Slide Background
Slide Background
previous arrow
next arrow

LATAR BELAKANG

Konferensi Internasional Kajian Indonesia (KIKI) atau ICONIC (International Conference on Indonesian Culture) diselenggarakan dengan maksud untuk mewujudkan platform gotong royong lintas disiplin melibatkan para peneliti dan praktisi dalam dan luar negeri yang dirancang untuk memperkaya kajian budaya Indonesia. Pada tahun 2022 ICONIC telah menginjak tahun ketiga penyelenggaraannya, dimana tahun ini ICONIC terlibat dalam pendukungan presidensi G20 bidang kebudayaan.

Presidensi G20 yang dihelat tiap tahun merupakan forum internasional yang focus pada koordinasi kebijakan di bidang ekonomi dan pembangunan. Presidensi G20 bidang kebudayaan mengambil tiga prioritas dari Rome Leaders Declaration sebagai titik awal untuk membangun pendekatan budaya baru dalam menyelesaikan tantangan kehidupan di era pandemi dan menciptakan new normal, 1. To safeguard and promote culture (untuk melestasikan dan mepromosikan budaya), 2. To further pursue the G20 cooperation on culture (untuk menjalin keterhubungan kerjasama antara negara G20), dan 3. To support workers, including in the cultural field (untuk mendukung para pekerja di bidang budaya).

Rangkaian kegiatan G20 bidang kebudayaan mengangkat tema “Kebudayaan untuk Hidup yang Berkelanjutan”. Kemendikbudristek dalam hal ini melakukan refleksi tentang situasi pascapandemi. Pandemi telah mengungkapkan kerentanan dalam gaya hidup modern kita. Kita tidak lagi berbicara tentang kemiskinan, ketidaksetaraan, ketidakadilan, tetapi tentang kelangsungan hidup manusia sebagai spesies. Untuk pemulihan yang lebih kuat, kita membutuhkan gaya hidup baru yang lebih berorientasi pada keberlanjutan umat manusia. Ada dua tujuan utama Kemendikbudristek mengambil kepemimpinan G20 bidang kebudayaan. Pertama, untuk membangun konsensus global untuk normal baru yang berkelanjutan dan kedua, menginisiasi agenda pemulihan global melalui pembentukan jaringan aksi bersama di bidang kebudayaan.

Untuk mendukung pelaksanaan presidensi G20 bidang kebudayaan tersebut, maka ICONIC akan mengambil tema yang sejalan dengan tema G20 bidang kebudayaan yaitu “Kebudayaan untuk Kehidupan Berkelanjutan”. Konferensi ini diharapkan dapat menghasilkan suatu pandangan ataupun resolusi yang dapat memperkaya rumusan dalam presidensi G20 bidang kebudayaan.

Konferensi akan menghadirkan berbagai ahli bidang kebudayaan untuk membicarakan peran kebudayaan pada masa kini dan mendatang ditengah perubahan global.

Konferensi ini mengundang para peneliti, akademisi, dan praktisi kebudayaan maupun dari luar bidang kebudayaan untuk turut sumbang pemikiran dan saran dalam bentuk tulisan, karya seni, program kegiatan maupun diskusi. Selain itu juga mengadakan interaksi antar asosiasi profesi dan komunitas untuk bisa melakukan kolaborasi kajian mengenai budaya Indonesia.

ABOUT THE CONFERENCE

The International Conference on Indonesian Culture (ICONIC) was held to realize a cross-collaboration platform involving researchers and training from abroad designed for the study of Indonesian culture. In 2022 ICONIC entered its third year of implementation, where this year ICONIC is involved in supporting the G20 cultural presidency.

The G20 Presidency, which is held annually, is an international forum that focuses on coordination in the economic and development sectors. The G20 presidency in the field of culture took three priorities from the Rome Leaders Declaration as a beginning to build a new cultural approach to solving the challenges of life in the pandemic era and creating a new normal, 1. To maintain and promote culture (to preserve and promote culture), 2. To further pursue G20 cooperation in the field of culture (to establish cooperative links between G20 countries), and 3. Support workers, including in the field of culture (to support workers in the field of culture).The series of G20 activities in the field of culture raised the theme "Culture for Sustainable Living". The Ministry of Education and Culture in this case reflects on the post-pandemic situation. The pandemic has exposed vulnerabilities in our modern lifestyle. We are no longer talking about poverty, inequality, and injustice, but about human life as a species. For a stronger recovery, we need a new, purer lifestyle for human beings. There are two main objectives of the Ministry of Education and Technology taking the leadership of the G20 in the field of culture.

First, to build a global convention for a sustainable new normal, and second, to initiate a global recovery agenda through the formation of a network of collective action in culture.To support the implementation of the G20 presidency in the field of culture, ICONIC will take a theme that is the G20 theme in the field of culture, namely "Culture for Sustainable Living".

This conference is expected to be a problem-solving problem that can solve problems in the G20 cultural presidency.

The conference will present the various experts in the field of culture to discuss the role of culture in the present and future amid global change. Researchers, academics, and cultural practitioners as well as from outside the cultural field are invited to contribute their thoughts and suggestions in the form of writings, works of art, program activities, and discussions. In addition, there will be interactions between professionals, associations, and communities to be able to collaborate in studies on Indonesian culture.

THEME

Kebudayaan untuk Kehidupan Berkelanjutan 

Pandemi COVID-19 telah membuka babak baru dalam perjalanan umat manusia. Dalam waktu yang relatif singkat dampak pandemi telah merambah ke berbagai sektor kehidupan, mulai dari industri manufaktur, industri jasa, transportasi, perhotelan, dan tidak terkecuali pelaku industri budaya dan kreatif. Pembatasan gerak manusia secara massif memunculkan perubahan drastis dalam pola konsumsi masyarakat. Dalam perspektif sejarah untuk pertama kalinya dalam sejarah modern terjadi penghentian dari semua gerakan peradaban manusia yang disebut para ahli sebagai antropause. Pandemi yang melanda dunia secara tidak langsung telah membuka mata dunia tentang betapa tatanan kehidupan modern secara global sangat rentan dan sama sekali tidak siap dalam menghadapi guncangan pandemi. Pandemi COVID-19 bukanlah sebuah kejadian kebetulan tetapi merupakan konsekuensi dari pembangunan dan kebiasaan manusia yang selama puluhan tahun dianggap hal “biasa”.

Paradigma normal lama yang mengorbankan keselamatan publik dan kelestarian lingkungan demi pertumbuhan ekonomi tercermin dalam beragam aspek kehidupan manusia modern dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Sektor pakaian dalam sebuah survey yang dilakukan Bernardo’s pada tahun 2015, 33% dari 1500 responded menganggap pakaian dianggap “tua” jika telah dipakai tiga kali, dimana setiap orang per tahun diperkirakan membuang sekitar 30kg pakaian; 85% dikirim ke tempat pembuangan sampah, bahkan untuk memproduksi sehelai jeans membutuhkan 10.000 liter air bersih. Berbeda dengan sector pangan yang sejak tahun 1900-an sekitar 75% keanekaragaman hayati tanaman telah hilang karena ditinggalkan praktiknya karena industry monokultur, dan 75% pangan dunia saat ini dihasilkan hanya dari 12 spesies tumbuhan dan 5 spesies hewan. Sementara itu di sector papan pada tahun 2018 terdapat 1.033 miliar penduduk tinggal dikawasan kumuh di seluruh dunia, dengan 1.934 kota metropolitan di dunia dihuni oleh sepertiga dari total penduduk dunia.

Pandemi sejatinya telah mengungkap kerapuhan gaya hidup modern yang selama ini dipijak. Kerentantan yang muncul kepermukaan dan bermanifes menjadi ganguan sistemik terhadap rantai ekosistem di Bumi yang berdampak pada kelangsungan hidup seluruh spesies. Kondisi tersebut perlu dilihat/direnungkan sebagai sebuah kesempatan untuk memecahkan masalah mendasar dalam kehidupan modern dan menciptakan masyarakat baru yang lebih baik untuk memulihkan rantai ekosistem. Ada kebutuhan gaya hidup baru yang lebih menitikberatkan kepada keberlanjutan dengan semangat gotong royong untuk berjuang bersama saling mengisi dan berkerja secara kolektif, kolaboratif untuk menuju tujuan bersama mengutamakan masyarakat. Untuk mencapai “pemulihan bersama dan pemulihan yang lebih kuat” tidak ada alasan lagi untuk tetap mempertahankan tatanan normal lama dalam kehidupan, perlu adanya tawaran berbasis kearifan lokal yang berwawasan global untuk mencapai hal tersebut. Kebudayaan memiliki peran strategis dalam memberikan perspektif terhadap kondisi tersebut.   

 Cultural of Sustainable Living

The COVID-19 pandemic has opened a new chapter in the journey of mankind. In a short time, the impact of the pandemic has penetrated various sectors of life, ranging from the manufacturing industry, service industry, transportation, and hospitality, and there are no cultural and creative industry players.

Massive restrictions on human movement have led to drastic changes in people’s consumption patterns. From the historical perspective, for the first time in modern history, there has been a cessation of all movements of human civilization, which experts call anthropause.

The pandemic that has hit the world has opened the world’s eyes to the global order of modern life, which is very vulnerable and equally unprepared to deal with the shocks of a pandemic. The COVID-19 pandemic is a coincidental occurrence but a consequence of developments and habits that have been considered “normal” for decades.

The old normal paradigm that sacrifices public safety and environmental sustainability for the sake of economic growth is reflected in various aspects of modern human life to fulfill basic needs such as clothing, food, and housing. In the clothing sector in a survey conducted by Bernardo’s in 2015, 33% of 1500 respondents considered clothing to be considered “old” if it had been worn three times, where each person per year is estimated to throw away around 30kg of clothing; 85% is sent to landfills, even to produce a pair of jeans requires 10,000 liters of clean water. In contrast to the food sector, since the 1900s around 75% of plant biodiversity has been lost due to abandonment of the practice due to the monoculture industry, and 75% of the world’s food is currently produced from only 12 plant species and 5 animal species. Meanwhile, in the board sector in 2018, 1,033 billion people were living in slum areas worldwide, with 1,934 metropolitan cities in the world inhabited by a third of the world’s total population.The true pandemic has exposed the fragility of the modern lifestyle that has been underfoot. Vulnerabilities that appear on the surface and manifest as systemic disturbances to the ecosystem chain on Earth have an impact on the survival of all species.

This condition needs to be seen/contemplated as an opportunity to solve basic problems in modern life and create a new, better society to restore ecosystem chains. There is a need for a new lifestyle that focuses more on sustainability with the spirit of gotong royong to fight together to complement each other and work collectively, and collaboratively to achieve a common goal of prioritizing the community. To achieve “mutual recovery and a stronger recovery” there is no longer any reason to maintain the old normal order in life, there needs to be an offer based on local wisdom with a global perspective to achieve this. Culture has a strategic role in providing perspective on these conditions.

TOPICS

01.

Budaya sebagai penggerak dan pemberdaya hidup berkelanjutan / Culture as a driver and enabler of sustainable living

Kebudayaan, dalam pengertian yang luas dan mutakhir, adalah hubungan antara berbagai unsur dalam himpunan (assemblages) yang kompleks dari manusia, makhluk hidup lainnya, bumi, dan materi (Ingold, 200, 2011, 2022, Escobar; 2011).

Berdasarkan definisi kontemporer ini, kebudayaan berarti upaya atau praktik kolektif berkelanjutan dalam membangun relasi antar sesama manusia, makhluk hidup yang lain, kehidupan dan penghidupan, termasuk segala-sesuatu dari mulai sandang, pangan, papan, lingkungan, kesenian, warisan budaya (benda dan tak benda), dan media. Dalam hal ini kebudayaan adalah penggerak dan pemberdaya hidup berkelanjutan. Kebudayaan, dalam hubungannya dengan hidup berkelanjutan ini, berperan dalam merancang sebuah ‘pluriverse’, yaitu: “bumi sebagai suatu kesatuan hidup yang selalu muncul dari berbagai unsur biofisik, manusia, dan spiritual yang menyusunnya” (Escobar 2011; 37).

Untuk itu, pada sesi ini akan memaparkan (presentasi makalah) dan mempertunjukan (pementasan, pembacaan karya, pemutaran film, musik, dll.) contoh baik (best practices) praktik kebudayaan dalam merancang dan mempromosikan gaya hidup yang lebih berkelanjutan dalam menanggapi kondisi terkini; pandemi, krisis lingkungan, dan ketidakadilan sosial.

Culture, in a broad and current sense, is the relationship between various elements in complex assemblies of humans, other living things, the earth, and matter (Ingold, 200, 2011, 2022, Escobar; 2011).

Based on this contemporary definition, culture means sustainable collective efforts or practices in building relationships between human beings, other living things, life, and livelihood, including everything from clothing, food, shelter, environment, art, and cultural heritage (objects and intangibles). objects), and media. In this case, culture is the driving force and empowerment of sustainable life.

Culture, concerning sustainable living, plays a role in designing a ‘pluriverse’, namely: “the earth as a living unit that always arises from the various biophysical, human, and spiritual elements that compose it” (Escobar 2011; 37).

For this reason, this session will present (paper presentations) and demonstrate (performances, work readings, film screenings, music, etc.) good examples (best practices) of cultural practices in designing and promoting a more sustainable lifestyle in response to current conditions; pandemics, environmental crises, and social injustice.

02.

Dampak Ekonomi, lingkungan, dan sosial dari kebijakan berbasis budaya/ Economic, environmental and social impacts of culture-based policies

Kebijakan berbasis budaya adalah kunci dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan. Agar makna berkelanjutan itu mewujud, diperlukan kebijakan berbasis budaya yang mampu mendukung terciptanyaan dua aktivitas. Pertama, aktivitas manusia yang disebut penciptaan, yaitu aktivitas kreatif yang terhubung dengan alam.

Manusia menciptakan pengetahuan bercocok tanam, mengolah serat kayu untuk bahan tenun, membuat tanah menjadi bahan rumah, dan sebagainya. Alam menyediakan sumber daya untuk aktivitas kreatif manusia, tetapi hal itu belum cukup, diperlukan aktivitas berproduksi agar penciptaan dapat diwujudkan. Aktivitas produksi membuat penciptaan menjadi nyata dan bersifat sosial karena melibatkan hubungan-hubungan dalam jaringan sosial. Kedua, aktivitas merawat alam agar sumber daya yang ada padanya tidak punah dan dapat direproduksi. Semua aktivitas ini adalah kerja budaya, yang hidup di masyarakat masa lalu maupun kini baik untuk survival ekonomi, sosial maupun lingkungan.

Di Indonesia, cukup banyak kerja budaya dilakukan secara kolektif oleh masyarakat. Di bidang ekonomi, komunitas lokal memproduksi kerajinan, membuat lumbung pangan, berbagai budidaya tanaman, peternakan, bahkan pengolahan sampah.

Dalam hal lingkungan, komunitas lokal mempunyai kearifan untuk merawat alam seperti lanskap yang merupakan daerah akuifer atau menyimpan sumber air; menanam bambu untuk menahan angin kencang, membuat kalender musim kapan sumberdaya alam boleh atau tabu dipanen, dan sebagainya. Komunitas urban kota juga bergotong royong menanam tanaman hias dan herbal untuk penghijaun lingkungan.

Di beberapa komunitas lokal masih ditemukan gotong royong untuk membangun rumah dan dan prinsip arsitektural yang khas. Cara kolektif atau gotong royong dalam aktvitas ekonomi dan perawatan lingkungan tersebut menyiratkan bahwa komunitas lokal itu dengan sendirinya merawat relasi dan bangunan sosial. Lalu sebagian dari mereka mentransformasikan kerja budaya tersebut ke dalam wujud simbolis berupa syair tertulis maupun verbal, karya pertunjukan, seni kriya, patung, adat-istiadat mengatur sumber daya alam dan sosial, dan sebagainya yang warisannya masih dapat ditemukan di seluruh Indonesia.

Panel budaya ini mengundang partisipan untuk mempresentasikan aktivitas penciptaan, produksi, perawatan dan reproduksi budaya yang berkaitan dengan cara survival di bidang ekonomi, perawatan lingkungan dan sosial yang mencakup unsur-unsur pemenuhan sandang, pangan, papan (pemukiman), lanskap dan warisan benda-tak benda budaya. Presentasi dapat berupa tulisan dan pertunjukan (visual) seni.

Culture-based policies are key to creating sustainable development. For the meaning of sustainability to be realized, a culture-based policy is needed that can support the creation of two activities. First, is the human activity called creation, which is a creative activity connected with nature. Humans create knowledge of farming, processing wood fibers for weaving, making soil into household materials, and so on. Nature provides resources for human creative activity, but it is not enough, production activities are needed so that creation can be realized.

Production activities make creation real and social because it involves relationships in social networks. Second, is the activity of caring for nature so that the resources in it do not become extinct and can be reproduced. All of these activities are cultural works, which live in past and present societies both for economic, social, and environmental survival.In Indonesia, quite a lot of cultural work is done collectively by the community. In the economic field, local communities produce handicrafts, make food barns, various crop cultivation, animal husbandry, and even waste processing.

In terms of the environment, local communities have the wisdom to care for nature such as landscapes that are aquifer areas or save water sources; planting bamboo to withstand strong winds, making a seasonal calendar when natural resources are allowed or taboo to be harvested, and so on. The urban community of the city also works together to plant ornamental plants and herbs for greening the environment. In some local communities, mutual assistance is still found to build houses and distinctive architectural principles. The way of collective or gotong royong in economic activity and environmental care implies that the local community naturally takes care of social relations and structures. Then some of them transformed this cultural work into symbolic forms in the form of written and verbal poetry, performance works, craft arts, sculptures, customs governing natural and social resources, and so on whose heritage can still be found throughout Indonesia.This cultural panel invites participants to present activities on the creation, production, maintenance, and reproduction of culture related to ways of survival in the fields of economics, environmental and social care which includes the elements of fulfilling clothing, food, and housing (settlements), landscapes and intangible heritage. cultural objects. Presentations can be in the form of writing and performing (visual) art.

03.

Cultural Commoning untuk Mempromosikan Gaya Hidup Berkelanjutan/ Cultural communing to promote sustainable lifestyles

Sejak pandemi Covid-19 merebak di dunia, kita tiba-tiba terkejut dengan kekacauan dan ketidakstabilan dalam segala aspek kehidupan kita, antara lain juga dalam aspek budaya. Dalam kondisi krisis tersebut perubahan-perubahan budaya terjadi dengan cepat dan kita dibuat terkejut untuk membayangkan masa depan budaya kita akan mengarah kemana. Pada satu sisi kita terpaksa tunduk pada adaptasi yang mendesak dan terjadi secara cepat, sedang pada sisi lainnya kita ditantang untuk melakukan aksi dan intervensi untuk dapat “mengontrol” perubahan kolektif budaya kita. Pada masa krisis ini mungkin sudah saatnya kita mengambil waktu jeda sebentar untuk memikirkan dan mempertimbangkan seperti apa budaya yang sedang berubah dengan sangat cepat ini serta kemungkinan harapan yang mungkin sekilas dapat terlihat untuk masa depan ekonomi dan budaya alternatif atau pada harapan untuk membentuk gaya hidup berkelanjutan.

Salah satu tawaran yang dapat diajukan adalah dengan melalui cultural commoning. Commons adalah sistem sosial-budaya yang ada pada individu maupun kelompok untuk memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang terorganisir sendiri dan dilakukan secara kolaboratif yang tidak begitu bergantung pada permintaan pasar dan komodifikasinya. Adapun commoning merujuk pada tindakan aktif dari commons. Dalam kasus  cultural commoning, tindakan tersebut  berarti adalah aksi belajar bersama dan menciptakan budaya bersama untuk memenuhi tujuan bersama dan tentunya menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Orientasi kebersamaan dalam cultural commoning menuntut kita untuk mengelola sumber daya budaya yang kita miliki menuju kebaikan kolektif yang lebih besar. Demikian pula meminta kita untuk mengakui saling ketergantungan dan membangun hubungan dengan tujuan kolektivitas, kesetaraan, keadilan, dan keuntungan bersama. Diharapkan pembentukan budaya commons tersebut akan mengarah pada gaya hidup berkelanjutan (sustainable living).

Panel “Cultural Commoning untuk Mempromosikan Gaya Hidup Berkelanjutan” ini mengajak kita untuk berdiskusi tentang konsep dan potensi penerapan cultural commoning dalam pembangunan budaya yang berbasis gaya hidup berkelanjutan. Di samping itu panel ini juga memfasilitasi presentasi contoh-contoh baik (best practices) praktik cultural commoning yang sudah pernah dilakukan pada bidang budaya hidup berkelanjutan.

Since the Covid-19 pandemic broke out in the world, we are suddenly shocked by the chaos and instability in all aspects of our lives, including the cultural aspect. In these crisis conditions, cultural changes occur rapidly and we are surprised to imagine where the future of our culture will lead.

On the one hand, we are forced to submit to urgent and rapid adaptation, while on the other hand we are challenged to take action and intervention to be able to “control” the collective changes in our culture. In this time of crisis, it may be time for us to take a moment to pause to think about and consider what this rapidly changing culture might look like and the possible hope that may at first glance look to an alternative economic and cultural future or to the hope of establishing a sustainable lifestyle.One of the offers that can be submitted is through cultural commoning. Commons is a socio-cultural system that exists for individuals and groups to meet their needs in a self-organized and collaborative way that is not so dependent on market demand and its commodification.

Commoning refers to the active action of the commons. In the case of cultural commoning, the action means the act of learning together and creating a common culture to fulfill common goals and of course upholding the values ​​of togetherness. The orientation of togetherness in cultural commoning requires us to manage the cultural resources we have for the greater collective good. It also asks us to recognize interdependence and build relationships with the goals of collectivity, equality, justice, and mutual benefit. It is hoped that the formation of the commons culture will lead to a sustainable lifestyle.

The panel “Cultural Commoning for Promoting Sustainable Lifestyles” invites us to discuss the concept and potential application of cultural commoning in cultural development based on sustainable lifestyles. In addition, this panel also facilitates the presentation of good examples (best practices) of cultural commoning practices that have been carried out in the field of sustainable living culture.

04.

Akses yang Merata ke Keuntungan Ekonomi Budaya/ Equal access to cultural economic benefits

Teori, praktik, serta gagasan kebudayaan saat ini semakin meluas dan dinamis. Meleburnya batas-batas teritori geografis beserta segenap pranata sosial, ekonomi dan politik yang dimungkinkan karena perkembangan di bidang sains dan teknologi, menyebabkan kerut merut peradaban dunia semakin kompleks dan mengalami beragam bentuk disrupsi.

Namun begitu, praktik budaya secara umum masih memperlihatkan jemaring halus yang mempertautkan gagasan dan praktik kebudayaan lampau (retrospektif), dengan budaya dominan yang berkembang di hari ini, serta proyeksi kebudayaan baru yang datang dari masa depan (emerging). Kecenderungan ini juga ikut mempertautkan aneka mozaik budaya di tingkat lokal dan global.

Salah satu wujudnya yang konkrit adalah proses kapitalisasi di ranah ekonomi budaya. Dalam konteks ini, ekspresi artistik dan budaya melebur ke dalam moda produksi dan pertukaran nilai (value creation), sehingga memungkinkan terjadinya proses fabrikasi dan komodifikasi secara ekonomi. Kecenderungan ini tidak hanya menyerap ragam praktik dan ekspresi budaya kontemporer yang cenderung berpijak pada ekspresi individu, tetapi juga mengapropriasi berbagai elemen budaya lampau yang berasal dari ekspresi budaya yang diampu secara kolektif.

Sejauh ini perkembangan ekonomi budaya mencerminkan ketimpangan, di mana proses kapitalisasi yang terjadi cenderung menguntungkan korporasi dan pelaku ekonomi raksasa. Hal ini misalkan mengemuka dalam fenomena apropriasi dan adaptasi ekspresi budaya kelompok masyarakat tradisional untuk produk industri. Sebagai salah satu eksesnya, muncul sejumlah kasus hukum yang memperlebar kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi.

Adakah jalan alternatif ekonomi budaya yang dapat memastikan akses dan insentif yang merata bagi segenap pelakunya? Bisakah ragam bentuk ketidakadilan ekonomi budaya dikenali dan ditangkal kehadirannya? Apakah ekonomi budaya dapat dikembangkan dengan mengedepankan prinsip-prinsip keadilan (equity) dan keberlanjutan (sustainability)? Adakah instrumen hukum, kebijakan, serta kerangka ekonomi yang dapat memastikan pemerataan daya guna ekonomi budaya tumbuh dan berkembang subur di masa depan?

Beberapa pertanyaan di atas diharapkan dapat diperbincangkan dan dielaborasi secara terbuka pada ajang Konferensi Internasional Kebudayaan Indonesia 2022.

Theories, practices, and cultural ideas are now increasingly widespread and dynamic. The merging of geographical territorial boundaries and all social, economic, and political institutions made possible by developments in the fields of science and technology have made the wrinkles of world civilization more complex and have experienced various forms of disruption.However, cultural practices in general still show subtle networks that link the ideas and practices of past cultures (retrospective), with the dominant culture that is developing today, as well as projections of new cultures that will come in the future (emerging). This tendency also helps to link various cultural mosaics at the local and global levels.One of its concrete manifestations is the process of capitalization in the realm of cultural economy. In this context, artistic and cultural expression merges into modes of production and value creation, thus enabling the process of fabrication and commodification economically.

This tendency not only absorbs a variety of contemporary cultural practices and expressions that tend to be based on individual expressions but also applies various elements of past cultures that come from cultural expressions that are managed collectively.So far, the development of the cultural economy reflects inequality, where the capitalization process that occurs tends to benefit corporations and giant economic actors.

This, for example, emerges in the phenomenon of appropriation and adaptation of cultural expressions of traditional community groups for industrial products. As one of the excesses, several legal cases have emerged that have widened economic inequality and injustice.Are there alternative ways of the cultural economy that can ensure equal access and incentives for all actors? Can the various forms of cultural economic injustice be recognized and prevented? Can the cultural economy be developed by prioritizing the principles of equity and sustainability? Are there legal instruments, policies, and economic frameworks that can ensure the equitable distribution of economic benefits for cultural growth and development in the future?

05.

Mobilisasi Sumber Daya Internasional untuk Mengarusutamakan Pemulihan Berkelanjutan/ International resource mobilization to mainstream sustainable recovery

Dalam konteks desain kebijakan, basis sosial budaya seringkali dilupakan. Dalam merancang kebijakan pengelolaan budaya, budaya sering dianggap sebagai kumpulan barang dan jasa. Dalam perspektif ini, sejumlah kebijakan berorientasi pada pelestarian barang dan jasa tersebut, seperti “revitalisasi alat musik yang hampir punah”, “revitalisasi arsitektur tradisional”, “pelestarian norma tradisional”, dll. Masalah utama dengan pendekatan ini adalah ia melihat realitas secara terbalik. Sementara yang diperlukan adalah melihat budaya sebagai metode dan bukan sekadar aliran barang dan jasa. Perspektif ini didasarkan pada kesadaran bahwa bukan objek yang menciptakan hubungan sosial, tetapi hubungan sosial yang menciptakan objek. Hubungan sosial ini selalu diwujudkan dalam ruang tertentu. Menempatkan budaya sebagai metode berarti dimulai dengan kesadaran geografis: setiap ekspresi budaya merupakan respons terhadap dinamika wilayah; setiap ekspresi budaya merupakan cara untuk merespon permasalahan yang muncul di daerah. Dengan kata lain, menempatkan budaya sebagai metode berarti mengadopsi pendekatan teritorial daripada sektoral. Fokusnya adalah pada bagaimana setiap prakarsa budaya dapat ‘mengatur ruang’: mampu menciptakan kemungkinan geografi baru justru karena tumbuh dan berakar pada geografi lokal.

Dengan kesadaran ruang inilah langkah konkrit pertama untuk memobilisasi sumber daya internasional dapat diambil, yaitu dengan memulai dari negara-negara kurang berkembang. Di situlah letak semua tantangan pembangunan terberat serta potensi kearifan lokal yang paling kaya. Negara kurang berkembang adalah tempat berbagai kearifan lokal masih berperan aktif dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menjadi ujung tombak proses pembangunan yang sama-sama bermanfaat bagi ekonomi, lingkungan, dan kohesi sosial. Logika berbagi dan gotong royong masih mengakar kuat dalam praktik sosial kemasyarakatan di negara-negara kurang berkembang sehingga cara hidup berbasis kearifan lokal lebih mudah dikuatkan.

Pemulihan sektor seni budaya hanya dapat dilakukan jika ada dukungan tidak hanya bagi para aktor di negara maju, tetapi juga dan bahkan terutama bagi para aktor di negara berkembang. Tidak akan ada pemulihan ekonomi budaya global jika negara maju hanya fokus pada pemulihan sektor ekonomi budaya di negaranya sendiri. Di sinilah masyarakat global benar-benar dapat mengambil manfaat dari filosofi gotong royong karena ekonomi budaya global membentuk suatu ekosistem di mana setiap negara berperan penting dalam pergerakan seluruh rantai pasok produk budaya.

Panel ini mengajak kita untuk berdiskusi tentang peranan besar masyarakat dunia dalam menguatkan budaya.

In the context of policy design, the socio-cultural basis is often forgotten. In designing cultural management policies, culture is often considered as a collection of goods and services.

In this perspective, several policies are oriented toward the preservation of these goods and services, such as “revitalizing almost extinct musical instruments”, “revitalizing traditional architecture”, “preserving traditional norms”, etc. The main problem with this approach is that it sees reality in reverse. What is needed is to see culture as a method and not just a flow of goods and services.

This perspective is based on the realization that it is not objected that create social relations, but social relations that create objects. This social relationship is always manifested in a certain space. Placing culture as a method means starting with geographic awareness: every cultural expression is a response to regional dynamics; every cultural expression is a way to respond to problems that arise in the region.

In other words, placing culture as a method means adopting a territorial rather than sectoral approach. The focus is on how any cultural initiative can ‘manage space’: being able to create new geographic possibilities precisely because it grows and is rooted in local geography.It is with this spatial awareness that the first concrete steps to mobilize international resources can be taken, namely by starting from less developed countries. Therein lie all the toughest development challenges and the richest potential of local wisdom.

Less developed countries are places where various local wisdom still play an active role in daily life so that they can spearhead the development process that is equally beneficial for the economy, the environment, and social cohesion. The logic of sharing and cooperation is still deeply rooted in social practice in less developed countries so that a way of life-based on local wisdom is easier to strengthen.The restoration of the arts and culture sector can only be carried out if there is support not only for actors in developed countries but also and especially for actors in developing countries.

There will be no recovery of the global cultural economy if developed countries only focus on restoring the cultural economy sector in their own countries. This is where the global community can benefit from the gotong-royong philosophy because the global cultural economy forms an ecosystem in which each country plays an important role in the movement of the entire supply chain of cultural products.This panel invites us to discuss the big role of the world community in strengthening culture.

*pokok bahasan: sandang, pangan, papan, lanskap (alam/budaya), warisan budaya, (benda/takbenda), praktik seni dan media

*Study approach: clothing, food, shelter, landscape (nature/culture), cultural heritage (tangible/intangible), art and media practice

For online Conference

A

Recorded session of keynote speakers (talkshow format)

A

Recorded session of plenary speakers (talkshow format)

A

Q/A with plenary speakers (scheduled live meetings) Need to consider time difference

A

Panel (scheduled live meetings)

A

Sign Languange 

(keynote and plenary sessions)

CALL FOR INDIVIDUAL ABSTRACT

We welcome abstracts that are in accordance with the subthemes of this conference.  Abstracts could be written in English or Indonesian. The abstract consists of:

  • 300 – 400 words (including introduction, problem statement, purpose of research, methodology, key findings, state of the art),
  • Reference list
  • Typed at single space, using Times New Roman font size 10;
  • The margins at four sides should be set at 1 inch;
  • File Type: document (.doc, .docx, .rtf)
  • File Name: Topic Number_Title_Author Name
    example: 2_Cultural Adaptation_Sam Smith

Important Dates

20 June – 1 July 2022

Registration date

2 – 8 July 2022

Selection

10 July

Announcement of selection result

10 – 20 August 2022

Video presentation submission

22 – 26 August

Conference

Location

Online Conference

Phone & Email