururai atau Kapuie. Jika suku itu tidak mempunyai anak suku terpaksa harus berlainan suku. Suami masuk suku Kaitora yang tidak memiliki pintu suku, maka istri tidak bisa memaksakan harus satu suku. Ia harus rela masuk suku selain Kaitora begitu juga dengan anak-anaknya.

Konsekuensi dari keputusan masuk suku, seseorang langsung terikat dengan beragam aturan terutama hak dan kewajiban sebagai warga suku. Utamanya kewajiban gotong-royong membangun rumah, membuka kebun dan mengumpulkan uang sumbangan. Uang sumbangan milik suku ini akan dipergunakan untuk pesta adat suku sendiri maupun suku lainnya. Warga suku juga mempunyai hak perlindungan terhadap ancaman atau permasalahan hukum.

Perkawinan antara laki-laki Enggano dengan wanita pendatang bisa menjadikan anak-anaknya kehilangan suku atau mewarisi suku ibunya yang kamaik. Dengan demikian generasi berikutnya adalah Orang Enggano dengan menggunakan atribut suku yang ada di Enggano. Berbeda halnya dengan laki-laki suku bangsa Batak dengan prinsip patrilineal menikah dengan wanita Enggano,

maka keturunannya akan mendapat dua atribut budaya baik secara patrilineal dan matrilineal. Dari sisi ibu mereka diakui sebagai warga suku Enggano, dari sisi bapak diterima sebagai warga Batak. 

Permasalahan pewarisan suku yang secara ideal adalah matrilineal, pada orang Enggano saat ini tidak terlalu ketat seperti yang diatur dalam adat. Kompromi antar kepala suku bisa menyelesaikan permasalahan tersebut terutama terkait pentingnya anak perempuan sebagai penerus suku. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa orang Enggano saat ini tidak lagi memiliki struktur adat yang ketat. Kompromi antar elit tradisional menjadi alat legitimasi terbentuknya identitas orang Enggano.

Indentitas Budaya Enggano Dalam Analisis Kostruksi Sosial

Mengacu pada analisis konstruksi sosial Berger dan Luckmann, Orang Enggano baik penduduk asli dan pendatang mengalami proses objektiviasi yang berulang-ulang sejak ia lahir hingga akhir hayatnya. Selama proses tersebut berlangsung, orang Enggano pada titik tertentu mendefenisikan dirinya sebagai warga suku dan tunduk pada norma-norma yang telah ditentukan oleh suku. 

Proses konstruksi pada warga Suku Kamaik dan suku asli Enggano diawali melalui interaksi sosial antara sesama suku bangsa asalnya, dengan suku bangsa lain yang bukan asli Enggano, dan suku bangsa asli Enggano. Interaksi tersebut menjadi proses dialektis dari tiga bentuk realitas yang menjadi entry concept, yakni subjective reality, symbolic reality dan objective reality. Selain itu juga berlangsung dalam suatu proses dengan tiga momen simultan yaitu, eksternalisasi, objektivikasi dan internalisasi.

Orang Enggano mengalami ketiga bentuk realitas yang bisa diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu penduduk asli dan penduduk pendatang (Suku Kamaik). Proses objective reality terlihat dalam aktivitas sehari-hari sebagai orang Enggano sesuai tuntutan lingkungan sosial sehinga interaksi diantara mereka terpola dengan baik. Sebagian juga diantara Suku Kamaik masih ada yang belum terpola karena sepenuhnya belum bisa berinteraksi dengan penduduk asli. Symblolic reality terlihat pada beberapa kegiatan sehari-hari Suku Kamaik sudah menggunakan bahasa Enggano dalam berkomunikasi dengan penduduk asli walaupun ketika berinteraksi dengan sesama suku bangsa asal mereka masih menggunakan bahasa daerah asalnya. Hal yang utama tampak dari warga Suku Kamaik adalah pengakuan mereka sebagai orang Enggano dengan Suku Kamaik. Suku Kamaik yang melekat pada warga pendatang dihayati sebagai objektive reality. Proses selanjutnya adalah subjective reality, suku pendatang (Suku Kamaik) secara sadar mengakui bahwa dirinya telah menjadi bagian dari suku bangsa Enggano dan beraktivitas sesuai dengan lingkungan sosial dan budaya Enggano.

