Slide Background
Build & Design
Build & Design
Build & Design
Build & Design
Build & Design
previous arrow
next arrow

Main Event ICONIC 2021

30 November – 2 December 2021

Details

Details

Details

Panel Event ICONIC 2021

1 Desember 2021

LATAR BELAKANG

Konferensi Internasional Kajian Indonesia (KIKI) atau ICONIC (International Conference on Indonesian Culture) diselenggarakan dengan maksud untuk mewujudkan platform gotong royong lintas disiplin melibatkan para peneliti di dalam dan luar negeri yang dirancang untuk memperkaya kajian budaya Indonesia.

Pada Juni 2021 UNESCO mengeluarkan laporan Cultural and Creative Industries In the Face of COVID-19: An Economic Impact Outlook. Dalam laporan ini disebutkan bahwa sektor CCI merupakan salah satu sektor yang paling pertama ditutup dan akan menjadi yang paling terakhir dibuka kembali. Sebagian besar sektor ini tergantung dari pengumpulan massa. Laporan UNESCO ini memberikan gambaran mengenai dampak ekonomi pada sektor CCI. Selain itu laporan ini juga memberikan gambaran mengenai usaha yang telah dilakukan di berbagai negara untuk mengatasi permasalahan ini.

ABOUT THE CONFERENCE

International Conference on Indonesian Culture (ICONIC) is an interdisciplinary conference that involves researchers from Indonesia and abroad concerning the Indonesian Culture. The aim of the conference is to create a platform for interdisciplinary researchers design to enrich the studies of Indonesian culture.

In June 2021 UNESCO issued a report entitle Cultural and Creative Industries In the Face of COVID-19: An Economic Impact Outlook. In this report, it is stated that The cultural and creative industries (CCIs) have been among the first sectors to shut their doors and they will be among the last to reopen. Large parts of the sector depend on a human congregation. The UNESCO report gives us an overview of the economic impact on the CCIs. It also gives us an outlook on the many efforts that have been done in many countries in an attempt to overcome this problem.

Read More >>

THEME

Daya Lenting Ekosistem Kebudayaan di Masa Pandemi

Pandemi Corona 19 merupakan proses alam dan sosial yang melahirkan struktur–arena yang memberi peluang sekaligus membatasi–baru. Sebagaimana pada pandemidan peristiwa besar sosial lainnya, proses ini selalu memunculkan kelompok pemenang, cabang-cabang baru yang segar penuh semangat dan kelompok terpinggirkan, pelepah-pelepah yang mengering dimakan usia.

Ada kemukinan kelompok pemenang ini adalah kaum mapan lama yang memiliki akses besar terhadap modal ekonomi, sosial dan simbolik.

Namun ada pula kemungkinan bahwa mereka sudah terlanjur mapan dan diterkam kelembaman kehilangan daya untuk menyesuaikan diri dan mengambil peluang dari keadaan baru. Ada pula kaum yang pandai menggunakan masa pandemi ini sebagai kesempatan untuk bertapa, seperti ulat masuk kepompong, menghimpun daya hidup guna menyongsong hari baru.

Ada pula kelompok yang secara cepat dan sigap menangkap kesempatan baru.

Mereka mayoritas datang dari Generasi X, Y dan Z yang memang sudah tidak sabar menunggu datangnya jaman baru; jaman yang lebih efisien, kreatif, demokratis, transparan, merdeka dari konstruksi kaum tua yang sarat nyinyir dan pamali.

Wabah yang nyaris alami ini secara sosial-politik sama sekali tidak netral. Dalam setiap pandemi selalu terselip pertanyaan dunia baru yang lahir nanti akan diutamakan untuk siapa: Apakah untuk elit yang berhabitat di seputar pusat-pusat kekuasaan politik, teknologi dan pasar, ataukah untuk rakyat banyak yang bergulat di sawah ladang, di lubang tambang, di pabrik barang dan perahu-perahu penangkap ikan? Konferensi ini dialamatkan untuk mengenali tekanan, resistensi dan kebangkitan dikalangan penggiat kebudayaan di hadapan wabah global Corona 19.

