Prosiding

International Conference

on Indonesia Culture

Connectivity and Sustainability : 
Forstering Cultural Commons in Indonesia

Di Balik Lensa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Archangela Yudi Aprianingrum

Foto  Pembacaan  Teks  Proklamasi  oleh  Soekarno-Hatta  dan  Pengibaran  Bendera  Merah Putih pada tanggal 17 Agustus 1945, adalah foto fenomenal yang mejadi bukti otentik peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di balik ketenaran foto tersebut, tidak banyak masyarakat yang mengetahui siapa fotografer yang merekam peristiwa tersebut dan bagaimana perjuangannya untuk mempertahankan hingga foto tersebut terpublikasi.

Mendur bersaudara, putra daerah asal Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, yaitu Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarta Mendur, secara sukarela tanpa diperintah berhasil mengabadikan momen yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Tanpa kehadiran mereka pada Hari Proklamasi tersebut, saat ini Bangsa Indonesia tidak mempunyai bukti otentik terjadinya peristiwa tersebut. Untuk mengenang jasa mereka didirikanlah Tugu Pers Mendur di Kawangkoan yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2013.

Permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimana sosok Mendur bersaudara dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda dan peran Tugu Pers Mendur yang sebenarnya dapat menjadi sarana mempublikasikan peran fotografi dalam sejarah peradaban bangsa.

Kajian ini bertujuan untuk menggali kembali peran fotografer yang seringkali terlupakan dan tenggelam di balik karyanya yang fenomenal. Metodologi kajian meliputi studi pustaka dan wawancara kepada pengelola Tugu Pers Mendur, yang kemudian dianalisis menggunakan SWOT.

Di balik kebesaran jasa Mendur bersaudara, belum banyak yang mengetahui siapa dan bagaimana perjuangan mereka. Dalam hal ini, peran generasi muda yang memiliki minat khusus dapat dimanfaatkan sebagai agen publikasi.

Kata Kunci: sejarah, fotografi, museum, Mendur, Proklamasi

PENDAHULUAN 

Di dalam peristiwa penting yang selalu diingat orang, pasti ada sosok di balik peristiwa tersebut. Salah satunya adalah sosok fotografer. Momen yang langka dan jarang terjadi yang diabadikan menjadi sebuah media memori tentu sangat berharga bagi pemilik memori. Tetapi seringkali karena kekaguman akan peristiwa tersebut, tidak banyak yang memperhatikan siapa pembuatnya.

Sejarah kecil seperti fotografer di balik peristiwa besar belum menjadi perhatian masyarakat. Fotografi yang seringkali merupakan hobi terutama di era digital sekarang ini, ternyata banyak memiliki arti penting bagi sejarah. Dalam makalah ini akan membahas tentang peran di balik dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Foto Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tentunya hampir seluruh warga negara Indonesia sudah pernah melihatnya baik di buku pelajaran sekolah, buku referensi, media cetak,  dan media elektronik. Tidak banyak foto yang sering beredar di dalam media tersebut. Umumnya hanya 3 foto, yaitu foto pembacaan teks proklamasi, foto pengibaran bendera merah putih, dan teks proklamasi.

Foto 1. Pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

(sumber: IPPHOS/Tugu Pers Mendur dalam https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40945409)

Di balik ketenaran foto-foto proklamasi tersebut, pernahkah mempertanyakan siapa sosok di balik foto fenomenal tersebut. Bagaimana perjuangannya untuk mempertahankan hingga foto tersebut dapat terpublikasi. Pertanyaan tersebut menjadi tolak ukur seberapa besar masyarakat menghargai seseorang di balik sebuah karya.

Tulisan ini mengangkat beberapa masalah, antara lain:

  1. Apakah masyarakat sudah mengenal sosok Alex Mendur dan Frans Mendur sebagai fotografer Proklamasi Kemerdekaan RI?
  2. Bagaimana sosok Mendur bersaudara dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda, terutama dalam bidang fotografi?
  1. Bagaimana cara generasi muda untuk menghargai jasa orang-orang yang berperan dalam mengabadikan sebuah peristiwa besar namun sering terlupakan?
  2. Bagaimana Tugu Pers Mendur dapat menjadi sarana publikasi peran fotografi dalam sejarah Bangsa Indonesia?