Pada penduduk asli Enggano juga berlangsung proses yang sama. Penduduk asli Enggano tidak bisa memungkiri bahwa dirinya juga bagian dari penduduk pendatang karena banyak perkawinan campuran yang sudah berlangsung cukup lama sehingga mereka juga harus menerima keberadaan penduduk pendatang beserta lingkungan sosial dan budayanya (subjektive reality). Penerimaan tersebut disimbolkan dengan penguasaan beberapa bahasa daerah suku bangsa pendatang (symblolic reality).

Konstruksi identitas budaya Orang Enggano dijelaskan dalam pemahaman sebagai berikut:

a. Eksternalisasi yaitu proses penyesuaian diri dengan dunia sosio-kultural sebagai produk Pada tahap ini orang Enggano dari penduduk pendatang dan penduduk asli sama-sama memahami adanya perbedaan latar belakang budaya masing-masing dan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial budayanya.

b. Objektivasi yaitu proses interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami institusionalisasi. Pada orang Enggano proses objektivasi realitas sosial seakan-akan bukan lagi bagian dari dirinya, karena baik penduduk pendatang maupun penduduk asli harus mampu berinteraksi dengan realitas sosial yang bukan milik Namun karena mereka harus berinteraksi maka setiap kelomopok harus mampu mengurangi ego masing-masing dan menerima

 

adanya perbedaan diantara mereka. Disinilah mereka merasakan adanya realitas diri sebagai diri yang subjektif mereka dengan latar belakang budaya masing-masing dan realitas objektif karena realitasnya seperti itu. Kedua realitas tersebut dijembatani melalui proses pelembagaan atau institusional. Pelembagaan atau institusional yaitu proses untuk membangun kesadaran menjadi tindakan. Dalam proses pelembagaan tersebut, nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam melakukan interpretasi terhadap tindakan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan sehingga apa yang disadari adalah apa yang dilakukan.

c. Internalisasi yaitu proses individu melakukan identifikasi diri di dunia sosio-kulturalnya. Internalisasi merupakan momen penarikan realitas sosial ke dalam diri atau realitas sosial menjadi realitas subjektif. Realitas sosial itu berada di dalam diri manusia  dan  dengan  cara itu maka diri manusia akan teridentifikasi di dunia sosio-kultural. Pada posisi ini setiap Orang Enggano (penduduk asli dan Suku Kamaik) mengidentifikasikan diri mereka sebagai Orang Enggano dengan lingkungan sosial dan budaya Enggano demikian juga penduduk asli juga akan mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari penduduk

KESIMPULAN 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa suku pada orang Enggano menjadi satu-satunya identitas yang masih eksis hingga saat ini. Konsep suku ini mengalami pendefenisian kembali berdasarkan realitas pada masyarakat Enggano saat ini. Jika pada awalnya yang diakui sebagai suku pada orang Enggano hanya ada 3 lalu berkembang menjadi 5, saat ini dengan diakuinya keberadaan pendatang sebagai bagian dari orang Enggano melalui suku kamaik. Sehingga jumlah suku menjadi 6 suku dengan prinsip yang dianggap sama dengan penduduk asli. 

Dengan masuknya suku pendatang sebagai suku kamaik, maka konsep orang Enggano juga mengalami pendefenisian ulang. Tidak ditemukan satupun keluarga Enggano yang murni tanpa perkawinan campur, sehingga keberadaan penduduk pendatang secara moral tidak bisa dipisahkan dari orang Enggano. Dengan demikian defenisi orang Enggano saat ini adalah penduduk di Pulau Enggano yang mengenakan salah satu suku dan berinteraksi berdasarkan lingkungan sosial dan budaya Enggano. Dari defenisi tersebut tidak ada batasan yang objektif tentang siapakah Orang Enggano. Seseorang dikatakan sebagai Orang Enggano apakah tergantung pada rasa memiliki dan ada atau tidaknya pengakuan dari diri pribadi orang tersebut atau penunjukan oleh orang lain, dan tidak lagi berdasarkan silsilah atau garis keturunan atau asal usul suku? Dalam konteks ini seluruh ketentuan adat menjadi sangat longgar dan pragmatis karena orang luar bisa memilih menjadi orang Enggano jika sudah diakui oleh para elit tradisional Enggano. Proses pembentukan identitas orang Enggano kontemporer merupakan proses konstruksi antara penduduk asli dengan pendatang. Proses eksternalisasi dan objektivasi berlangsung dari tahun ke tahun khususnya sejak Orang Enggano berinteraksi dengan orang luar Pulau Enggano. Proses tersebut melahirkan sebuah konsep baru bagi orang Enggano tentang suku dengan adanya proses internalisasi.