Konferensi ini juga untuk mengungkapkan pertanyaan dan membangun jawaban, kepada siapa jaman seusai wabah esok akan kita kita dedikasikan.

The Resilience of the Cultural Ecosystem through the Pandemic

The Covid-19 pandemic is both a natural and a social process that brings forth structure—an arena that has given new opportunities and at the same time limiting it. Such as pandemics and other big social phenomena, those processes bring out winners, new fresh branches full of spirit dan marginalized group, withered fronds through time. There is a possibility that the winners are a group of established people that had access to economic, social, and symbolic capital. But there is another possibility these communities are settled and are ravaged by the inertia of losing their power to adapt and has taken opportunity from the new situation.  Others are smart enough to seize this opportunity as a chance to meditate, like a caterpillar in a cocoon, gathering life force to welcome a new day. Others are swift enough to capture new opportunities. They are the majority from the X, Y, and Z generations who are eagerly waiting for a new era; a more efficient, creative, democratic, transparent era, free from the old construct that’s full of sneering and taboos. 

This almost natural plague is unneutral by social politics. In all pandemics are always questions tucked away – for who is the newborn world for? Is it for the elites who inhabit the center power of politics, technology, and market, or for the people that are struggling in the fields, mines, factories, and fishing boats? This conference aims to identify pressures, resistance, and revival amongst the cultural activist in the face of the global Covid-19 plague. The conference will also reveal questions and construct an answer, to whom thus the future after the pandemic will we dedicated to.

TOPICS

01.

Ekosistem kebudayaan | Cultural Ecosystem

Meminjam teori ekologi kebudayaan Julian Steward (1955) dan Kaplan & Manners (2002: 104-105), ekosistem kebudayaan dijelaskan sebagai ruang hidup atau lingkungan tempat terjadinya aktivitas atau proses produksi dan reproduksi kebudayaan oleh manusia dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Di dalam ruang ekosistem kebudayaan itu manusia melakukan penyesuaian diri dengan alam lingkungannya dengan berpedoman pada unsur-unsur, elemen-elemen atau fitur-fitur kebudayaan, baik yang ada pada masyarakatnya sendiri maupun yang datang dari kelompok lain.

Penyesuaian dimaksudkan sebagai proses yang menghubungkan elemen-elemen budaya dengan lingkungan lainnya.  Dengan kata lain lingkungan dilihat sebagai produk budaya. Dengan konsep ini kita dapat mempelajari bagaimana manusia dapat mengalami kelentingan budaya, yaitu kemampuan untuk pulih kembali dari kondisi kritis, mengetahui fitur-fitur budaya apa yang mengalami tekanan dan fitur-fitur budaya apa saja yang digunakan untuk melawan berbagai tekanan.

Citing the cultural ecology theory of Julian Steward (1955) and Kaplan & Manners (2002: 104-105), cultural ecosystems are described as environmental human living spaces where undertakings of production and cultural reproduction occur to maintain survival.

 In the cultural ecosystem space, humans make adjustments to their natural environment. Cultural elements and features are generated in their society and influenced by cultural features in other communities.

The adaptation process links culture with other human environments. In other words, the living environment can be interpreted as an ever-changing cultural

product. We can captivate how humans experience cultural resilience and note that some features are under stress and which cultural elements are engaged to resist different pressures.

02.

Adaptasi dan Kreatifitas dalam berkarya | Adaptation and Creativity in Creating Works of Art

Pelaku seni (non pertunjukan: seni rupa, adat istiadat; industry kreatif: film, iklan, fashion, musik) dan industri kreatif, secara individual dan kelompok merupakan insan-insan yang memiliki daya kreatifitas yang tinggi.

Inovasi dan ide-ide baru terus digodok, diolah dan diwujudkan menjadi karya-karya yang hebat. Pandemi Covid 19 yang bagi sebagian kalangan dianggap sebagai kendala dan hambatan, justru bagi pelaku dan komunitas seni dan industry kreatif dipandang sebagai tantangan dan peluang yang bisa dimanfaatkan guna melahirkan karya-karya yang kreatif dan inovatif.

Karya tersebut tidak hanya sebagai respon dan proses adaptasi pelaku terhadap keterbatasan di masa pandemic, namun juga menjadi karya-karya seni “baru” yang berisikan berbagai macam terobosan dan terutama pemanfaatan teknologi digital.

Sesi ini dirancang sebagai forum berbagi pengalaman dan saling belajar pelaku seni dan industry kreatif guna mengembangkan diri, memperkokoh dan meningkatkan adaptasi dan kreatifitas dengan memanfaatkan teknologi digital dalam proses tersebut. Dalam jangka Panjang, berbagi pengalaman dan saling belajar akan memicu dan memacu daya kreatifitas dan inovasi di bidang seni dan industry kreatif guna menyongsong dan mendukung masyarakat dan budaya digital di masa depan.

Cultural workers (non-performing arts: fine arts; customs; creative industry: film; commercials; fashion), individually or in groups, have high creative power. Innovation and new ideas are continued to be brewed, processed, and realized into unique works of art. The Covid-19 pandemic, seen as an obstacle, quite the opposite by the art worker and community and creative industry, is regarded as a challenge and opportunity utilized to creative and innovative works. That work is not only a response and adaptation process to the limitation of the pandemic but as a ‘new’ works of art full of breakthroughs and especially the use of digital technology.  

This session is designed as a forum to share knowledge and learn from each other for self-development, strengthen, and increase adaptation and creativity by using digital technology in the process. In the long run, sharing knowledge and learning can trigger and spur creative power and innovation in the art and creative industry to support community and digital culture in the future.

03.

Pemenang dan Pecundang dalam Migrasi Digital Seni Pertunjukan | Winners and Losers in Performing Arts Digital Migration

Dalam masa pandemi COVID 19 yang telah berlangsung selama hampir dua tahun ini semua agen penggerak ekosistem seni pertunjukan di Indonesia telah melakukan berbagai eksperimentasi digital untuk mempertahankan dan/atau mengembangkan siklus penciptaan, produksi, diseminasi, pergelaran, serta konsumsi seni pertunjukan. 

Sesi ini dirancang sebagai forum berbagi pengalaman untuk memetik pelajaran atas praktik-praktik pemanfaatan teknologi digital di seluruh tahap silkus tersebut.

Tanpa menafikan kontroversi atas peluang dan tantangan dunia digital bagi proses kreasi, produksi, diseminasi, dan pergelaran, dua aspek yang masih harus dipahami lebih baik adalah pengalaman khalayak dalam peristiwa seni pertunjukan tertayang, serta perimbangan antara biaya produksi dan pemasukan pergelaran digital.

During the COVID-19 pandemic, which lasted for almost two years, all driving agents of the performing arts ecosystem have carried out various digital experiments to maintain and/or develop the cycle of creating, producing, disseminating, performing, and consuming performing arts.

 This session is an experience-sharing forum to learn lessons from using digital technology throughout the cycle stages.

Two aspects need to be better understood in the challenges of the digital world, namely the audience’s experience in broadcasting performing arts events and the balance between production costs and digital performance revenues.

The meaning above does not deny the controversy over the opportunities and challenges that exist in the digital world for the process of creation, production, dissemination, and performance.


04.

Isi Ulang Daya Budaya | Cultural recharge

Pandemi COVID-19 menimbulkan tantangan pada setiap lini kehidupan. Diperlukan refleksi baru tentang praktik-praktik budaya yang lebih berdaya lenting (resilient) dalam dunia selama dan setelah pandemi. Perlu dijalankan suatu refleksi menyeluruh tentang hakikat kebudayaan dalam dunia yang sedang berubah dengan drastis ke arah yang tidak menentu.  Sesi ini adalah konsolidasi dari aneka pemikiran eksperimental tentang peran kebudayaan dalam mencari solusi bagi era pandemi.

Untuk mengatasi pandemi, tidak cukup hanya vaksinasi karena virus terus bermutasi. Apa yang diperlukan adalah perubahan gaya hidup. Apa yang kita perlukan sekarang adalah teknologi sosio-kultural untuk mengusahakan hidup harmonis dengan sesama dan lingkungan. Dalam masyarakat tradisional, hal ini ditempuh lewat berbagai upaya tolak bala seperti mantra, sesaji daun bidara dan janur kuning, ritual dan tirakat, ramuan jamu tradisional, maupun ruwatan seperti selametan dan pagelaran seni (misalnya wayang). Dalam masyarakat modern, hal ini ditempuh lewat penguatan solidaritas sosial. Perlu diingat bahwa isolasi mandiri mensyaratkan teknologi sosial: perlu ada jaringan kerja yang memastikan suplai makanan dan obat-obatan. Jadi keberhasilan isolasi mandiri bukan sekadar keputusan seorang diri, melainkan hasil kerja sosial.

Kebudayaan menjadi rujukan untuk keluar dari pandemi. Ini tercermin dari jawaban kultural bagi tantangan kebutuhan elementer setiap manusia: sandang, pangan, papan.

Dewasa ini, industri busana dunia digerakkan oleh model ‘busana cepat’ (fast fashion) yang mendorong pergantian trend setiap beberapa minggu. Hal ini mengakibatkan tingginya biaya karbon industri busana dan penumpukan limbah busana yang merusak lingkungan. Alternatif solusinya adalah mengangkat paradigma ecofashion yang terkandung dalam berbagai praktik tenun tradisional di berbagai daerah.

Dewasa ini, industri pangan dunia digerakkan oleh model pertanian monokultur yang mengejar peningkatan laba dengan  mengorbankan tingkat nutrisi ataupun daya dukung lingkungan. Hal ini menyebabkan anjloknya kualitas pangan, turunnya daya tahan tubuh dan berbiaknya aneka jenis penyakit zoonotik. Alternatif solusinya adalah mengangkat model pengolahan pangan tradisional yang bercorak permakultur dan diversitas bahan pangan di luar beras, gandum, jagung.

Dewasa ini, industri papan kita digerakkan hampir sepenuhnya oleh logika privatisasi dan homogenisasi, baik dalam bentuk maupun bahan baku, yang mengakibatkan ‘krisis konteks’ (putusnya relasi antara individu dengan masyarakat dan lingkungan hidup sekitar). Alternatif solusinya adalah mengangkat khazanah papan vernakular yang sangat menekankan kekhasan geografi lokal dan sifat publik dari pemukiman (pencarian solusi bersama atas masalah yang dihadapi individu warga).

Dari sini terlihat bahwa dalam pemenuhan kebutuhan hidup paling dasar—sandang, pangan, papan—peran kebudayaan sangatlah menentukan. Kita perlu mengisi ulang daya budaya kita (cultural recharge) dengan berbagai inspirasi dari budaya tradisi dan modern untuk mengupayakan suatu Normal Baru yang tidak mengulang kesalahan Normal Lama. Inilah yang akan diketengahkan dalam Sesi 4 ini.

The Covid-19 pandemic has raised a challenge in all aspects of life. A new reflection is needed about the cultural practices that are more resilient throughout and after the pandemic. A comprehensive review needs to be conducted about the essence of culture in the drastically changing world in an uncertain direction. This session is a consolidation of various experimental thoughts about the role of culture in finding a solution in the pandemic era.

To overcome the pandemic needs more than vaccination because of the mutation of the virus. What it needs is a lifestyle change. We need socio-cultural technology to strive for a harmonious life with people and the environment right now. In traditional society, it is achieved by many efforts to reject the bad ‘tolak bala’ such as spells or ‘mantra’, offerings of ‘daun bidara’ and ‘janur kuning’, rituals, the concoction of traditional herbal medicine ‘jamu’, as well as ‘ruwatan’ such as ‘selametan’ and art performance (e.g. wayang). In modern society, it is achieved by strengthening social solidarity. Worth noted that self-isolation needs social technology; networking ensures the food and medicine supplies required. The success of self-isolation is not merely an individual decision but a social work 

Culture can be a reference to come out of the pandemic. It is reflected from cultural answers to the challenge of basic needs of a human being: food, clothing, and housing. Nowadays, the world’s clothing industry is run by the model of fast fashion that encourages trend changes every few weeks. Human needs led to the high carbon cost and accumulation of waste cloth that threaten the environment. The alternative solution is to promote the eco-fashion paradigm contained in many traditional textiles in various places.

Nowadays, the food industry is moved by the monoculture farming model that chases profit increase by sacrificing nutrition and the environment capacity. The monoculture system has led to the fall of food quality, decreased endurance, and the proliferation of various types of zoonotic diseases. The alternative solution is to promote the processing of traditional food model that has a permaculture pattern and diversity of farm produce excluding rice, wheat, corn.

Nowadays, the real estate industry is entirely run by the logic of privatization and homogenization, in the form of build or raw material, that has led to a ‘context crisis’ (the rupture of the relation between individual and society the environment). The alternative solution is to promote the vernacular architecture that emphasizes on local geographical context and the public nature of the housing (a joint resolution to the problem at hand)

From the examples above, the fulfillment of basic needs– food, clothing, and housing—the role of culture is crucial. We need to culture recharge by many inspirations from local and modern tradition to strive for a New Normal that doesn’t repeat the Old Normal mistakes.

This session is designed as an experience-sharing forum to learn lessons from using digital technology throughout the cycle stages.

05.

Produksi dan distribusi pengetahuan di masa pandemic | The Production and Distribution of Knowledge in the pandemic

Hantaman pandemi sangat terasa guncangannya pada sector pendidikan. Sistem pandidikan formal yang sudah mapan dengan pendidikan model sekolah, dimana peserta didik dan pendidik hadir dalam ruang ruang dan waktu yang kaku (dibatasi dengan bangunan tembok fisik ruang-ruang kelas dan pagar sekolah serta waktu belajar yang ketat) tiba-tiba harus melakukan pembelajaaran jarak jauh. Tentunya tidak mudah untuk menyesuaikan proses pembelajaran yang berubah total akibat pandemic,  baik oleh pendidik, peserta didik bahkan orang tua peserta didik. “Sekolah di rumah” dan “sekolah dari rumah” menjadi perdebatan wacana dalam merespon situasi yang tengah terjadi.

Selama ini, model pendidikan Home-schooling belum menjadi arus utama dalam wacana pendidikan nasional, meskipun belakangan ini makin popular. Penerapan pembelajaran daring (online learning) selama ini juga masih terbatas pada Universitas Terbuka, program kuliah bagi karyawan di sejumlah universitas dan kursus-kursus tambahan (online courses).

Diterapkannya sistem pembelajaran daring pada masa pandemic telah menuai berbagai masalah, kendala jaringan internet yang tidak memadai di beberapa wilayah, keterbatasan akses perangkat penunjang belajar, hanyalah sebagian kecil dari masalah pembelajaran yang dihadapi selama pandemic.

Dalam situasi sekarang ini, penting untuk ditelisik lebih lanjut, apakah yang hilang dan yang ditemukan dalam produksi dan distribusi pengetahuan melalui dunia pendidikan sebagai respon pembelajaran di masa pandemic. Inovasi dan praktek baik apa yang muncul, sehingga aspek kecerdasan kognitif, psikomotorik, dan afektif dapat terus ditumbuhkan melalui pendidikan. Pada sisi lain perlu untuk menemukan ekosistem pendidikan serta apa yang tangguh dalam produksi dan distribusi pengetahuan dimasa pandemi melalui relasi antara guru-orang tua-siswa. Ekosistem seperti apa yang sudah terbentuk selama pandemic agar dapat menjadi batu penjuru untuk lompatan ke depan dalam produksi dan distribusi pengetahuan baik dalam sekolah formal maupun non formal.

The Covid-19 pandemic impacts the education sector hard. The formal education system that is already established with the school model where the learner and the educator are present in a stiff space and time (constraint by school and classes wall and a strict time), suddenly has to change to distance education. It is not easy to adapt the learning process both by the educator and learner within a new situation. ‘School at home’ or ‘school from home’ has been a debate in response to the current situation. 

Nowadays, the home-schooling concept has never been mainstream in the national education discourse. Even though it’s getting popular, online learning is only limited to Universitas Terbuka, lecture programs for employees at some universities, and online courses.

Online education in the pandemic has led to several problems, network problems in various regions, limited access to learning support devices, are only a tiny part of the learning problems faced during the pandemic

This situation needs further exploration, what is lost and found in the production and distribution of knowledge in the education world as a response. What kind of innovation and best practices arise to learn cognitive, psychomotor, and affective intelligence. On the other side, we need to find the right education ecosystem to produce and distribute knowledge in the pandemic through the relation between teacher-parent-student. What kind of ecosystem has already been formed to be the cornerstone for the leap forward in producing and distributing knowledge for formal or nonformal education.

06.

Jejaring baru karena keadaan pandemi | New Networks of Culture during Pandemic

Keberlangsungan praktik seni budaya di Indonesia dan kemampuannya untuk terus bertahan sesuai dinamika perubahan sosial kerap bergantung pada daya lentur dan ketahanan para penggerak yang ada didalamnya. Pandemi muncul menjadi kondisi yang memberi penyadaran bahwa keberlangsungan dalam jangka panjang tidak ditentukan oleh kepemilikan finansial saja. Ia lebih ditentukan oleh bagaimana para praktisi budaya dan penggerak komunitas memaksimalkan apa yang mereka miliki untuk membangun ekosistem budaya yang kuat dan mandiri bersama-sama. Pandemi juga menjadi kondisi yang menyadarkan bahwa berjaringan menjadi alat yang penting tidak hanya untuk membangun relasi, tapi alat yang produktif didayagunakan untuk merawat solidaritas antar sesama penggerak budaya dan beragam komunitas lain. Panel “Jejaring Budaya Baru di Periode Pandemi” bertujuan untuk mendiskusikan secara mendalam beragam sumber daya yang digerakkan dalam pengorganisiran budaya di periode pandemi, para aktor yang berperan dalam pembentukan jaringan antar praktisi budaya dan komunitas rentan, serta bagaimana cara menciptakan mekanisme kemandirian yang selaras dengan gagasan keadilan dan kesejahteraan sesama.

The sustainability of arts and cultural practices in Indonesia and the capacity to sustain social movement dynamics depend on the resilience and endurance of the practitioners who inhabit the spaces. Pandemic emerged as a condition that brought forward that sustainability does not depend on financial resources. But it depends on how the cultural practitioners and community organizers maximise everything they have to develop a strong cultural ecosystem and achieve sustainability collectively. Pandemic also emerged as a condition that brought forward the thinking that networking is a tool to establish relations and a productive tool to nurture solidarity among cultural practitioners and across various communities. Panel “New Networks of Culture during Pandemic” aims to discuss various resources that propel the independent cultural organizing actors to play essential roles in developing networks between cultural practitioners and vulnerable communities. The panel also shows how to create sustainable life mechanisms following the ideas for justice and collective welfare.

For online Conference

A

Recorded session of keynote speakers (talkshow format)

A

Recorded session of plenary speakers (talkshow format)

A

Q/A with plenary speakers (scheduled live meetings) Need to consider time difference

A

Panel (scheduled live meetings)

A

Sign Languange 

(keynote and plenary sessions)

CALL FOR INDIVIDUAL ABSTRACT

We welcome abstracts that are in accordance with the subthemes of this conference.  Abstracts could be written in English or Indonesian. The abstract consists of:

  • 300 – 400 words (including introduction, problem statement, purpose of research, methodology, key findings, state of the art),
  • Reference list
  • Typed at single space, using Times New Roman font size 10;
  • The margins at four sides should be set at 1 inch;
  • File Type: document (.doc, .docx, .rtf)
  • File Name: Topic Number_Title_Author Name
    example: 2_Cultural Adaptation_Sam Smith

Pra Event

Important Dates

18 Oktober - 07 november 2021

Call For Papper

08 - 14 november 2021

Abstract Review Process

15 - 26 November 2021

Video Presentation Submission

30 - 2 desember 2021

ICONIC 2021

02 - 17 DESEMBER 2021

Full Paper Submission for Proceeding Publication

Location

Online Conference

Phone & Email