Tulisan ini bertujuan untuk menggali kembali peran fotografer yang seringkali terlupakan dan tenggelam di balik karyanya yang fenomenal. Manfaat dari tulisan ini diharapkan nantinya dapat memberikan inspirasi kepada generasi muda yang menyukai bidang fotografi untuk dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sejarah peradaban bangsa.

Metode penelitian dilakukan dengan pengumpulan data melalui penelusuran pustaka mengenai tokoh Alex Mendur dan Frans Mendur dari sumber buku referensi maupun media online untuk mengetahui sejarah foto Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya juga dilakukan wawancara kepada pengelola Tugu Pers Mendur untuk mengetahui awal mula pendirian Tugu Pers Mendur hingga pengelolaannya sekarang. Wawancara dilakukan kepada Pierre Mendur, keluarga Mendur yang mengelola Tugu Pers Mendur.  Selain itu data juga dikumpulkan melalui kuesioner kepada  102 orang responden untuk mengukur pengetahuan masyarakat mengenai fotografer Proklamasi Kemerdekaan RI. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis menggunakan SWOT untuk mengetahui strategi peningkatan publikasi informasi mengenai peran fotografer yang sering terlupakan, terutama fotografer Proklamasi Kemerdekaan RI.

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan, upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai fotografer Proklamasi Kemerderkaan RI sebagai penghargaan dan rasa terima kasih Bangsa Indonesia menjadi sangat penting untuk dilakukan. Selain pengetahuan, juga hal ini dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda mengenai nilai-nilai perjuangan di balik sebuah karya foto agar dapat memberikan kontribusi nyata juga bagi sejarah peradaban Indonesia. Rekaman peristiwa dan kondisi yang terjadi di masyarakat saat ini akan menjadi data sejarah dan memori kolektif seluruh Bangsa Indonesia di masa depan.

  

PENGEMBANGAN PENGETAHUAN DAN INFORMASI TENTANG MENDUR BERSAUDARA

Foto detik-detik Pembacaan Teks Proklamasi oleh Soekarno-Hatta dan Pengibaran Bendera Merah Putih pada tanggal 17 Agustus 1945, adalah bukti otentik peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Mendur bersaudara, putra daerah asal Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara, yaitu Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarta Mendur, secara sukarela tanpa diperintah berhasil mengabadikan momen yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Tanpa kehadiran mereka pada Hari Proklamasi tersebut, saat ini Bangsa Indonesia tidak mempunyai bukti terjadinya peristiwa tersebut.

Foto 2. Frans Mendur dan Alex Mendur

(sumber: https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40945409)

Awal mula perjuangan mereka menjadi fotografer di zaman perjuangan kemerdekaan bukanlah hal yang mudah. Pada usia 15 tahun, Alex Mendur merantau ke Jakarta dengan berbekal ijazah Sekolah Rakyat, jika dibandingkan sekarang hanya sampai kelas 5 SD. Mimpi untuk pergi ke tanah Jawa ini terwujud ketika Anton Nayoan, yang masih saudara dengan Alex Mendur datang ke kampungnya. Anton bekerja di sebuah perusahaan Belanda yang menjual alat dan bahan fotografi. Alexpun mulai belajar fotografi mulai dari cara mencuci dan mencetak foto. 6 tahun lamanya ia belajar fotografi hingga mahir (Kuswiah, 1986: 10-12).

Alex mendur selanjutnya bekerja di perusahaan yang menjual peralatan fotografi milik Inggris di Bandung, kemudian berpindah kembali ke Jakarta bekerja pada perusahaan fotografi dari Jerman, yaitu Kodak Jakarta. Alex ingin terus mencoba pengalaman baru, hingga ia berhasil menjadi wartawan foto pada koran harian Belanda, De Java Bode. Pada saat itu, di Jakarta hanya ada 3 orang fotografer, yaitu 2 orang Belanda dan Alex Mendur sendiri. Karya foto yang berhasil ia dapatkan adalah foto letusan gunung api tahun 1933 di dekat Wonosobo, Jawa Tengah. Pada saat itu pula, Alex berhasil mendidik adiknya, Frans Soemarto Mendur menjadi fotografer (Kuswiah, 1986: 16-17). Hingga di kemudian hari Frans menjadi lebih terkenal karena jasanya memotret detik-detik Proklamasi.

Kisah Frans Soemarto Mendur datang ke Jakarta pun berbeda dengan Alex. Frans nekat ke Jawa menggunakan kapal penumpang Bitung – Surabaya pada tahun 1942. Ia tidak mempunyai uang. Sesampainya di Surabaya pun ia tidak mempunyai tujuan. Kemudian ia diangkat anak oleh Soemarto, sehingga ia menggunakan nama Soemarto di tengah, namanya. Mendengar berita Frans di Surabaya, segera Alex mencari adiknya ke Surabaya dan diajak ke Jakarta untuk belajar fotografi (Rondonuwu, 2017).

Pada tahun 1936 Alex pindah bekerja ke KPM, sebelum Jepang masuk. Setelah Jepang masuk, kehidupan mereka berubah, ia ditugaskan oleh Jepang menjadi Kepala Bagian Fotografi Kantor Berita “Domei”. Kantor Berita Domei inilah yang setelah Kemerdekaan menjadi Kantor Berita Antara, yang hingga saat ini masih kita kenal. Sedangkan Frans saat itu bekerja di Harian Asia Raya.

Setelah Jepang mulai mengalami kekalahan dalam Perang Dunia I, tepatnya ketika sekutu menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki, keberadaan Jepang di Indonesia menjadi perbincangan hangat di kalangan para pemuda. Kabar bahwa akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam waktu dekat telah tersebar.

Hingga suatu pagi di hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 bertempat di Pegangsaan Timur 56 telah berkumpul para pemuda dan pejuang menantikan detik-detik Proklamasi. Sebagai wartawan, Alex mengetahui berita tersebut dari rekan kerjanya di kantor berita Domei, yaitu Zahrudi (Kuswiah, 1986, 22). Ia tahu bahwa peristiwa tersebut jangan sampai terlewatkan untuk diabadikan. Pagi itu Alex dan Frans turut hadir dalam peristiwa penting bagi sejarah Bangsa Indonesia dengan membawa kamera secara diam-diam agar tidak diketahui oleh tentara Jepang.

Foto 3. Pengibaran Bendera Merah Putih 17 Agustus 1945

(sumber: Antara dalam https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40945409)

Peristiwa penting bagi Bangsa Indonesia, Proklamasi Kemerdekaan hanya diabadikan oleh dua orang, yaitu Alex Mendur dan Frans Mendur, dengan menggunakan kamera merek “Leica”. Setelah peristiwa penting itu selesai, Alex segera pergi ke kantor Domei untuk mencetak foto tersebut, namun tak disangka, foto yang tengah dikeringkan itu dirampas oleh tentara Jepang (Kuswiah, 1986: 22 – 23).

Di sisi lain, Frans lebih cerdik, film yang dibawanya tidak segera diproses, melainkan disembunyikan dengan cara ditanam di halaman rumahnya hingga keadaan aman. Foto tersebut baru dipublikasikan 6 bulan setelah Kemerdekaan RI dalam Harian Merdeka pada bulan Februari 1946.

Dari artikel publikasi foto Proklamasi RI, Frans menuliskan: “Saya sendiri semula tidak percaya ketika seorang rekan wartawan Jepang dari Jawa Shimbun Sya pada tanggal 16 Agustus malam memberitahukan kepada saja bahwa keesokan hari tanggal 17 Agustus 1945 akan dilakukan ‘Proklamasi Kemerdekaan Indonesia’ bertempat di rumah kediaman Bung Karno. Dalam keraguan sayapun berangkat jam 5 pagi menuju ke Pegangsaan Timur bersama rekan saya Saudara Basir Pulungan dengan mengendarai mobil yang saya pinjam dari rekan wartawan Jepang tersebut. Gemuruh sorakan ‘Hidup’ dan ‘Indonesia Merdeka Sekarang’ memecah telinga ketika jam menunjukkan pukul

9.50 pada saat mana Dwitunggal Bung Karno/Hatta dengan diiringi tokoh-tokoh lainnya keluar dari ruangan perundingan menuju ke ruang depan tempat upacara, dimana telah tersedia alat pengeras suara. Pecahlah bisul perayaan yang tertekan selama ini, bagai halilintar menderu terdengarlah seruan ‘MERDEKA – MERDEKA’ – terus menerus dan dengan tertib berhenti ketika mendengar aba-aba dari Dr Muwardi Bersi…… ap! Semua hadirin tegak, menanti pengumuman selanjutnya” (Rondonuwu, 2017).

Perjuangan mereka di bidang fotografi setelah kemerdekaan Indonesia belum selesai, pada tanggal  2 Oktober 1946, Alex dan Frans Bersama rekan wartawan lainnya mendirikan Indonesia Pres Photo Service atau IPPHOS yang bertujuan untuk menjadi pusat dokumentasi perjuangan, mengkoordinir publikasi, mengkoordinir wartawan foto, dan mendidik pemuda dalam bidang fotografi (Kuswiah, 1986: 28). Pada saat Syahrir menjadi Perdana Menteri, ia meminta semua kegiatan pemerintah untuk diabadikan, sehigga Alex dan Frans menjadi dekat dengan para pejabat. Berbagai peristiwa kenegaraan mereka abadikan, seperti Rapat Raksasa di Lapangan Ikada 19 September 1945, Perjanjian Linggarjati, foto pertempuran, foto seri Jenderal Sudirman, dan masih banyak lagi. Karena jasa IPPHOS di bidang fotografi jurnalis ini, Adam Malik yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden mengatakan: “Foto lebih berharga daripada penulisan fakta (kenyataan) daripada peristiwa itu sendiri. Kalau tulisan dapat dipalsukan, tapi kalau foto tidak bisa” (Kuswiah, 1986: 38). Atau kalau di masa sekarang muda sering disebut ‘no pic = hoax’, bagaimana kita bisa mengetahui kebenaran terjadinya peristiwa Proklamasi kalau saja saat itu tidak ada foto yang terekam.

Tanpa kegigihan dua bersaudara ini, Bangsa Indonesia tidak dapat melihat bukti otentik peristiwa Proklamasi yang sangat penting. Alex dan Frans pergi memotret Proklamasi atas inisiatif dan kesadarannya sendiri, tidak ada yang meminta mereka. Bahkan mungkin di saat semua sedang sibuk dan tengang, tidak ada yang terfikir untuk meminta fotografer mengabadikan momen tersebut. Mereka sungguh berjasa bagi seluruh Bangsa Indonesia, terutama bagi kita generasi penerus bangsa.

Saat ini foto yang tersebar dan sering kita lihat hanya 5 foto yaitu Sukarno saat membaca Teks Proklamasi, penaikan bendera, teks proklamasi dalam tulisan tangan, teks proklamasi dalam ketikan, dan Moh. Hatta saat upacara berlangsung. Namun berdasarkan penelitian Kantor Berita Antara dan Yayasan Bung Karno tahun 2012, ditemukan 13 foto karya Frans Mendur lainnya dan diduga masih ada foto lainnya yang belum ditemukan (Rondonuwu, 2017).

Foto 4. Sekapur Sirih Bung Hatta

(sumber: Antara dalam https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40945409)

 

Foto 5. Bung Karno menerima Barisan Laskar Pendukung Kemerdekaan (sumber: Antara dalam https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40945409)

Alex Mendur meninggal pada 30 Desember 1984 pada usia 77 tahun, sedangkan Frans Mendur meninggal pada 24 April 1971 pada usia 58 tahun. Berdasarkan hasil wawancara dengan keluarga, Alex dan Frans Mendur telah mendapatkan Bintang Jasa Utama pada 9 November 2009 dan Bintang Mahaputera Nararya pada 12 November 2010. Namun hingga saat ini mereka belum menjadi Pahlawan Nasional.

Selanjutnya di tanah kelahiran mereka, di Kawangkoan, didirikan Tugu Pers Mendur yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013. Tugu ini digagas oleh Gubernur Sulawesi Utara pada masa itu, Drs. H. Sarundajang. Bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional, beliau meminta Bapak Presiden untuk meresmikan tugu tersebut demi mengenang jasa mereka dalam membuktikan secara nyata peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI.


Foto 6.
Tugu Pers Mendur (Dokumentasi: Tugu Pers Mendur)

Akan tetapi, di lain sisi tugu yang diresmikan oleh Presiden saat itu, selanjutnya hanya dikelola oleh Keluarga Mendur. Menurut hasil wawancara kepada keluarga Mendur pengelola Tugu Pers Mendur, diketahui bahwa hingga saat ini belum banyak bantuan yang diberikan oleh Pemerintah. Berdasarkan penuturan Pierre Mendur selaku perwakilan keluarga Mendur dan pengelola Tugu Pers Mendur, biaya pengelolaan masih bersumber dari keluarga. Di sisi kunjungan pun, tugu ini belum terlalu populer. Sebagian besar pengunjungnya adalah jurnalis, fotografer, ataupun tamu yang secara khusus ingin mempelajari tentang Alex dan Frans Mendur, itupun bisa sebulan sekali baru ada pengunjung. Untuk kunjungan pelajar jarang sekali karena belum pernah ada himbauan dari Dinas Pendidikan setempat. Di dalam tugu tersebut terdapat ruang pamer yang memperlihatkan foto-foto lainnya karya Alex Mendur dan Frans Mendur sebanyak 136 lembar foto. Di antaranya adalah foto Proklamasi Kemerdekaan RI, foto Bung Tomo Ketika membangkitkan semangat warga Surabaya, dan foto-foto perjuangan dari tahun 1945 sampai dengan 1950.

Suka duka keluarga sebagai pengelola tentu saja sangat tergantung pada pengunjung. Jika ada pengunjung tentu ada pemasukan untuk membiayai operasional bangunan, sedangkan di kala tidak ada pengunjung tentu keluarga bertanggung jawab untuk membayar listrik dan air serta biaya operasional lainnya. Dengan demikian keluarga sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah terhadap Tugu Pers Mendur ini, mengingat jasanya yang tak ternilai bagi sejarah peradaban Bangsa Indonesia.

Selain data mengenai sejarah dan keberadaan Tugu Pers Mendur juga dilakukan survei melalui kuesioner kepada 102 orang responden yang terdiri dari 50 persen berlatar belakang sejarah dan kebudayaan baik dari pendidikan maupun bidang pekerjaan, dan 50 persen masyarakat awam. Survei ini bertujuan untuk mengetahui atau mengukur pengetahuan masyarakat secara umum mengenai tokoh di balik foto Proklamasi Kemerdekaan RI. Pertanyaan penting yang menjadi tolok ukur antara lain:

  1. Pernahkan kamu melihat foto ini? (foto Proklamasi)
  2. Apakah kamu mengetahui siapa fotografer yang mengabadikan gambar tersebut?
  3. Apakah kamu mengetahui bagaimana perjuangan mereka dalam membuat foto tersebut?
  4. Apakah kamu mengetahui keberadaan tugu peringatan untuk mengenang jasa mereka?

Berdasarkan survey tersebut diketahui bahwa 77,5 % responden tidak mengetahui siapa toko di balik foto Proklamasi Kemerdekaan RI, sedangkan responden yang mengetahui hanya 22,5%. Dari orang- orang yang mengetahui siapa tokoh fotografer kemerdekaan, diperoleh informasi bahwa 37,8% mengetahui dari sumber internet dan 27 persen dari buku pelajaran. Sisanya adalah sumber lain dalam jumlah sedikit, yaitu arsip, sosial media, majalah, koran, cerita lisan, dan lainnya. Hasil survey ditunjukkan pada diagram berikut.

Diagram 1. Hasil survei apakah responden mengetahui siapa fotografer yang mengabadikan peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI

 

Diagram 2. Hasil survei sumber informasi bagi responden yang mengetahui tokoh fotografer Kemerdekaan RI

Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dilakukan analisis untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Kekuatan yang ada saat ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Karya foto merupakan bukti otentik peristiwa Kehadiran foto ini sangat menguntungkan Bangsa Indonesia dalam menyediakan bukti untuk melegitimasi peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI
  2. Foto dan koleksi pendukung masih tersimpan dengan Foto karya Alex Mendur dan Frans Mendur selanjutnya dikelola oleh IPPHOS. Setelah IPPHOS berakhir, foto tersebut tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Koleksi lainnya terkait Mendur bersaudara, seperti kamera dan peralatan lain masih disimpan oleh pihak keluarga.
  3. Sudah dibangun Tugu Pers Mendur di Kawangkoan, Minahasa yang diresmikan pada tahun 2013 oleh Presiden Susilo Bambang Tugu ini dapat menjadi sarana untuk memelihara memori kolektif Bangsa Indonesia yang sudah berganti generasi, namun memori ini masih penting untuk diteruskan.

Di sisi lain, masih terdapat banyak kekurangan yang terjadi, yaitu:

  1. Perawatan koleksi bukan foto masih dilakukan oleh keluarga, sehingga ancaman terhadap kerusakan masih tinggi padahal benda-benda ini menjadi bukti pendukung perjuangan Alex Mendur dan Frans Mendur dalam membuat karya foto di masa
  2. Penataan Museum Tugu Pers Mendur kurang menarik dan informatif. Koleksi foto masih disajikan dengan cara ditempel pada dinding di dalam ruangan, dan informasi dari setiap peristiwa yang diabadikan masih kurang mendalam.
  3. Publikasi oleh Tugu Pers Mendur belum banyak dilakukan. Saat ini pengelolaan Tugu Pers Mendur masih bersifat ‘seadanya’. Pengelolaan dilakukan oleh pihak keluarga dan hanya mengharapkan kunjungan tamu. Belum ada program yang dilakukan secara aktif untuk menyebarluaskan informasi mengenai tokoh Mendur

Peluang yang ada saat ini antara lain:

  1. Kemudahan informasi berbasis Saat ini semua informasi dapat diakses dengan mudah melalui internet, sehingga dapat menjadi peluang dalam proses penyebarluasan informasi mengenai tokoh dan peran Mendur bersaudara.
  2. Banyaknya komunitas fotografi di kalangan anak muda. Kecanggihan dan kemudahan dalam bidang fotografi terutama dengan adanya kamera pada ponsel pintar semakin mempermudah masyarakat dalam menghasilkan karya foto. Hal ini juga mejadikan fotografi sebagai hobi bagi banyak generasi muda. Seringkali mereka yang memiliki kesamaan hobi berkumpul dalam suatu
  3. Ada wacana untuk menjadikan Mendur bersaudara sebagai Pahlawan Nasional. Upaya untuk menghargai jasa orang-orang yang telah berperan dalam Kemerdekaan RI dengan memberikan gelar Pahlawan Nasional terus dilakukan, dan saat ini sudah diusulkan untuk Mendur bersaudara dapat diberi gelar

Ancaman yang terjadi di masyarakat terkait informasi dan pengetahuan tokoh fotografer Proklamasi Kemerdekaan RI antara lain:

  1. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai tokoh Mendur bersaudara, sesuai dengan hasil survei yang menunjukkan angka sangat sedikit orang yang memahami tentang informasi
  2. Kurangnya peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mendukung pengenalan tokoh Setelah proses pembangunan dan peresmian Tugu Pers Mendur belum ada lagi kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menyebarluaskan informasi. Publikasi sebagian besar dilakukan oleh kalangan fotografer di Kantor Berita Antara.

Berdasarkan identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, selanjutnya dilakukan analisis menggunakan table SWOT seperti pada table berikut.

Hasil analisis dalam table SWOT tersebut dapat dikerucutkan menjadi beberapa rekomendasi

upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah, pengelola Tugu pers mendur, dan masyarakat, sebagai berikut:

  1. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
    1. Mendorong Kementerian Sosial untuk menobatkan Mendur bersaudara sebagai pahlawan nasional
    2. Mendorong pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendukung penataan pameran dan perawatan koleksi di museum Mendur
    3. Mendorong pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendukung pengelolaan Tugu Pers mendur dan publikasi tokoh Mendur bersaudara
  2. Pengelola Tugu Pers Mendur
    1. Melakukan penataan pameran dan informasi pada Tugu Pers Mendur agar informatif dan menarik
    2. Melakukan publikasi mengenai tokoh Mendur bersaudara dan keberadaan Tugu Pers Mendur secara luring dan daring
  3. Masyarakat
    1. Meningkatkan peran komunitas fotografi untuk beraktivitas di Tugu Pers Mendur atau secara luring dan daring dari kota masing-masing sebagai agen publikasi
    2. Meningkatkan publikasi oleh seluruh pemangku kepentingan kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai tokoh di balik dokumentasi Proklamasi sebagai bentuk rasa terima kasih dan peningkatan rasa

Melalui upaya-upaya ini diharapakn kehadiran Tugu Pers Mendur dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda. Fotografi yang seringkali merupakan hobi tertutama di era digital sekarang ini, ternyata banyak memiliki arti penting bagi sejarah. Karya-karya Mendur bersaudara dapat memberikan inspirasi kepada generasi muda yang menyukai bidang fotografi untuk dapat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sejarah peradaban bangsa. Tentunya tidak dapat bergerak sepihak, namun diperlukan upaya bersama-sama banyak pihak karena peristiwa Proklamasi merupakan memori kolektif seluruh Bangsa Indonesia.

 

KESIMPULAN

 

Pernyataan penting yang dapat dipelajari melalui karya foto-foto Mendur bersaudara adalah pentingnya sebuah dokumentasi untuk menjaga memori kolektif dan mewariskannya kepada generasi penerus. Foto bukan sekadar pengabadian sebuah peristiwa, tetapi foto dapat menceritakan banyak hal yang terekam dalam peristiwa tersebut.

Di sisi lain, peran Tugu Pers Mendur dapat ditingkatkan sebagai sarana pendidikan dan  publikasi. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum, tugu ini dapat dikategorikan sebagai museum karena telah mejalankan fungsinya. Sesuai dengan peraturan tersebut disebutkan bahwa museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. Tugu ini memiliki koleksi berupa foto dan kamera peninggalan Alex dan Frans Mendur. Di dalam ruangan yang sederhana ini tentu banyak informasi yang didapatkan oleh pengunjung, dan lebih jauh menginspirasi para pecinta fotografi. Nilai-nilai konsistensi pada pekerjaan dan perjuangan juga patut diteladani oleh generasi muda.

Generasi milenial muda yang saat ini sering membuat karya foto, dengan kemudahan media sosial untuk mempublikasikan foto, tidak hanya mengambil gambar secara ‘asal-asalan’ untuk kesenangan, tetapi dapat membuat karya foto yang penuh dengan makna, cerita, dan pesan sehingga foto menjadi bernilai dan bermanfaat bagi semua yang melihat.

Kesimpulan dari tulisan ini antara lain:

  1. Alex Mendur dan Frans Mendur merupakan tokoh nasional yang sangat berjasa bagi Bangsa Indonesia dalam memberikan bukti otentik terjadinya peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sehingga patut untuk dikenal oleh semua warga negara
  2. Tokoh Mendur bersaudara dapat memberikan inspirasi kepada generasi muda, terutama pecinta fotografi untuk dapat menghasilkan karya yang bermanfaat, sehingga perlu dipublikasikan secara luas baik daring maupun
  3. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, sehingga sangat diperlukan penobatan sebagai Pahlawan
  4. Tugu Pers Mendur dapat menjadi salah satu sarana publikasi informasi mengenai peran Mendur bersaudara dalam mendokumentasikan berbagai peristiwa penting perjuangan Indonesia dengan didukung oleh semua pemangku kepentingan yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

 

“Foto lebih berharga daripada penulisan fakta (kenyataan) peristiwa itu sendiri.

Kalau tulisan dapat dipalsukan, tetapi foto tidak bisa.”

– Adam Malik-

 

Daftar Pustaka

Khalika, Nindias Nur, 2018. “Mendur Bersaudara: Penggagas Kantor Berita Foto Independen IPPHOS”, https://tirto.id/mendur-bersaudara-penggagas-kantor-berita-foto-independen-ipphos- cKFK, ditulis pada 26 Mei 2018, diakses pada 2 November 2020.

Kuswiah, Wiwi. 1986. Alexiux Impurung Mendur (Alex Mendur). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum.

Rondonuwu, Clara. 2017. “Alex dan Frans Mendur: foto-foto Proklamasi yang ‘masih tercecer’” , https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40945409, diakses pada 14 Oktober 2020.

Wullur, Franky, 2017. “Frans Mendur Jadi Pahlawan Nasional Harus Terus Digaungkan”, https://beritamanado.com/frans-mendur-jadi-pahlawan-nasional-harus-terus-digaungkan/ ditulis pada 6 Juni 2017, diakses pada 2 November 2020.

 

Biografi Penulis

Penulis merupakan lulusan S1 Arkeologi Universitas Indonesia pada tahun 2007 dan S2 Arkeologi Universitas Indonesia pada tahun 2009 dengan spesialisasi museologi. Penulis saat ini bekerja pada Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengalaman bekerja mulai tahun 2008 sampai sekarang pernah menangani di beberapa bidang antara lain registrasi dan penetapan cagar budaya, eksplorasi bawah air, dokumentasi, permuseuman, dan pengembangan pemanfaatan kebudayaan.