DAFTAR PUSTAKA 

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Anderson, Benedict. 2002. Komunitas-Komunitas Terbayang. Yogyakarta: Insist

Arios, Rois Leonard, dkk. 2004. Kebudayaan Suku Bangsa Enggano. Padang: BPSNT Padang Arios, Rois Leonard, dkk. 2011. “Kearifan Lokal Suku Bangsa Enggano Dalam Pemanfaatan dan

Pelestarian Lingkungan Alam”, Laporan Penelitian BPSNT Padang

Berger, L. Peter dan Thomas Luckmann. 2012. Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES

Blench, Roger . 2014, The Enggano: archaic foragers in an Austronesian world Circulated for comment, Cambridge: Kay Williamson Educational Foundation 8, Guest Road

Boewang,  Djoeragan. 1854. Verslag Omtrent het Eiland Engano. Batavia: Lange & Co

Clarke, Simon. 2008. “Culture and Identity” in The Sage Handbook of Cultural Analysis. London: Sage Publications

Effendi, Nursyirwan. 1991. “Pengaruh Penduduk Pendatang Terhadap Struktur Sosial Suku Bangsa Enggano di Pulau Enggano Bengkulu Utara Propinsi Bengkulu”.Laporan Penelitian Toyota Fountdation

Effendi, Nursyirwan. 1993. “Masyarakat Enggano di Sebelah Barat Sumatera”, dalam Koentjaraningrat, dkk. Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books

Hall, Stuart. 1990. “Cultural Identity and Diaspora” dalam Jonathan Rutherford. Identity: Community, Culture, Difference. London: Lawrence & Wishart Limited

Latif, Abd. “Muhammadiyah, Persis, dan Nahdlatul Ulama: Interaksi Antar-organisasi Keagamaan di Pulau Kangean”, Makalah pada Simposium Internasional Journal Antropologi ke-2 Universitas Andalas Padang, 18-21 Juli 2001

Loeb, Edwin M. 2013. Sumatra: Sejarah dan Masyarakatnya. Yogyakarta: Ombak Marsden, William. 1966. History of Sumatra. Kuala Lumpur: Oxford University

Maunati, Yekti. 2006. Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Yogyakarta: LKiS Paloma, Margaret M. 1994. Sosiologi Kontemporer.Jakarta: RajaGrafindo Persada

Rajagopalan, Sudha 2002. “Navigating Culture: Trade And Transformation In The Island State The Permanent Exhibition On Indonesia”. Leiden: Digital Publications Of The National Museum Of Ethnology

Ritzer, George dan Barry Smart. 2012. Handbook Teori Sosial. Bandung: Nusa Media

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2005. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media Spradley, James P. 2006. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana

Suzuki, Peter. 1958. Critical Survey of Studies on The Anthropology of Nias, Mentawei, and Enggano.

‘S-Gravenhage – Martinus Nijhoff: KITLV- BIBLIOGRAPHICA Seri 3

Keurs, Pieter J. Ter “Enggano.” Digitale publicaties van het Rijksmuseum voor Volkenkunde. http:// www.rmv.nl/publicaties/3Enggano/e/ukenggano.pdf.

Walland, J. 1864. “Het eiland Enggano [The island of Enggano].” Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 14: 93-124, 330-339

Wirawan, IB. 2012. Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma: Fakta Sosial, Defenisi Sosial, dan Perilaku Sosial. Jakarta: Kencana

Biodata: 

Rois Leonard Arios, lahir di Belawan (Sumatera Utara) pada tahun 1972, Menempuh pendidikan SD- SMP-SMA- di Belawan. Melanjutkan pendidikan S-1 Antropologi Universitas Sumatera Utara dan menyelesaikan pendidikan S-2 Sosiologi di Universitas Andalas Padang. Saat ini sebagai Peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penelitian yang dilakukan lebih fokus pada persoalan etnisitas dan identitas terutama untuk wilayah Propinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan.